fbpx

7 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Membahagiakan Diri: Pasti Bisa, Asalkan Jujur kepada Diri Sendiri!

Cara Mencintai Diri Sendiri

Adakalanya kita sulit mencintai diri sendiri, padahal di sekeliling kita ada keluarga dan teman-teman yang mencintai kita.

Adakalanya kita menganggap diri sendiri payah, padahal kita tahu bahwa tidak banyak orang yang lebih hebat daripada kita dalam bidang tertentu.

Mencintai diri sangatlah sulit, bahkan lebih sulit daripada mencintai orang lain.

Mengapa demikian? Ada dua alasan.

Pertama, kita mencenderung mencintai orang lain secara apa adanya.

Jika kita mencintai seorang sahabat, kita akan menerima dirinya apa adanya, bahkan hingga seluruh aspek pada kepribadiannya. Satu-dua keburukan tidaklah berarti. Kita menganggap bahwa itulah normalnya manusia dan menganggapnya sebagai “bagian dari kepribadiannya” yang juga kita cintai.

Teman-temanmu juga berpandangan demikian ketika melihatmu. Dia akan melihatmu secara apa adanya, menerima dirimu dengan seutuhnya.

Oleh karena itu, mencintai orang lain jauh lebih mudah daripada mencintai diri sendiri.

Namun, dalam mencintai diri sendiri….

Kedua, untuk mencintai diri sendiri, kita akan membandingkan diri-nyata (real-self) kita dengan diri-ideal (ideal-self) kita.

Cara kita memandang diri kita sendiri sangatlah berbeda dengan ketika memandang orang lain.

Ketika memandang orang lain, kita cukup melihat real-self dirinya saja.

Namun ketika melihat diri sendiri, melihat dua hal, yaitu real-self dan ideal-self, lalu dibandingkan.

Real-self adalah bagaimana diri kita memandang diri kita saat ini.

Ideal-self adalah diri ideal yang kita cita-citakan untuk dicapai.

Semakin dekat perbandingan antara real-self dengan ideal-self, maka kita akan semakin mencintai diri sendiri.

Sebaliknya, semakin jauh perbandingan antara real-self dengan ideal-self, maka kita semakin jauh dari mencintai diri sendiri. Ilustrasi gambarnya sebagai berikut:

Jadi, irisan antara real-self dan ideal-self-lah yang menentukan apakah kita akan mencintai diri kita sendiri atau tidak (lihat gambar di atas). Semakin besar irisannya, maka semakin kita mencintai diri sendiri. Semakin kecil irisannya, maka kita semakin kurang mencintai diri sendiri.

Namun, jangan sampai irisannya terlalu besar juga. Kalau terlalu besar, itu namanya sombong (lihat gambar di bawah). Pada dasarnya, setiap orang memerlukan adanya gap (jarak) antara real-self dengan ideal-self agar dirinya selalu berkembang. Tentu, cita-cita baru akan selalu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, itulah normalnya manusia.

Namun, jika irisannya terlalu kecil, kita pun akan menganggap diri kita “kecil” (payah, lemah, dsb), sehingga tidak mencintai diri sendiri.

Nah, lalu timbul pertanyaan “bagaimana caranya ‘memperlebar irisan’ jika sudah terlalu kecil?”

Tentu, “memperlebar irisan” tidaklah mudah. Diperlukan proses yang panjang untuk melakukannya.

Namun, itulah hidup. Biasanya, yang prosesnya lama jauh lebih baik dan berdampak pada jangka panjang. Sedangkan yang prosesnya cepat jauh biasanya kurang baik dan dampaknya hanya berjangka pendek.

Sedangkan kita hidup kan masih lama (jika dipikirkan menggunakan akal sehat, terlepas dari takdir Tuhan), masih belasan atau puluhan tahun lagi. Masa mau yang cuma berjangka pendek?

Harapannya, dengan ilmu yang bersifat jangka panjang, kita bisa mempertahankan diri sendiri, sehingga memiliki daya tahan mental yang kuat sepanjang hidup.

