fbpx

7 Cara Berpikir Kritis untuk Mencari Kebenaran

Cara Berpikir Kritis

Pernahkah kamu merasa ingin mempertajam cara berpikirmu menjadi lebih kritis?

Mungkin karena kamu merasa kurang pandai? Kurang bisa memahami apa yang kamu lihat? Kurang memahami apa yang disampaikan orang lain?

Mungkin juga kamu pernah bertanya apakah orang lain menyampaikan pesan dengan tulus dan masuk akal? Ataukah orang tersebut punya maksud lain di baliknya?

Selain itu, mungkin kamu juga penasaran ketika melihat ada orang yang daya pikirnya sangat kritis sekali. Apapun dibicarakan olehnya. Bahkan, penjelasannya pun sangat mengagumkan dan mampu diterima dengan mudah secara masuk akal.

Oleh karena itu, kamu pun penasaran “apa yang sebenarnya ada di dalam kepalanya?”

Tenang. Artikel ini akan membahas semuanya secara rinci.

Yang jelas, ini bukan soal kecerdasan atau IQ saja.

Berpikir kritis merupakan softskill yang bisa dilatih, baik setelah membaca seluruh artikel ini maupun pada praktiknya nanti di kehidupan nyata.

Yang jelas, sebelum praktik, tentu kita harus punya bekal teori dulu dong? Apa yang mau dilakukan kalau tidak ada bekal ilmu yang akan diterapkan?

Bekal teorinya ada banyak. Bekal fisik ada, bekal psikis juga ada. Tapi lebih banyak bekal psikisnya. Semuanya harus dipelajari dan diterapkan agar pikiran kita selalu kritis dalam memandang suatu fenomena.

1. Persiapan Fisik

Inilah satu-satunya bekal fisik yang ada dalam artikel ini.

Bekalnya simpel kok, setiap manusia pasti melakukannya setiap hari

Apakah itu? Makan dan tidur

Jadi, kalau mau berpikir kritis, makan dulu yang banyak. Tidur dulu yang cukup.

“Ah yang bener gitu doang?” Tentu tidak literally gitu doang, dong. Masih ada enam cara lain yang perlu kamu terapkan untuk berpikir kritis.

Akan tetapi, inilah langkah pertama yang menjadi syarat untuk berlanjut ke enam langkah selanjutnya.

Kalau kamu kurang makan dan kurang tidur, lupakan saja untuk berpikir kritis. Secara fisiologis, otakmu ga akan sanggup untuk diajak berpikir kritis.

Ga percaya? Nih deh, saya kasih bukti yang berupa data yang berasal dari hasil penelitian di Tufts University, Amerika Serikat. Tabelnya saya buat secara sederhana biar lebih mudah dipahami. Kalau mau versi lengkapnya, silakan lacak sumber di catatan kaki1Mahoney, C. R., Taylor, H. A., Kanarek, R. B., & Samuel, P. (2005). Effect of breakfast composition on cognitive processes in elementary school children. Physiology & Behavior, 85(5), 635–645.. Penelitian dilakukan untuk membandingkan performansi berpikir antara orang-orang yang belum makan dan sudah makan. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan

Dari data di atas, terlihat bahwa kemampuan mengingat memang tidak jauh berbeda antara yang sudah makan (skor 5) dan belum makan (skor 4). Namun pada kenyataannya, tentu kemampuan mengingat yang “sedikit” lebih baik ketika sudah makan dapat membantu kamu menyelesaikan masalah sehari-hari.

Nah, perbedaan yang parah ada pada tingkat konsentrasi.  Yang sudah makan memiliki skor 7, sedangkan yang belum makan skornya hanya 4. Kalau konsentrasi aja sulit, gimana mau kritis dalam berpikir?

Setiap aktivitas yang dilakukan manusia pasti dilakukan dengan berpikir. Karena memang itulah yang membedakan manusia dengan hewan: manusia bisa mikir. Hewan ga bisa mikir, cuma ngikutin instingnya.

