fbpx

7 Cara Belajar Public Speaking dari Dasar sampai Jago: Proses Panjang, Tapi Hasil Permanen!

Public speaking

Tidak Suka Membaca? Nonton Videonya Aja!

Siapa sih yang tidak ingin bisa public speaking?

Zaman sekarang, public speaking merupakan softskill yang rasanya wajib dikuasai semua orang.

Setidaknya ada dua alasan.

Pertama, manusia merupakan makhluk sosial. Tentu sebagai makhluk sosial, akan ada saatnya ketika kita berbicara di depan banyak orang. Hal ini sangat penting agar pesan yang ingin kita sampaikan dapat dipahami dan diterima oleh banyak orang.

Kedua, berkaitan dengan zaman ini. Zaman sekarang, senjata seperti pistol, bom, pedang, pisau, dll hanya dimiliki oleh militer.

Akan tetapi, militer sekarang “nganggur” karena jarang melakukan peperangan fisik, paling kalaupun perang fisik hanya dengan mahasiswa yang sedang berdemo.

Zaman sekarang, penjajahan sudah dihapuskan oleh PBB. Oleh karena itu, peperangan militer relatif jarang terjadi.

Namun, sadarkah kamu bahwa sampai detik ini, peperangan tetaplah berjalan?

Tentu, peperangan yang dimaksud bukanlah perang yang dilakukan oleh militer.

Perang yang dimaksud ialah perang ilmu, ide, dan gagasan. Dengan ilmu, setiap negara bersaing untuk maju. Negara yang paling kaya ilmulah yang akan menang.

Akan tetapi… kita semua sadar bahwa ilmu ibarat pedang. Kemungkinan besar, pedang dengan bahan dasar terbaiklah yang akan menang. Tidak mungkin pedang yang terbuat dari kayu mampu mengalahkan pedang yang terbuat dari besi.

Namun, ada satu faktor lagi yang menentukan selain kualitas pedang, yaitu teknik penggunaan pedang. Percuma kalau pedangnya bagus, bahkan dibuat menggunakan material terpilih, tetapi tidak bisa diayunkan!

Seperti itulah public speaking. Belajar public speaking saat ini dapat diibaratkan dengan belajar teknik berpedang pada zaman perang dahulu. Bukankah tanpa public speakingkeinginan dan perasaanmu tidak akan sampai ke banyak orang?

Sebelum sampai ke inti materi, kamu perlu memahami “apa sih yang dimaksud dengan public speaking?

Menurut Julia T Wood, pakar komunikasi dan profesor dari University of North Carolina, Amerika Serikat, dalam bukunya yang berjudul Communication in Our Lives1Wood, J. T. (2018). Communication in Our Lives (8th ed.). Boston: Cengage Learning. public speaking adalah berbicara kepada banyak orang (dua atau lebih), yang disertai interaksi langsung (melihat audiens secara langsung, ada sesi tanya-jawab) antara pemberi pesan (pembicara/public speaker) dan penerima pesan (audiens).

Dalam bukunya, Prof. Julia T Wood juga menjelaskan miskonsepsi dalam pikiran kebanyakan orang tentang public speaking. Banyak orang yang menganggap bahwa public speaking hanyalah pembicaraan panjang (berjam-jam) yang dilakukan di hadapan keramaian (ratusan atau ribuan orang). Padahal, berbicara di hadapan lima orang selama dua menit saja sudah dapat disebut public speaking.

Nah, makanya saya bilang, public speaking merupakan softskill yang wajib dikuasai oleh semua orang.

Tidak harus muluk-muluk untuk presentasi di kantor kepada para pejabat, nongkrong di warung kopi bareng temen-temen pun juga perlu public speaking.

Kamu pasti ingin dong agar teman-temanmu mengetahui dan memahami apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan? Kamu pasti ingin dong bisa berdiskusi dengan teman-temanmu di tempat nongkrong?

Nah, itulah pentingnya public speaking.

Oh iya, sebelum masuk ke langkah-langkah belajar public speaking, ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, yaitu tingkatan atau level komunikasi.