Jadi, kalau terjadi “sesuatu” pada diri kita, setidaknya kita bisa melakukan pertolongan psikologis pertama, sebelum mungkin perlu pergi ke psikolog/psikiater. Bahkan bisa tidak perlu sama sekali.

Hidup ini penuh dengan kejadian tidak terduga. Kita perlu bekal ilmu daya tahan mental untuk bisa bertahan sepanjang hidup.

Lantas, apa saja yang perlu kita lakukan agar bisa semakin mencintai diri sendiri?

1. Menurunkan Ideal-Self

Pada kasus tertentu kurang mencintai diri sendiri dapat terjadi karena ideal-self terlalu tinggi.

Kita terlalu idealis, terlalu menginginkan sesuatu yang sulit dicapai. Bahkan, manusia normal manapun tidak mungkin bisa mencapainya (lihat gambar di bawah).

Biasanya terlalu idealis terjadi pada masa remaja (11 – 18 tahun) dan dewasa awal (18 – 23 tahun). Setelah dewasa betul (25 tahun ke atas), barulah mulai bisa melihat kenyataan dengan lebih objektif.

“Jika aku adalah orang yang terlalu idealis, bagaimana caranya mengurangi ideal-self?”

Yang bisa kamu lakukan ialah menurunkan cita-citamu.

Kadang, cita-cita melekat jauh di dalam ketidaksadaranmu, sehingga dirimu sendiri tidak menyadarinya secara sadar.

Untuk memunculkan cita-citamu dari ketidaksadaran menjadi ke kesadaran, ada dua hal yang bisa kamu lakukan.

Pertama, dengan meminta bantuan temanmu. Kamu bisa mengajaknya untuk berdiskusi mengenai dirimu yang terlalu idealis. Kamu bisa membicarakan dengannya mengenai cita-citamu, mana saja yang belum tercapai dan mana saja yang sudah tercapai. Lalu, mintalah pertimbangan temanmu untuk menentukan apakah cita-citamu rasional atau tidak.

Namun… kamu tidak perlu “menelan mentah-mentah” hasil pertimbangan dari temanmu. “Kunyahlah” terlebih dahulu. Pertimbangan diri sendiri sangatlah penting agar dirimu sendiri bisa menerimanya secara sadar, sehingga “cita-cita versi revisi” dari dirimu bisa masuk ke dalam ketidaksadaranmu. Dengan demikian, ideal-self-mu telah menurun menjadi lebih rasional.

Kedua, dengan menuliskan cita-citamu. Jika kamu tidak bisa menemukan teman yang bisa dipercaya, maka langkah kedua ini bisa menjadi alternatif. Tulislah seluruh cita-citamu di sebuah kertas, lalu ceklislah mana yang sudah tercapai dan belum tercapai. Tidak perlu terburu-buru untuk menuliskannya, kamu bisa menunggu dan bersantai terlebih dahulu sampai “cita-citamu yang sesungguhnya” benar-benar muncul dari ketidaksadaran di kesadaranmu. Setelah yakin sudah tertulis seluruhnya, pikirkanlah dengan akal sehat apakah seluruh yang tertulis di kertas sudah rasional untuk dicapai. Jika ada yang tidak atau belum rasional, hapuslah atau gantilah cita-cita itu.

Setelah itu, bacalah kembali “cita-cita versi revisi” darimu, lalu berkata “inilah cita-citaku yang baru”. Bagian ini sangatlah penting agar “cita-cita versi revisi” benar-benar terinternalisasi ke dalam dirimu.

Ohiya, pada prosesnya, lakukanlah dengan santai dan jujur kepada dirimu sendiri. Ganti dan/atau hapuslah cita-citamu sampai kamu benar-benar bisa menerimanyaJujurlah jika masih ada yang belum bisa kamu terima. Proses ini sangatlah penting. Jika kamu terburu-buru, apalagi sampai berbohong pada dirimu sendiri, maka cara ini hanya akan menjadi ritual omong kosong semata, tidak akan ada gunanya sama sekali.

