fbpx

7 Cara Berpikir Positif dan 3 Syaratnya untuk Memaksimalkan Potensi Diri

Cara Berpikir Positif

Pernahkah kita merasa sulit untuk berpikir positif? Bahkan prasangka buruk, kelemahan, ketakutan, kesinisan, dan pikiran negatif lainnya yang malah sering menghampiri pikiran kita? Tentu, kita ingin menghilangkan pikiran-pikiran negatif karena dapat menghambat dalam mengambil keputusan. Ketika mengambil keputusan, seseorang yang berpikir negatif akan lebih berfokus pada konsekuensi negatif daripada dampak positif. Hal ini dapat mengakibatkan keragu-raguan dan progres hidup yang stagnan, sehingga menghabiskan waktu secara sia-sia.

Selain website ini, telah banyak website-website lain yang membahas tentang cara berpikir positif, bahkan sampai tata cara teknisnya. Dengan sedikit berbeda, artikel ini akan membahas esensi dari berpikir positif. Sebelum dapat berpikir positif, yang perlu dilakukan oleh seseorang ialah menerima dan menghargai diri secara utuh terlebih dahulu. Setelah itu, pikiran positif dalam mental seseorang akan datang secara “otomatis”, sehingga potensi maksimal dari diri seseorang akan muncul. Namun sebelum itu, ada tiga syarat yang harus dipenuhi dan tujuh cara yang harus dilaksanakan agar mental selalu terdorong untuk berpikir positif, yaitu:

3 Syarat Berpikir Positif

Sebelum dapat memiliki kebiasaan untuk berpikir positif, ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang. Syarat ini diperlukan agar berpikir positif menjadi sebuah kebiasaan dalam proses mental. Dengan kata lain, berpikir positif akan menjadi kegiatan mental yang “otomatis”, tidak sekadar sekali coba dalam sehari. Berikut adalah tiga syarat untuk berpikir positif

1. Mengenali Diri Sendiri

Mengenali diri sendiri ialah mengetahui sisi positif (kelebihan) dan sisi negatif (kekurangan) pribadi kita serta memahami alasan dari setiap perilaku yang kita lakukan. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan diri, kita akan mengetahui mana yang perlu dikembangkan dan difokuskan, serta mana yang harus dibenahi dan ditutupi oleh kelebihan kita. Dengan memahami alasan dari setiap perilaku yang kita lakukan, kita akan mengetahui apa yang memotivasi kita untuk melakukan suatu kegiatan. Lalu pada akhirnya, kita akan mampu menerima diri kita apa adanya dan secara utuh.

2. Menyadari Potensi Diri

Potensi diri yang dimaksud ialah menyadari kegiatan apa yang dapat dilakukan dengan kelebihan yang kita miliki, sehingga menghasilkan output/karya yang maksimal. Di samping itu, potensi diri juga dapat berarti “sisi biasa-biasa saja” (misalnya, hobi, rutinitas sehari-hari) dalam diri kita yang berpotensi untuk naik menjadi kelebihan dalam diri kita. Pada intinya, potensi diri adalah segala sesuatu yang telah ada dalam diri kita yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi lebih baik. Dengan menyadari potensi diri, kita akan selalu berupaya untuk mengembangkan diri, sehingga cenderung menatap masa depan dengan cara positif.

3. Mengetahui Cara Berpikir Positif Secara Teknis

Setelah menjalankan dua syarat di atas, syarat ketiga ialah mengetahui cara berpikir positif secara teknis. Dengan menjalankan ketiga syarat ini, maka tujuh cara berpikir positif berikutnya akan dapat dilaksanakan dengan mudah, sehingga langsung dapat merubah mindset pembaca secara drastis. Bagaimana, sudah mengenali diri sendiri dan menyadari potensi diri? Mari lanjutkan untuk membaca 7 Cara Berpikir Positif agar dapat mengetahui cara berpikir positif secara teknis.

7 Cara Berpikir Positif

Setelah memenuhi tiga syarat di atas, maka kita perlu menjalankan tujuh cara berpikir positif agar pikiran positif dapat hadir di mental kita. 7 Cara ini telah tersusun secara terstruktur dan sistematis, sehingga mudah dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah 7 Cara Berpikir Positif

1. Mensyukuri Adanya Potensi dalam Diri

Mensyukuri yang dimaksud ialah menerima potensi apa adanya dan berterima kasih kepada diri sendiri dan Tuhan yang telah mengusahakan dan menciptakan potensi dalam diri. Dengan bersyukur, seseorang akan semakin merasa menerima dirinya apa adanya. Selain itu, bersyukur juga membuat kita semakin merasakan peran diri, orang lain, dan Tuhan yang telah membentuk diri kita yang sekarang.