Nah, kalau berpikirnya aja ga maksimal, gimana hasil dari aktivitas kita mau maksimal?

Jadi, yuk makan secara teratur! Ga cuma buat perut, tapi juga buat otak. Oh iya, ini baru ngomongin fisik (otak) loh! Belum ngomongin psikologi.

Selain itu, jangan lupa tidur yang cukup. Dalam mendukung proses berpikir, tidur ga kalah penting dengan makan. Ga percaya? Nih, saya kasih data lagi dari penelitian di Clemson University, Amerika Serikat. Seperti biasa, data yang disajakan ialah data yang saya sajikan secara sederhana agar mudah dipahami. Kalau ingin lihat yang lebih detail, silakan lacak sumber di catatan kaki2Pilcher, J. J., & Walters, A. S. (1997). How Sleep Deprivation Affects Psychological Variables Related to College Students’ Cognitive Performance. Journal of American College Health, 46(3), 121–126.. Penelitian tersebut sangat sesuai dengan topik artikel ini karena langsung mengukur tentang kemampuan berpikir kritis.

Dari data di atas, kita bisa melihat skor kemampuan berpikir kritis yang sangat jauh antara yang cukup tidur (6 – 8 jam; skor 39) dan kurang tidur (kurang dari 4 jam; skor 25). Jadi, mau sering begadang tapi ingin pikiran tetap kritis? Secara empirik, hal itu sangatlah mustahil.

Namun, bukan berarti kamu tidak boleh begadang sama sekali. Sebenarnya, tidak apa-apa begadang, asalkan ketika begadang, kamu mengerjakan aktivitas yang penting dan bermanfaat.

2. Jangan Pernah Percaya pada Siapapun

Untuk menjadi orang yang berpikir kritis, kamu tidak boleh percaya kepada siapapun. Maksudnya percaya pada siapapun secara mutlak karena tidak ada pendapat seseorang yang 100% benar.

Ada sih yang benar, yaitu apabila membahas tentang sesuatu yang konkrit. Misalnya, “berapakah hasil dari 2+2?” Tentu, pertanyaan konkrit seperti ini ada jawaban benarnya. Apabila ada yang menjawab selain 4, maka dia dianggap bodoh. Tidak ada “2+2 menurut Ahmad” atau “2+2 menurut Budi”

Lain ceritanya apabila pembahasannya bersifat abstrak. Misalnya, “Bagaimana pendapatmu tentang kondisi Indonesia saat ini?” Tentu, 1000 orang akan memiliki 1000 jawaban pula karena tidak ada dua orang yang sama persis, meskipun mereka merupakan saudara kembar identik.

Sebaliknya, dapat disimpulkan bahwa setiap individu merupakan makhluk yang unik. Oleh karena itu, pendapat setiap orang bersifat unik dan patut dihargai.

Akan tetapi… ada satu hal penting yang patut dicermati, yaitu argumen yang mendasari pendapat seseorang. Jadi, apapun yang orang lain katakan, lihatlah alasan yang membuatnya berpendapat demikian. Apakah alasannya realistis dan masuk akal? Jika iya, maka pendapat tersebut patut dipercaya. Jika tidak, maka sebaiknya kamu tidak perlu mendengarkan yang demikian.

Oleh karena itu, jika kamu menemui seseorang yang membuat penyataan (yang menurutmu) bodoh, misalnya “bekerja keras itu tidak perlu kerja sama”, sebaiknya kamu menanyakan “mengapa kamu berkata seperti itu?” Jika dia adalah atlet bulu tangkis single dan ternyata pendapatnya itu spesifik membahas konteks olahraga bulu tangkis single, maka pernyataan dia dapat dikatakan “benar”.

Sebaliknya, dalam menyatakan pendapat, selalu sertakan argumen kuat yang mendukung pendapatmu. Pendapat hanyalah omong kosong apabila tidak disertai dengan alasan yang kuat.