Dari gambar di atas, kamu bisa melihat lima level komunikasi. Biar saya jelaskan kelima level komunikasi secara singkat:

  1. Komunikasi Intrapersonal: Komunikasi pada diri sendiri. Misalnya berkata dalam hati “aku adalah orang yang pandai bermain catur”
  2. Komunikasi Interpersonal: Komunikasi dengan satu orang. Misalnya ketika curhat dengan teman
  3. Komunikasi Publik: Komunikasi dengan banyak orang (dua atau lebih), yang masih memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara pemberi pesan  dan penerima pesan. Misalnya public speaking.
  4. Komunikasi Massa: Komunikasi kepada banyak orang tanpa ada interaksi langsung antara pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya menulis artikel ini atau berita-berita di televisi.
  5. Komunikasi Lintas Budaya: Komunikasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya. Misalnya diskusi antara orang Indonesia dengan orang Amerika Serikat.

Setelah melihat level komunikasi di atas, tentu kamu menyadari bahwa semakin tinggi levelnya, maka semakin sulit proses komunikasinya.

Dengan memahami level komunikasi, kamu akan menyadari bagaimana posisimu dalam melakukan public speaking, yaitu sedikit lebih sulit daripada ketika ngobrol berdua dengan teman, tetapi lebih mudah daripada ketika saya menulis artikel ini.

Penjabaran lebih detail akan saya jelaskan pada inti materi di bawah.

Sebelum masuk ke inti materi, sebaiknya kamu memahami betul teori level komunikasi di atas.

Dalam menjelaskan cara belajar public speaking secara lebih mendetail, saya akan cukup banyak menggunakan perspektif teori level komunikasi di atas. Akan agak sulit apabila kamu tidak memahami teori level komunikasi di atas.

Bagaimana? Sudah membaca ulang dan memahami lebih dalam tentang teori level komunikasi di atas?

Kalau sudah, silakan langsung masuk ke inti materi yang menjelaskan tentang 7 cara belajar public speaking sampai jago!

1. Memiliki Ilmu tentang Topik yang Dibicarakan

Poin ini merupakan syarat mutlak untuk melakukan public speaking.

Apa yang akan dibicarakan kalau kamu tidak punya ilmu tentang topik yang akan dibawakan?

Kalau kamu tidak punya ilmu tentang suatu topik, sebaiknya tidak usah berbicara.

Karena tidak mungkin bisa.

Mungkin bisa sih kalau sekadar ngomong, tapi malah hanya akan mempermalukan dirimu sendiri.

Hal ini sesuai dengan analogi di atas, bahwa ilmu bagaikan pedang, sedangkan public speaking ialah teknik menggunakan pedang.

Kalau pedangmu tidak bagus, maka pasti akan cepat patah, meskipun kamu mampu menggunakan teknik penggunaan pedang sehebat apapun.

Jadi, yang pertama kali harus kamu lakukan sebelum public speaking ialah menentukan topik yang sesuai dengan keahlianmu. Pilihlah “pedang” terbaik yang sudah kamu miliki.

Kalau kamu ingin berbicara tentang topik yang belum kamu kuasai, maka kamu harus belajar terlebih dahulu. Tidak ada cara lain untuk mengakomodasi poin ini.

Agar dapat belajar secara efektif dan efisien, silakan baca artikel sebelumnya yang berjudul Cerdas Berliterasi: Jangan Sampai Salah Belajar.

Mungkin kamu bertanya “Bagaimana kalau sedang nongkrong bersama teman-teman? Bukankah nongkrong tidak perlu ilmu yang dalam?”

Jawabannya, tergantung topik yang sedang dibicarakan.

Kalau topik pembicaraannya ialah keahlianmu, silakan berbicara sebanyak-banyaknya agar teman-temanmu mendapat manfaat dari ilmu yang kamu punya.

Tetapi kalau topik pembicaraannya tidak kamu pahami, lebih baik kamu diam. Kamu tidak ingin kan dicap “sok tahu” oleh teman-temanmu?

2. Mempelajari Struktur Bahasa

Selama saya sekolah dan kuliah, saya selalu punya guru dan dosen yang sangat pintar.

Ilmunya begitu luas, beliau bisa membicarakan suatu topik dengan sangat panjang, mulai dari penjelasan umum sampai ke detailnya.

Akan tetapi, saya perlu “tenaga ekstra” untuk mendengarkan beliau berbicara karena struktur bahasanya kurang rapih. Dari satu gagasan ke gagasan lain “terkesan” tidak nyambung. Bahkan, teman-teman sekelas saya pun selalu bilang kalau guru/dosen ini tidak jelas dalam mengajar.

Mungkin di sekolah atau kampusmu juga ada guru atau dosen yang serupa.