2. Percaya pada Potensi Diri Sendiri

Setelah bersyukur, yang berarti menerima potensi dari “dalam”, kita perlu percaya pada potensi diri kita, yang berarti yakin bahwa kita mampu membawa potensi tersebut “keluar” ke dunia nyata. Keyakinan pada potensi diri dapat mengarahkan kita untuk berpikir positif, karena menimbulkan rasa akan sukses ketika melakukan sesuatu. Inilah yang membedakan berpikir positif dan berpikir negatif. Orang-orang yang berpikir negatif cenderung memikirkan tentang kegagalan, padahal belum melakukan apapun.

3. Melakukan Kegiatan Sesuai Potensi Diri

Setelah percaya pada potensi diri, kita perlu merealisasikan kepercayaan tersebut dalam bentuk kegiatan nyata. Sebaiknya, kegiatan ini sesuai dengan potensi diri kita, sehingga hasilnya pun maksimal. Ketika melakukan kegiatan yang sesuai dengan potensi diri atau yang sesuai dengan renjana (passion), maka seseorang akan cenderung berpikir positif karena merasa bergairah dalam melakukannya. Hasil yang maksimal pun akan mendorong kita untuk melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Bukankah setiap orang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda?

Bagaimana Kalau Ingin Melakukan Kegiatan yang Tidak Sesuai Potensi Diri?

Kemampuan seseorang akan menentukan hasil dari suatu kegiatan. Satu-satunya cara apabila kita ingin melakukan sesuatu dengan baik, tetapi tidak memiliki potensi untuk itu ialah menciptakan potensi diri. Lalu, satu-satunya cara untuk menciptakan potensi diri ialah belajar, bisa melalui media klasik seperti buku, diskusi dengan ahlinya ataupun dengan media modern seperti internet (Baca Juga: Cerdas Berliterasi: Jangan Sampai Salah Belajar!).

4. Mengatur Lingkaran Sosial Menjadi Positif

Ada pepatah yang menyatakan bahwa “Kita adalah 5 orang terdekat kita”. Melalui Channel Youtube-nya, Deddy Corbuzier menceritakan bahwa kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh siapa orang-orang terdekatnya 1https://www.youtube.com/watch?v=Mx2c5NPoPfo. Lebih dari “sekadar” kesuksesan, cara berpikir kita pun dapat ditularkan oleh orang-orang terdekat kita. Jika kita berteman dengan orang yang bersifat hemat, maka pola pikir sahabat kita yang bersifat hemat tersebut akan tertular dalam pikiran kita. Sebaliknya, jika kita berteman dengan orang yang pesimistik, maka cara berpikir yang pesimis akan tertular dalam pikiran kita. Hal ini dapat terjadi karena manusia memiliki rasa empati yang mampu “membaca” cara berpikir orang lain, apalagi orang-orang terdekat kita.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengatur siapa saja yang “boleh” masuk ke lingkaran sosial kita. Kita boleh berteman dengan siapapun yang berasal dari latar belakang apapun, dengan sifat bagaimanapun. Akan tetapi, untuk masuk ke “lingkaran sosial” yang terdiri dari orang-orang terdekat kita, kita berhak untuk memilih mana yang baik dan buruk, karena pasti orang-orang yang ada di dekat kita akan memengaruhi cara berpikir kita, bahkan hidup kita secara signifikan.

5. Membuat Rutinitas Positif

Jika lingkaran sosial positif berfungsi untuk mengatur dari “luar”, maka rutinitas positif berfungsi untuk mengatur dari “dalam”. Dalam psikologi, terdapat prinsip dasar yang berbunyi “perilaku memengaruhi mental dan mental memengaruhi perilaku”. Jika kita membentuk rutinitas (kebiasaan perilaku) positif, maka mental pun akan terbiasa untuk berpikir positif. Bukankah perilaku positif akan diawali dengan pikiran yang positif juga? Kalaupun misalnya kita melakukan kegiatan positif dalam keadaan pikiran negatif, maka perilaku positif tersebut akan memengaruhi pikiran negatif kita ke arah positif.

6. Menghargai Pendapat Orang Lain

Pikiran negatif dapat terpicu karena ada konflik atau perbedaan dengan orang lain, sehingga memandang orang yang berbeda berpendapat “lebih rendah” daripada diri kita. Padahal, pikiran negatif tidak sekadar pikiran-pikiran yang tertuju pada diri sendiri, tetapi juga orang lain. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, akan ada konflik dan orang-orang yang menentang diri kita. Untuk dapat menghargainya, yang perlu kita pahami ialah alasan mengapa dia bertentangan dengan diri kita, bukan hanya berfokus pada pertentangannya saja.