3. Percaya pada Akal Sehatmu Sendiri

Siapa lagi yang akan mempercayaimu lebih dari dirimu sendiri?

Gunakanlah seluruh pancainderamu untuk melihat, meraba, menghirup, mengecap, dan mendengar.

Berusahalah untuk melihat langsung tentang apa yang ingin kamu ketahui. Pancainderamu merupakan organ tubuh alami yang langsung diciptakan Tuhan untuk memperoleh informasi.

Akan tetapi… bukan apapun yang langsung terbesit dalam pikiranmu langsung kamu percayai begitu saja dengan alasan “Ini kan dari Tuhan! Tuhan sudah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna”.

Kalau seperti itu, namanya tidak kritis.

Manusia itu makhluk yang kompleks. Isinya ga cuma akal sehat yang bisa bernalar secara rasional dan masuk akal.

Ingat, manusia juga makhluk emosional. Seringkali apa yang terbesit dalam benak kita sudah tercampur oleh perasaan-perasaan yang bersifat tidak rasional.

“Lah terus, gimana caranya percaya pada akal sehat?”

Hanya ada satu cara, yaitu memastikan bahwa apa yang kamu pikirkan memiliki alasan yang kuat.

Sekilas, ini memang mirip poin nomor 2. Dari poin nomor 2, kamu sudah belajar untuk mendengarkan pendapat orang lain apabila pernyataannya memiliki argumen yang kuat.

Nah, sekarang berlakukan poin nomor 2 pada dirimu sendiri. Itulah poin nomor 3, yaitu Percaya pada Akal Sehatmu Sendiri.

Dengan kata lain, kamu harus berhati-hati pada perasaan-perasaanmu sendiri. Jangan sampai perasaan-perasaanmu malah mengacaukan akal sehatmu.

Saya tidak melarangmu untuk mengikuti perasaan loh! Tuhan memang telah menciptakan perasaan dalam hati manusia dengan segala ketidakrasionalannya. Itu normal. Malah kalau kamu ga punya perasaan, bisa jadi kamu terkena alexithymia, yaitu gangguan jiwa ketika seseorang tidak bisa merasakan perasaannya sendiri3https://en.wikipedia.org/wiki/Alexithymia. Nah, malah serem kan?

Akan tetapi… ikutilah dan sampaikanlah perasaanmu secara rasional. Secara tidak sadar, manusia pasti akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaannya.

“Loh, kalau begitu jadinya ga objektif dong?”

Ya, memang. Sejak kapan manusia bisa objektif, kecuali kalau membahas sesuatu yang bersifat konkrit seperti yang telah dijelaskan pada poin nomor 2?

Manusia pasti subjektif, tetapi subjektivitas tersebut dapat diminimalisasi dengan menyertakan alasan kuat pada pernyataanmu. Inilah yang menyebabkan kenapa “1000 kepala akan menghasilkan 1000 pemikiran yang berbeda”. Bahkan, sangatlah mungkin apabila 1000 orang yang membaca artikel ini akan menghasilkan 1000 penafsiran pula.

4. Cari Bukti Pendukung tentang Hasil Pemikiranmu

Udah paham kan kalau “sepandai-pandainya manusia, pasti akan selalu bersifat subjektif”?

Kalau belum, coba baca ulang poin nomor 2 dan 3. Lalu, pikirkan kembali secara baik-baik.

Sudah? Oke, lanjut ya!

Nah, untuk mendukung pemikiranmu dengan segala kesubjektifan yang ada, kamu perlu mencari bukti-bukti yang mendukung hasil pemikiranmu.

Dengan kata lain, kamu sedang mengkritisi pemikiranmu sendiri. Kamu sedang ragu pada pikiranmu sendiri dan memastikan apakah pemikiranmu sudah benar atau belum.

Oleh karena itu, kamu memerlukan bukti yang kuat agar yakin bahwa pendapatmu sudah paling dekat dengan kebenaran.