Padahal, guru/dosen tersebut hanya bermasalah pada struktur bahasa.

Pembicaraan tentang satu gagasan ke gagasan lain terkesan tidak nyambung “hanya” karena struktur bahasanya kurang rapih, sehingga pendengar harus “merapihkannya sendiri” dalam pikirannya agar bisa diterima oleh akalnya.

Ya, “hanya” karena struktur bahasa. Tetapi dampaknya sangat luar biasa negatif bagi dirinya dan audiens.

Banyak audiens yang enggan mendengarkan beliau karena pembicaraannya tidak indah di telinga, meskipun sebenarnya kontennya sangat kaya akan ilmu.

Masalah struktur bahasa ini paling sering dialami oleh banyak public speaker.

Penyebab utamanya ialah mereka tidak bisa menghubungkan satu gagasan ke gagasan lain dalam bentuk kata-kata, sehingga “terkesan” tidak nyambung.

Padahal sebenarnya nyambung, tetapi bahasanya saja yang kurang rapih.

Nah, ada dua cara untuk memperbaiki struktur bahasa seseorang. Dua cara ini berlaku pada semua bahasa, tidak hanya bahasa Indonesia.

Pertama, sering-sering membaca buku.

Bacalah buku yang ditulis sesuai Bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang struktur kalimatnya rapih dan indah (bahasa lain bisa menyesuaikan).

Biasanya, buku-buku seperti ini berasal dari penerbit-penerbit besar dengan proses editing yang ketat seperti Gramedia, Grasindo, Elex Media Komputindo, dll.

Sebagai public speaker, sering-seringlah membaca buku sembari menambah ilmu!

Akan tetapi… untuk melatih struktur bahasamu, buku tersebut jangan dibaca dalam hati.

Bacalah buku itu dengan keras! Supaya lidah dan telingamu juga terbiasa untuk berbicara dan mendengarkan kalimat sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mungkin kamu malas atau tidak suka membaca buku.

Pada era digital ini, informasi lebih sering disampaikan secara audio-visual (video), sehingga kebanyakan generasi milenial malas dan tidak suka membaca buku.

Kalau kamu merasa seperti itu… tidak apa-apa, masih ada cara kedua.

Cara kedua, yaitu menonton video dari public speaker yang andal.

Kamu bisa mengaksesnya dengan mudah melalui Youtube.

Biasanya, Youtuber dengan kemampuan public speaking yang andal strutkur kalimatnya sangat rapih

Bahkan, satu gagasan dengan gagasan lain sangat terhubung dengan indah, sehingga kumpulan gagasan tersebut terkesan sebagai satu kesatuan.

Jika kamu mendapati Youtuber yang seperti itu dan ingin belajar public speaking, tontonlah videonya! Lalu, perhatikanlah struktur bahasa yang mereka gunakan!

Secara pribadi, saya menyarankan tiga nama, yaitu Deddy Corbuzier, Pandji Pragiwaksono, dan Najwa Shihab. Bagi saya, ketiganya sudah sangat pandai dalam melakukan public speaking.

Tiga nama itu hanyalah saran saya, mungkin kamu tidak suka dengan mereka dan punya nama lain yang lebih cocok denganmu. It’s okay.

Yang jelas, siapapun mereka (asalkan memiliki kemampuan public speaking yang baik), perhatikanlah struktur bahasa yang mereka gunakan!

Oh iya, perlu ditekankan bahwa dua cara ini (membaca buku dan menonton video) bukanlah metode yang terpisah loh!

Akan lebih sempurna jika kamu mempelajari keduanya

Jadi, kalau kamu malas membaca buku, maka usahakanlah! Meskipun hanya sedikit, saya yakin akan membawa dampak besar bagi kemampuanmu dalam berbahasa.

3. Belajar Logika

Dalam level komunikasi, komunikasi interpersonal ada pada tingkat 2, sedangkan komunikasi publik ada pada tingkat 3. Selisih satu tingkat karena perbedaan dan tingkat kesulitannya tidak terlalu jauh.

Selain dari segi jumlah penerima pesan, ada satu faktor lain yang membedakan keduanya, yaitu intensitas interaksi langsung

Dalam komunikasi interpersonal, interaksi langsung berjalan dengan sangat intens dan dalam.

Kamu bisa menggunakan bahasa nonverbal dengan sangat leluasa dengan lawan bicara, bahkan hingga melakukan sentuhan dan bahasa-bahasa khusus yang hanya diketahui oleh kalian berdua. Apalagi jika kalian berdua sudah sangat kenal dekat.