Misalnya, kita ingin bekerja di perusahaan X, tetapi orang tua melarang karena menganggap bahwa gaji di perusahaan tersebut terlalu rendah. Padahal, pekerjaan di perusahaan X sangat sesuai dengan bidang kita dan perusahaan X juga memiliki prospek bisnis yang bagus. Jika terjadi kasus seperti ini, yang perlu kita lakukan ialah memahami kekhawatiran orang tua yang mungkin takut jika anaknya tidak bisa hidup secara layak. Selain itu, kita juga perlu menjelaskan kepada orang tua bahwa diri kita akan dapat hidup secara layak.

7. Berterima Kasih pada Diri Sendiri

Setelah berhasil melakukan semuanya, langkah terkahir yang perlu dilakukan ialah berterima kasih pada diri sendiri. Dengan berterima kasih pada diri sendiri, kita akan lebih merasa nikmat-nikmat dari berpikir positif, sehingga mental kita terpicu untuk berpikir positif lagi di hari esok. Dengan demikian, pikiran positif tidak hanya sekadar “numpang lewat” sekali dalam sehari, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup: Keunikan Cara Berpikir Positif pada Artikel Ini

Demikianlah cara berpikir positif yang esensial, realistis, dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, esensi dari berpikir positif ialah menerima diri, mempersepsikan dunia luar, dan memandang proses kehidupan secara positif. Biasanya, artikel-artikel lain akan membahas bahwa cara berpikir positif ialah selalu berkata “aku bisa”, mengarahkan pikiran, dan melihat sisi baik. Sebagai penutup, artikel ini akan sedikit membahas tentang miskonsepsi cara berpikir positif yang telah beredar luas saat ini

1. Cara Berpikir Positif ialah Selalu Berkata “Aku Bisa” dan Jangan Berkata “Tidak Bisa”

Kekeliruan ini sudah menyebar sangat luas. Banyak orang yang menganggap bahwa kalimat “aku bisa” dapat efektif pada semua orang. Padahal, seseorang tidak mungkin bisa melakukan sesuatu dengan baik apabila tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu tersebut. Cara berpikir positif yang satu ini memang ada benarnya, tetapi tergantung siapa yang diberi nasihat seperti ini.

Misalnya, seorang atlet sepak bola telah berlatih selama 6 bulan penuh untuk menghadapi kompetisi tingkat nasional. Namun menjelang kompetisi, pikiran negatif muncul karena dia merasa gugup. Pada konteks ini, nasihat “Ayo katakan ‘aku pasti bisa!’ dan jangan berkata ‘aku tidak bisa'” tepat disampaikan kepada orang tersebut karena kita semua tahu bahwa dia telah latihan selama 6 bulan penuh dan memiliki kompetensi untuk bermain sepak bola secara baik. Akan tetapi, kompetensi atau potensi maksimal dalam dirinya terhambat karena dia gugup, sehingga nasihat diberikan untuk menghilangkan kegugupannya.

Namun, apabila nasihat “Ayo katakan ‘aku pasti bisa!’ dan jangan berkata ‘aku tidak bisa'” disampaikan kepada seorang atlet yang malas latihan, maka tentu saja dia tidak akan bisa bermain dengan baik. Dia tidak memiliki kompetensi maksimal untuk bermain sepak bola layaknya atlet pertama yang latihan selama 6 bulan penuh. Bahkan, apabila nasihat “aku pasti bisa!” disampaikan kepada orang-orang yang tidak kompeten, maka ada kemungkinan dapat melukai mentalnya.

2. Cara Berpikir Positif ialah Mengarahkan Pikiran dengan Sengaja ke Arah Positif dan Mengabaikan yang Negatif

Memanglah benar bahwa apabila kita sengaja mengarahkan pikiran ke arah yang positif, maka mental pun dapat ikut menjadi positif. Namun, cara seperti ini hanya akan mempositifkan pikiran dalam jangka pendek apabila “masalah inti” dari munculnya pikiran negatif tidak selesaikan. Biasanya, “masalah inti” dari munculnya pikiran negatif ialah kurang penerimaan diri. Oleh karena itu, artikel ini memfokuskan pembaca untuk menerima diri terlebih dahulu, sebelum nantinya menjalankan cara berpikir positif secara praktis.

3. Cara Berpikir Positif ialah Selalu Melihat Sisi Baik dari Segala Sesuatu

Memanglah benar bahwa melihat sisi baik dari segala sesuatu dapat mengarahkan pikiran ke arah positif. Namun, bukan berarti kita 100% mengabaikan atau menganggap bahwa yang negatif tidaklah ada. Segala sesuatu pasti memiliki sisi buruk yang tidak boleh diabaikan. Mengabaikan sisi buruk secara 100% berpotensi untuk “membutakan pandangan” kita akan sesuatu. Oleh karena itu, ketika berfokus untuk melihat sisi positif sesuatu, kita juga perlu sadar bahwa sisi negatif dari sesuatu memanglah ada dan tidak hilang.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Readers Comments (1)

  1. Bagus ini biar tidak mudah berpikiran negatif terus kepada orang lain. Boleh dicoba sarannya.

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published.


*