Ohiya, perlu ditekankan sekali lagi. Yang kamu cari ialah bukti ya.

Ya, bukti, bukan sekadar mencari orang-orang yang memiliki pendapat sama denganmu.

Biasanya, ketika mencari bukti, kebanyakan orang malah mencari orang-orang yang sependapat dengannya. Semakin banyak orang yang sependapat, maka semakin yakin bahwa kamu benar. Padahal, belum tentu!

Memang, mencari orang-orang yang sependapat dengan kamu juga dapat disebut bukti. Namun… kamu perlu hati-hati.

David G. Myers dan Jean M. Twenge dalam bukunya yang berjudul Exploring Social Psychology4Myers, D. G., & Twenge, J. M. (2018). Exploring Social Psychology (8th ed.). New York: McGraw-Hill. menjelaskan bahwa pada manusia ada yang disebut dengan efek similaritas.

Efek similaritas membuat manusia menyenangi seseorang yang memiliki kesamaan dengannya, termasuk kesamaan pemikiran.

Nah, kalau kamu sudah terkena efek similaritas ini, nanti pikiranmu jadi bias. Kamu bakal merasa bahwa pendapatmu sudah benar, lalu orang-orang yang sependapat denganmu mengonfirmasi kebenaranmu.

Padahal… “Sesuatu belum tentu dikatakan benar hanya karena banyak orang yang melakukannya”

Nah, untuk mengantisipasi efek similaritas yang bisa mengakibatkan bias pikiran, maka kamu perlu bentuk bukti yang lain

Bukti yang bukan sekadar karena banyak orang yang melakukannya

Namanya bukti kausalitas, yaitu bukti yang menjelaskan dinamika sebab-akibat dari argumenmu.

Saya beri contoh agar lebih mudah untuk dipahami

Misalnya, kamu berpendapat bahwa “Negara Indonesia menjadi lebih maju semenjak era Presiden Ir. H. Joko Widodo”, maka yang kamu lakukan bukanlah mencari kumpulan fans Pak Jokowi yang berpendapat serupa.

Kamu perlu mencari bukti yang menjelaskan mengapa Negara Indonesia dapat dikatakan maju semenjak era Presiden Ir. H Joko Widodo?

Misalnya, survei-survei yang membuktikan bahwa angka kemiskininan berkurang sekian persen, pengangguran berkurang sekian persen, harga pangan menjadi lebih murah. Nah, ketiga data ini yang perlu kamu cari. Kamu perlu bukti bahwa pendapatmu benar

Itulah yang disebut berpikir kritis.

“Kalau ternyata data-data yang ditemukan malah mengatakan sebaliknya, bagaimana? Malah ditemukan bahwa kemiskinan bertambah, pengangguran bertambah, dan harga pangan jadi lebih mahal?”

Ya bagus dong! Berarti kamu telah membantah asumsimu sendiri

Itulah yang disebut berpikir kritis.

Karena jika yang kamu temukan malah sebaliknya, maka itu berarti kamu tidak terjebak dalam kebodohan. Kamu telah berusaha menemukan bukti yang mengarahkanmu pada kebenaran. Oleh karena itu, kamu seharusnya bangga pada dirimu sendiri.

5. Kamu Tidak 100% Benar

“Loh? Poin nomor 5 ini maksudnya gimana? Kan saya sudah susah-susah melakukan riset untuk mencari bukti tentang pendapat saya?”

Ya, memang benar. Tapi bukan berarti kamu sudah memiliki kebenaran mutlak layaknya Tuhan.

Maksud dari poin ini ialah kamu harus selalu terbuka kepada pendapat-pendapat lain.

Dengan kata lain, pendapatmu bisa saja terbantahkan apabila ada pendapat lain yang lebih kuat dan lebih masuk akal.

Begitulah cara hidup manusia. Begitulah cara peradaban manusia berkembang

Cobalah tengok cendekiawan-cendekiawan terdahulu. Baik ketika era filsuf Yunani pada tahun sebelum masehi, maupun ketika zaman ilmuwan-ilmuwan kuno terdahulu pada tahun 1500-an.