Ingat, tujuanmu ialah mengubah ketidaksadaranmu yang jauh terpendam dalam dirimu. Jika terburu-buru dan tidak jujur, maka jangankan berusaha merubah, mengaksesnya saja pun tidak akan bisa.

Jika kamu berhasil melakukan ini, maka seharusnya, kamu sudah lebih mencintai diri sendiri.

Tapi ini hanya berlaku jika kamu orang idealis dengan tipe sesuai gambar di atas.

Nah, sekarang, bagaimana kalau tipe idealisnya seperti gambar di bawah?

2. Meningkatkan dan Mendekatan Real-Self dengan Ideal-Self

Jika kamu adalah orang idealis yang tidak kompeten, maka sebaiknya kamu melakukan poin nomor 1 terlebih dahulu, yaitu menurunkan ideal-self.

Setelah itu, berusahalah untuk mencapai cita-citamu, baik yang telah kamu diskusikan dengan temanmu maupun yang telah kamu tulis di kertas.

Misalnya, kalau kamu ingin menjadi pembicara seminar yang baik, maka kamu bisa belajar public speaking di 7 Cara Belajar Public Speaking dari Dasar sampai Jago: Proses Panjang, Tapi Hasil Permanen! atau kalau ingin menjadi pemikir yang andal, atau ilmuwan, kamu bisa belajar berpikir kritis di 7 Cara Berpikir Kritis untuk Mencari Kebenaran. Sesederhana itu.

Akan tetapi… ingatlah bahwa kamu tidak hanya berusaha untuk meningkatkan real-self, tetapi juga mendekatkan real-self dengan ideal-self. Dalam konteks mencintai diri, meningkatkan dan mendekatkan merupakan satu kesatuan.

Efisienkanlah waktumu untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan cita-citamu. Kamu tidak ingin kan menjadi orang seperti gambar di bawah?

Jika kamu bisa mengefisienkan waktu, untuk meningkatkan dan mendekatkan real-self dengan ideal-selfmaka seharusnya kamu sudah mencintai diri sendiri.

Penyebab utama dari tidak mencintai diri sendiri ialah karena ketidaksamaan antara real-self dengan ideal-self yang terlalu jauh.

Itulah prinsip utamanya. Namun, apakah dunia nyata sesederhana teori yang sudah dipaparkan di atas? Tentu saja tidak.

Teori di atas hanya membahas dua variabel, yaitu real-self dan ideal-self. Akan tetapi, kenyataan terdiri dari banyak sekali variabel yang bahkan tidak kita sadari (silakan baca 7 Cara Berpikir Kritis untuk Mencari Kebenaran untuk bisa memahami mengapa dua variabel saja belum cukup untuk disebut sebagai kebenaran).

Oleh karena itu, akan ada poin-poin lain yang membahas “variabel ketiga” dari dinamika antara real-self dan ideal-self. Namun, prinsip utama mengenai real-self dan ideal-self untuk mencintai diri sendiri tetaplah harus dipahami karena pembahasan selanjutnya tidak akan pernah lepas dari prinsip real-self dan ideal-self. Silakan baca ulang artikel ini dari awal jika kamu merasa belum memahami dengan baik mengenai prinsip real-self dan ideal-self. Atau sebelum lanjut membaca, silakan beristirahat terlebih dahulu agar pemahaman mengenai real-self dan ideal-self bisa terinternalisasi dengan baik dalam pikiranmu.

3. Memahami Bahwa Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Poin ini sangatlah penting, khususnya ketika sedang berusaha mengubah ideal-self (misalnya, ketika akan melakukan poin nomor 1).

Ideal-self terbentuk dalam ketidaksadaran seseorang berdasarkan harapan yang dimilikinya.

Tentu secara naluriah, kita memiliki cita-cita yang tinggi berdasarkan bidang yang kita senangi.