“Ajaibnya”, komunikasi tetap berlangsung dengan lancar dan pesan pun dapat diterima dengan baik.

Tetapi dalam komunikasi publik, atau lebih spesifik lagi, public speaking, interaksi langsung memang berjalan, tetapi tidak terlalu intens dan dalam.

Kamu memang masih bisa menggunakan bahasa nonverbal, tetapi dengan terbatas. Kamu hanya bisa menggunakan bahasa-bahasa nonverbal “besar” (yang terlihat jelas), seperti mengangkat bahu, mengangkat tangan, menggerakkan kepala, dan lain-lain.

Sulit bagi audiens untuk menyadari bahasa-bahasa nonverbal kecil seperti ekspresi wajah, mengangkat alis, dan lain-lain (memang, tergantung besarnya tempat dan jumlah audiens. Tetapi secara umum, relatif lebih sulit daripada komunikasi interpersonal).

Oleh karena itu, kamu perlu pandai berbicara sesuai logika, karena logika merupakan cara pikir umum yang bisa dilakukan oleh semua orang.

Pada artikel sebelumnya yang berjudul 7 Cara Berpikir Kritis untuk Mencari Kebenaran, saya berulang kali mengatakan bahwa makna dari kata-kata lebih penting daripada kata-kata itu sendiri. Dijelaskan juga bahwa sesuai logika belum tentu benar dan logika hanyalah salah satu cara berpikir untuk mencari kebenaran, tetapi logika bukanlah kebenaran itu sendiri.

Terkesan bahwa saya “menjilat ludah” saya sendiri

Akan tetapi, public speaking dan berpikir merupakan dua hal yang berbeda.

Berpikir merupakan tahap satu dalam level komunikasi, yaitu komunikasi intrapersonal.

Dalam konteks berpikir, logika memanglah tidak begitu penting. Kebenaran yang masuk akal jauh lebih penting daripada logika.

Namun dalam konteks public speaking, logika sangatlah penting untuk menyampaikan pesanmu kepada orang lain.

Mengapa logika itu penting dalam public speaking? Setidaknya ada dua alasan.

Pertama, logika merupakan cara pikir umum yang bisa dilakukan oleh semua orang.

Dengan pandai beretorika atau berbicara sesuai logika, maka kamu dapat berkomunikasi kepada siapapun.

Kedua, logika bersifat konkrit, sedangkan masuk akal bersifat abstrak.

Logika memiliki kaidah pasti yang jelas (misalnya, silogisme). Sedangkan masuk akal adalah pemahaman yang ada dalam akal seseorang.

Biar saya beri contoh

Logika (Silogisme)

Premis Mayor: Andi terlihat pucat

Premis Minor: Pucat merupakan ciri seseorang terkena penyakit tifus

Kesimpulan: Andi menderita penyakit tifus

Masuk Akal

Andi menderita tifus karena memang terlihat demikian

Nah sekarang, kita terjemahkan contoh di atas menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Lalu, saya tambahkan dua tokoh fiktif, yaitu Dokter Abdul dan Dokter Budi. Anggaplah kedua dokter ini sama-sama sudah melakukan pemeriksaan yang hasilnya ialah Andi terkena tifus. Kedua dokter ini sedang berbicara (public speaking) kepada seluruh anggota keluarga pasien yang merupakan orang awam (bukan dokter dan tidak mengerti kesehatan sama sekali).

Dokter Abdul: “Melihatnya saja, kita sama-sama tahu kalau Andi terlihat pucat. Biasanya, orang yang sedang tifus memang terlihat pucat seperti ini. Nah, saya mendiagnosis bahwa Andi menderita penyakit tifus”

Dokter Budi: “Andi menderita penyakit tifus karena terlihat begitu. Saya tahu kok. Saya kan dokter.”

Nah, kata-kata tokoh fiktif mana yang lebih indah didengarkan? Dokter Abdul atau Dokter Budi? Tentu saja Dokter Abdul. Dalam konteks public speaking, kalimat yang diucapkan Dokter Budi sangatlah buruk dan tidak bisa diterima oleh keluarga dari Andi (audiens).

Seperti itulah peran logika dalam public speaking.

Secara psikologis, orang akan lebih mudah menerima ungkapan yang sesuai logika daripada yang hanya masuk akal, tetapi tanpa penjabaran secara logika.