Saat ini, banyak pemikiran dan penelitian cendekiawan-cendekiawan terdahulu yang telah terbantahkan oleh ilmuwan masa kini.

Sebutlah Teori Abiogenesis yang pertama kali dicetuskan oleh Aristoteles sekitar tahun 350 SM5https://id.wikipedia.org/wiki/Abiogenesis. Teori Abiogenesis menyatakan bahwa sesungguhnya makhluk hidup berasal dari benda mati. Pemikiran ini berasal dari pengamatan Aristoteles ketika melihat munculnya ikan dan cacing ketika hujan. Aristoteles berpikir bahwa cacing dan ikan yang muncul ketika hujan berasal dari tanah berubah menjadi wujud ikan dan cacing.

Tentu, teori tersebut sangatlah aneh apabila dipikirkan pada zaman ini. Akan tetapi, sampai abad ke-17, masih banyak ilmuwan yang mempercayai Teori Abiogenesis6https://id.wikipedia.org/wiki/Abiogenesis, sampai akhirnya Teori Abiogenesis dibantah secara empirik oleh ilmuwan-ilmuwan yang muncul setelahnya.

Dari kisah tentang Teori Abiogenesis, kita bisa belajar bahwa sekuat apapun pendapat seseorang, akan dapat terbantahkan oleh orang lain yang memiliki argumen yang lebih kuat.

Tentu, Aristoteles mencetuskan Teori Abiogenesis tidaklah “asal ngomong”. Aristoteles telah melakukan riset terlebih dahulu untuk membuktikan pemikiran-pemikirannya. Sampai akhirnya, dia menulis buku yang berjudul Historia Animalium dan membuat pernyataan7https://id.wikipedia.org/wiki/Abiogenesis:

“Nah terdapat satu sifat hewan yang ternyata sama dengan tumbuhan. Karena beberapa tumbuhan dihasilkan oleh benih tumbuhan, sementara tumbuhan yang lain muncul sendiri dari pembentukan suatu prinsip elemental yang menyerupai benih; dan tumbuhan yang jenis kedua inipun ada yang menyerap gizi dari tanah dan ada yang tumbuh di dalam tumbuhan lainnya sebagaimana dideskripsikan dalam traktat saya mengenai Botani. Maka hewan juga ada yang dilahirkan oleh hewan induk yang sejenis, sementara yang lainnya tumbuh secara spontan dan bukan dari makhluk yang sejenis”

“Belut tidak dihasilkan melalui persetubuhan, tidak pula ovipar. Tidak pernah ada belut yang ditangkap yang memiliki cairan sperma ataupun telur; tidak pernah pula ditemukan belut yang memiliki saluran ataupun saluran telur. Bahkan, semua jenis makhluk hidup berdarah ini tidak dihasilkan melalui senggama ataupun bertelur. Hal ini secara absolut diperjelas oleh hal berikut ini: di genangan rawa tertentu, setelah semua airnya dibuang dan lumpurnya dikuras, belut-belutnya muncul kembali setelah turunnya hujan”

Namun sekarang, kita bisa “menertawakan” Teori Abiogenesis tersebut karena sudah dibantah oleh ilmuwan-ilmuwan modern setelah hampir 2000 tahun berlalu semenjak adanya teori itu.

Jadi, jangan pernah berpikir bahwa “pendapatku pasti benar karena aku telah menghabiskan waktuku untuk melakukan riset pencarian bukti”.

Sebaliknya, kalau ada orang lain yang membantah pendapatmu, seharusnya kamu senang.

Itu berarti, ada seseorang yang berpikir karena mengetahui pendapatmu. Lalu, dia pun mengembangkan pemikiranmu.

Toh, tidak akan menurunkan derajatmu sebagai manusia. Buktinya, Aristoteles tetaplah dihormati dan namanya masih banyak tercantum di buku-buku sekolah.