Kebenaran yang masuk akal, biarlah kamu simpan sendiri dalam pikiranmu.

Namun ketika menyampaikan kebenaran dalam pikiranmu kepada orang lain, susunlah kalimatnya agar sesuai dengan logika, sehingga lebih mudah diterima.

Untuk belajar logika, memang idealnya kamu membeli dan membaca buku tentang “Filsafat Logika”. Buku tentang ini sangat mudah didapati di toko online seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Atau… kamu bisa juga belajar dari buku-buku internasional (berbahasa Inggris) yang bisa kamu download secara gratis. Silakan pelajari caranya di artikel sebelumnya yang berjudul: Cerdas Berliterasi: Jangan Sampai Salah Belajar!

Namun setidaknya, sangat minimal sekali apabila kamu mempelajari logika dari  halaman Wikipedia yang tentang Silogisme ini (SANGAT TIDAK DISARANKAN. Sebaiknya kamu belajar dari sumber yang lebih baik [misalnya, buku, ahli, dll] apabila kamu ingin menjadi public speaker yang andal!).

4. Menyusun Alur Materi

Jika public speaking yang kamu lakukan cuma 2 menit, mungkin alur pembicaraan tidak terlalu penting. Logika sederhana cukup untuk membuat alur pembicaraan menjadi rapih dan indah didengar.

Akan tetapi, jika kamu diminta untuk menjadi pengisi suatu seminar selama satu jam, maka memiliki alur materi sangatlah krusial

Tentu saja, kamu tidak mungkin bisa menyusun alur pembicaraan dengan terstruktur dan sistematis apabila tidak memiliki kemampuan berlogika yang baik. Alur seperti apa yang akan kamu susun kalau logikanya cacat?

Oleh karena itu, kuasailah kemampuan berlogika dengan baik sebelum menyusun alur pembicaraan.

Namun, logika yang dimaksud bukanlah silogisme seperti poin nomor 3.

Logika yang dimaksud ialah ketersinambungan antara setiap bagian materi.

Tentu, kalau kamu menjadi pembicara selama 30 menit, maka materi yang kamu bawakan pasti terdiri dari beberapa bagian.

Oleh karena itu, setiap bagian harus nyambung. Jangan sampai pendengar bingung dengan arah pembicaraanmu yang ngalor-ngidul.

Setidaknya, alur pembicaraan yang terstruktur dan tidak membuat audiens bingung terdiri dari empat tahap:

A. Pendahuluan

Pembuka adalah latar belakang dari topik yang kamu bawakan agar pendengar punya alasan untuk mendengarkanmu dan memahami konteks dari pembicaraan setelahnya.

Saat public speaking di tempat nongkrong, tahap ini tidak diperlukan karena latar belakang pasti sudah terbentuk secara alamiah. Namun apabila kamu menjadi pembicara seminar, kamu harus membuat latar belakang itu sendiri karena tidak mungkin terbentuk secara alamiah. Bagaimana bisa terbentuk secara alamiah kalau antar pendengar saja tidak kenal?

B. Definisi Topik yang Akan Dibahas

Selanjutnya, jelaskan definisi dari topik yang akan dibahas. Tahap ini penting agar seluruh pendengar memiliki persepsi yang sama tentang topik yang akan dibahas. Misalnya, topik yang dibahas adalah “bisnis” maka bisa jadi setiap orang memiliki definisi “bisnis” yang berbeda-beda. Ada yang bilang bisnis itu “bermanfaat bagi orang lain”, “membangun perekonomian negara”, “yang penting untung”, dan sebagainya. Oleh karena itu, kamu perlu menjabarkan definisinya kepada audiens agar pikiran kalian “satu frekuensi”.

C. Pembahasan (Inti Materi)

Nah, inilah inti dari alasan mengapa kamu melakukan public speaking. Isi dari tahap ini sangat tergantung dari seberapa dalam ilmu yang kamu punya. 

D. Penutup

Penutup haruslah berisi tentang kesimpulan seluruh isi pembicaraanmu agar pendengar tidak pulang dengan “kepala kosong”. Selain itu, penutup juga membuat pendengar lebih mudah mengingat kembali materi yang telah kamu sampaikan.

Keempat tahap di atas memanglah tidak saklek dan bisa berubah sesuai dengan kondisi. Yang jelas, tahap inti materi pasti ada! (yaiyalah, ngapain ngomong kalau ga ada inti materinya?). Namun, keempat tahap di atas tetap penting dipahami agar kamu memiliki pedoman baku dalam menyusun materi.

Supaya kamu bisa menyusun materi beserta alurnya dengan lancar, asumsikanlah bahwa pendengarmu adalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Hal ini penting agar kamu bisa menyusun materi dengan leluasa sehingga isi materinya pun bisa ditulis secara lebih mendetail.

Di samping itu, bisa jadi juga kalau pendengarmu memang benar-benar bodoh. Maka tugasmu sebagai public speaker-lah yang memberikan ilmu kepada mereka.

Ohiya, alur materi yang disusun cukup diingat garis besarnya saja, jangan kata per kata. Kata per kata tidak mungkin dihapalkan karena pasti akan menyesuaikan dengan kondisi audiensnya.

Selain itu, dalam melakukan public speaking, kamu tidak perlu takut salah. Apabila terjadi salah bicara, kamu bisa langsung membenarkan pembicaraanmu di tempat. 

Itulah yang membedakan komunikasi publik (public speaking) dengan komunikasi massa (misalnya, menulis artikel ini).

Dalam menulis artikel ini, saya dituntut untuk tidak melakukan kesalahan dalam pengetikan. Susunan katanya pun harus rapih. Kalau tidak, maka pembaca akan sulit memahami isi artikel ini. Oleh karena itu, saya selalu membaca ulang dan melakukan editing sebelum mem-posting artikel baru.

Tetapi public speaking sedikit lebih mudah, kesalahan lebih ditoleransi dan kamu bisa langsung membenarkannya seketika itu juga.

Gimana? Sudah paham caranya menyusun alur materi? Atau masih bingung?

Okedeh, supaya lebih mudah, biar saya beri contoh pastinya:

Berikut adalah contoh alur materi public speaking yang saya susun tentang “Cara Berpikir Kritis”

A. Pendahuluan

– Bercerita tentang tokoh-tokoh yang bisa berpikir kritis (misalnya, Rocky Gerung, BJ Habibie, dll) sambil bertanya kepada audiens “Apakah kalian mau seperti mereka?”

– Menjelaskan tentang masalah bahwa netizen zaman sekarang sangat tidak kritis dalam berpikir. Omongannya cenderung bersifat emosional dan destruktif.

– Kita semua harus mampu berpikir kritis agar jeli dalam melihat sesuatu fenomena dan bisa menjadi netizen yang baik.

B. Definisi Topik

– Berpikir kritis adalah suatu cara berpikir untuk mencari mendekati kebenaran. Manusia tidak mungkin benar secara mutlak karena kebenaran mutlak hanya milik Tuhan.

C. Inti Materi

(Isi dari artikel 7 Cara Berpikir Kritis untuk Mencari Kebenaran)

D. Penutup

– Dalam melihat suatu fenomena, berusahalah berpikir sendiri, berdiskusi dengan orang lain, dan mencari bukti terlebih dahulu.

– Jangan pernah tertipu dengan “tampilan luar” suatu pembicaraan, yang penting esensinya!

– Sesuai logika belum tentu berarti benar!

Nah, berpegang pada alur penyampaian materi di atas, saya sudah siap menjadi pembicara dalam seminar “Cara Berpikir Kritis”.

Tuh, udah saya kasih contoh konkritnya. Masih bingung juga? Silakan hubungi saya melalui email atau tanyakan di kolom komentar.

5. Mengenali Karakteristik Audiens

Idealnya, karakteristik audiens sudah kamu ketahui sebelum naik ke atas panggung.

Namun, bukan tidak mungkin juga apabila kamu baru mengenali audiens setelah naik ke atas panggung.

Ohiya, yang dimaksud karakteristik audiens bukan kepribadian setiap orang secara detail dan mendalam loh ya!

Karakteristik audiens yang dimaksud ialah cukup ciri-ciri umum seperti rata-rata usia, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, agama mayoritas, dll.

Itu sudah sangat membantu sekali.

Makanya sudah saya bilang pada poin 4 bahwa dalam menyusun alur materi, cukup garis besarnya saja, tidak usah kata per kata.

Kata per kata akan menyesuaikan dengan audiens.

Yang penting, esensi dari yang kamu bicarakan bisa dipahami oleh audiens.

6. Mempelajari Teknik-Teknik Public Speaking.

Teknik-teknik yang dimaksud seperti bahasa nonverbal, intonasi suara, dll

Saya tidak akan membahasnya secara panjang lebar.