Karena adanya upaya untuk membantah pemikiran yang sudah ada, peradaban manusia dapat terus berkembang.

Ketika kamu mampu menerima sebuah pendapat yang lebih benar daripada pendapatmu, itulah yang disebut kritis

Karena jika kamu mampu menerima pendapat yang lebih benar, maka ilmu yang kamu miliki pasti bertambah. Itulah yang disebut dengan berpikir kritis.

6. Fokus pada Esensi, bukan Tampilan Luar

Makna dari suatu kata lebih penting daripada kata-kata itu sendiri

Itulah inti dari poin nomor 6 ini.

Seringkali seseorang terjebak dengan tampilan luar dari kata-kata.

Padahal, yang paling penting ialah esensi atau makna dari kata-kata. Bukan kata-katanya itu sendiri

Kata-kata hanyalah bahasa yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi.

Dalam mencerna suatu kata-kata, yang penting ialah  memahami konsepnya, bukan mengingat kata per kata.

Kamu tidak merlu memenuhi memorimu untuk mengingat hal-hal yang tidak perlu.

Gunakanlah akal sehatmu untuk memahami kalimat yang diucapkan oleh seseorang. Bingung? Biar saya beri contoh

Pada suatu diskusi, Ani berkata: “Menurut saya, Indonesia pada masa Presiden Ir. H. Joko Widodo sangatlah buruk. Banyak masyarakat desa yang tetap miskin dan sulit untuk bersekolah. Pak Jokowi sangatlah bodoh! Malah membangun jalan tol yang hanya dapat diakses oleh orang-orang kaya. Padahal, masih banyak orang desa yang sedang merasakan kemiskinan”

Pada forum diskusi yang sama, Budi Berkata: “Menurut saya, Indonesia pada masa Presiden Ir. H. Joko Widodo telah mengalami perkembangan pesat. Hal ini terlihat dari pembangunan infrastruktur di Indonesia yang berlangsung dengan sangat cepat. Akan tetapi, sepengamatan saya, penyaluran APBN belum terlalu merata dan masih berpusat di tengah kota. Saya menemukan beberapa desa yang tetap miskin, bahkan anak-anak pun sulit untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun demikian, hal ini dapat diatasi dengan program penguatan pemerintah desa”

Nah, sekarang, cermati baik-baik pendapat Ani dan Budi.

Ya, tampilan luarnya sangat berbeda, padahal esensi dari kalimat Ani dan Budi ialah sama!

Yang membedakan ialah Ani tidak suka, sedangkan Budi suka dengan masa pemerintahan Pak Jokowi.

Namun pada kali ini, saya tidak akan membahas perasaan suka atau tidak suka dari perasaan tokoh fiktif Ani dan Budi.

Yang ingin saya tekankan ialah bahwa esensi dari pendapat Ani dan Budi ialah sama, yaitu: perkembangan infrakstruktur di Indonesia sedang berkembang, tetapi masyarakat desa tetap miskin. Itulah inti dari pendapat Ani dan Budi.

Nah, dalam proses diskusi, belajar, dan mencari bukti untuk memperkuat pendapatmu, fokuslah pada esensi dari suatu pesan, bukan sekadar kulit luarnya saja!

Apalagi jika kamu mencari bukti dari media massa di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir semua media massa di Indonesia dimiliki oleh tokoh-tokoh politik yang punya kepentingan pribadi.

Oleh karena itu, kamu akan banyak menemui kasus yang mirip dengan Ani dan Budi pada contoh di atas. Tampilan luarnya sangat berlawanan (suka atau tidak suka), tetapi esensi dari pesannya sesungguhnya mirip, atau bahkan sama.

Nah, esensi dari pesan itulah yang harusnya kamu pahami. Tidak perlu mengingat kata per kata dari pendapat seseorang, apalagi sampai terbawa perasaan oleh kesan suka atau tidak suka dari sebuah pendapat. Itulah yang dimaksud Fokus pada Esensi, bukan Tampilan Luar.

Sekali lagi, inti dari poin ini ialah makna dari suatu kata lebih penting daripada kata-kata itu sendiri.

7. Sadar Bahwa Sesuai Logika Belum Tentu Benar

Logika dan masuk akal ialah dua hal yang berbeda.

Logika hanyalah salah satu cara berpikir untuk mencari kebenaran, tetapi logika bukanlah kebenaran itu sendiri.

Logika bisa saja salah dan tidak masuk akal apabila dilakukan pada konteks yang tidak tepat. Biar saya contohkan

Orang kaya adalah orang-orang yang memperoleh banyak uang karena rajin bekerja. Berarti, orang miskin tidak memperoleh banyak uang karena malas bekerja”

Secara teknis, kalimat yang dicetak miring di atas sudah sesuai dengan kaidah logika.

Memang betul bahwa orang kaya ialah orang-orang yang memiliki pekerjaan dan rajin bekerja. Sedangkan orang miskin ialah orang yang tidak bekerja.

Akan tetapi… dunia tidak sesederhana itu.

Sadar kenapa logika belum tentu benar? Karena logika hanya membahas dua variabel/hal.

Tidak bekerjanya orang miskin tidak semata-mata karena malas.

Ada banyak faktor yang tidak bisa dijangkau oleh logika semata, misalnya tingkat pendidikan, demografi/situasi tempat tinggal, pola hidup masyarakat, budaya masyarakat, dan lain-lain. Semua yang saya sebutkan itu dapat memengaruhi kaya atau miskinnya seseorang, tetapi tidak dicakup dalam logika.

Sedangkan masuk akal adalah proses kerja akal sehat seseorang yang mempertimbangkan apakah sesuatu dapat dikatakan benar atau salah. Misalnya, ketika membaca contoh cetak miring di atas, tentu kamu sudah sadar bahwa itu tidak masuk akal, bukan?

Nah, itulah bedanya logika dan masuk akal. Logika lebih bersifat konkrit, sedangkan masuk akal lebih besifat abstrak.

Ketika membaca contoh cetak miring di atas, secara tidak sadar, akal sehatmu telah mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kemiskinan. Kalau saya langsung mempertimbangkan faktor tingkat pendidikan, demografi/situasi tempat tinggal, pola hidup masyarakat, dan budaya masyarakat. Mungkin dalam pikiranmu muncul faktor-faktor lain yang tidak terpikirkan oleh saya.

Yang jelas, berhati-hatilah dalam menggunakan logika.

Logika hanyalah salah satu cara berpikir untuk mencari kebenaran, tetapi logika bukanlah kebenaran itu sendiri.

Jangan menganggap segala ucapan yang sudah sesuai logika berarti sudah pasti benar.

Kebenaran mutlak hanyalah milik Tuhan, setidaknya itulah yang saya yakini.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berupaya untuk mencari kebenaran dengan cara berpikir dan melakukan riset.

Itulah yang dimaksud berpikir kritis.

Jadi, sudah paham kan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir, bukan sekadar kecerdasan atau IQ saja?

Jika ada yang belum dipahami dan masih ada yang ingin ditanyakan silakan langsung tulis di kolom komentar. Saya sangat terbuka untuk berdiskusi.

Selamat Berpikir Ulang!

Versi Lain:

  1. Apakah “Pernyataan Sesuai Logika” Sudah Pasti Benar?
  2. Cara Belajar Paling Efektif dan Efisien, Rahasia Orang Pintar yang Tidak Dibagikan kepada Umum
  3. Bagaimana Cara Mengurangi Subjektivitas dalam Berpikir?
  4. Bagaimana Cara Memaksimalkan Fungsi Otak untuk Berpikir?
  5. Dunia Berkembang karena Ahli Bisa Dibantah: Belajar dari Ilmu Filsafat, Psikologi, dan Kedokteran
The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published.


*