Sudah banyak sumber lain yang membahas ini. Kamu bisa mencarinya sendiri di Google, Youtube, atau buku.

Sebenarnya, teknik-teknik ini tidak terlalu penting. Kecuali jika kamu benar-benar ingin menjadi public speaker profesional (misalnya host, presenter, MC, dll)

Tidak berpengaruh pada esensi public speaking. Hanya akan membuat public speaking yang kamu lakukan terlihat sedikit lebih indah.

Saya yakin, kalau kamu sudah menguasai poin 1 sampai 5, kamu pasti sudah bisa melakukan public speaking dengan baik.

Bahkan, teknik-teknik public speaking sebenarnya bisa kamu pelajari sendiri secara alamiah ketika kamu mencoba melakukannya. Tentu, tubuhmu akan “bergerak sendiri” dan tidak mungkin diam saja selagi mulutmu sedang berbicara. Itulah reaksi alamiah manusia.

Namun, setidaknya ada tiga teknik dasar yang ingin saya sampaikan

Volume Suara

Dalam melakukan public speaking, berbicaralah dengan keras. Jangan sampai ada audiens yang tidak bisa mendengar suaramu.

Selain itu, kerasnya suara juga melambangkan bahwa kamu yakin terhadap ucapanmu sendiri.

Tatapan Mata

Tataplah audiens dengan yakin.

Jangan malah melihat ke langit-langit dan ke lantai. Tatapan seperti itu sangat tidak enak untuk dilihat. Seakan dirimu “tidak sedang bersama” dengan audiens.

Ekspresi Wajah

Sesuaikan ekspresi wajah dengan konteks pembicaraan.

Jika sedang bercanda, silakan senyum dan tertawa.

Jika sedang serius, tampilkanlah ekspresi serius.

Jika sedang membahas bencana, tampilkanlah ekspresi sedih.

Jika sedang membahas kekejian, tampilkanlah ekspresi marah.

Yang penting… tampilkanlah ekspresi yang normal, sesuai norma sosial yang ada.

Jangan sampai audiens kebingungan terhadap ekspresimu yang tidak biasa.

Sudah. Tiga teknik dasar itu saja yang ingin saya tekankan.

Jika ingin belajar teknik public speaking lebih dalam, silakan belajar dari sumber lain.

Bagi saya, tiga teknik dasar di atas sudah sangat cukup.

7. Terus Mencoba

Pepatah bilang bahwa pengalaman adalah guru terbaik

Hal ini sangat berlaku di public speaking.

Kalau kamu terus mencoba, akan ada banyak pelajaran yang bisa kamu ambil.

Lebih berharga dari kata-kata seorang guru. Lebih bermakna daripada seluruh isi artikel ini.

Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk mencoba!

Tapi tentu saja, kamu harus belajar dulu! Setidaknya kuasailah enam poin yang telah saya sampaikan di atas.

Saya tahu, poin-poin di atas memang membutuhkan waktu yang lama untuk dipelajari. Apalagi sampai harus belajar logika dan bahasa.

Padahal, logika dan bahasa sangat penting dikuasai apabila seseorang ingin pandai berbicara. Apakah kamu pernah melihat public speaker andal yang tidak pandai berlogika dan berbahasa? Tidak akan pernah!

Proses belajar public speaking yang dijelaskan dalam artikel ini memang memerlukan waktu yang sangat panjang. Namun saya jamin, hasilnya pasti permanen, jika kamu sungguh-sungguh ingin belajar.

Oke, cukup sekian dari saya. Jika ingin berdiskusi atau mengajukan pertanyaan, bisa langsung tulis di kolom komentar.

Selamat Berpikir Ulang!

Versi Lain:

  1. Ilmu Bagaikan Pedang, Berbicara Bagaikan Teknik Berpedang
  2. Ingin Lancar Berbicara di Depan Banyak Orang? Kuasailah 3 Ilmu Ini!
  3. Lancar Berbahasa Berarti Lancar Berbicara
  4. Belajar dari Rocky Gerung Mengenai Seni Memikat Audiens dengan Retorika Logika
  5. Pentingnya Bagian Pengantar dalam Menyampaikan Pesan kepada Banyak Orang
The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Trackbacks & Pingbacks (1)

  1. hari#10KelasKepompong – Madrasatul Awla

Leave a comment

Your email address will not be published.


*