Kalau kamu pembisnis… tentu ingin sesukses Bill Gates

Kalau kamu pemain sepak bola… tentu ingin sehebat Cristiano Ronaldo

Kalau kamu seorang agamawan Islam…tentu ingin sepandai Quraish Shihab

Namun demikian, sadarilah bahwa kamu bukanlah Bill Gates, tetapi kamu bisa berbisnis sekaya Bill Gates. Kamu bukan Cristiano Ronaldo, tapi bisa bermain sepak bola sehebat Cristiano Ronaldo, kamu bukan Quraish Shihab, tapi bisa menjadi agamawan Islam sepandai Quraish Shihab. Paham maksudnya?

Pemahaman ini penting karena menjadi orang lain adalah cita-cita yang mustahil.

Yakinlah bahwa setiap orang adalah manusia yang unik dan punya potensinya sendiri, yang bisa maksimal jika berusaha.

Apakah Lionel Messi adalah Cristiano Ronaldo? Tentu bukan. Masing-masing punya karakteristik yang berbeda. Lionel Messi berbadan kecil, sedangkan Cristiano Ronaldo berbadan lebih kekar. Akan tetapi, Lionel Messi bisa disejajarkan dengan Cristiano Ronaldo berkat kehebatannya dalam menggiring bola dan menggocek lawan, sedangkan Cristiano Ronaldo tetaplah Cristiano Ronaldo dengan keseimbangan tubuhnya yang kukuh.

Jadi, susunlah real-self yang sesuai dengan kepribadianmu, yang dirimu sendiri merasa bisa mencapainya sesuai dengan potensimu (Ingin menggali potensi diri? Silakan baca 7 Cara Berpikir Positif dan 3 Syaratnya untuk Memaksimalkan Potensi Diri). Dengan demikian, potensi maksimal dirimu akan muncul, lalu kamu akan mencintai dirimu sendiri sesuai dengan keunikkanmu.

4. Menyusun Ideal-Self Secara Bertahap, Sesuai dengan Kondisi Saat Ini

Susunlah ideal-self secara bertahap, yang bersifat realistis sesuai dengan keadaanmu saat ini.

Jangan langsung menyusun ideal-self yang sangat besar, sehingga malah menjadi orang terlalu idealis seperti gambar di atas. Misalnya, jangan langsung menyusun ideal-self  berupa ingin menjadi pemain sepak bola yang bermain di Real Madrid agar sehebat Cristiano Ronaldo secara mentah-mentah. Mana mungkin kamu bisa langsung bermain di Real Madrid begitu saja?

Jika kamu berusia remaja, berusahalah untuk masuk akademi Real Madrid. Tentukan pula apakah keadaanmu saat ini (misalnya, faktor uang, bahasa/keinginan untuk mempelajari bahasa, alergi cuaca, dll) memungkinkan untuk bersekolah sepak bola di Real Madrid. Jika tidak memungkinkan, maka masuk sekolah sepak bola di Indonesia saja mungkin sudah cukup. Atau, turunkan ideal-self-mu berupa ingin menjadi pemain sepak bola yang bermain di Bali United agar sehebat Stefano Lilipaly juga sudah cukup. Intinya, berpikirlah realistis sesuai dengan keadaanmu

Jika kamu adalah pemain sepak bola berusia dewasa, berusahalah untuk bermain di Eropa terlebih dahulu, seperti Egy Maulana Vikry yang saat ini bermain di Polandia. Lalu, berusaha menjadi pemain terbaik di Liga Polandia, mungkin Real Madrid akan tertarik untuk merekrutmu. Namun jika tidak, menjadi pemain terbaik di Liga Polandia saja sudah cukup. Intinya, adakalanya keadaan bisa menghambatmu untuk mencapai ideal-self yang besar. Maka, saat itulah kamu perlu menyusun ulang ideal-self yang telah kamu miliki.

Ideal-self bukanlah hal yang harus dicapai dalam kehidupanmu. Adakalanya keadaan bisa menghambat terwujudnya ideal-self itulah kehidupan nyata.

Selain itu, pahamilah bahwa sukses bukanlah sekadar menjadi nomor satu di dunia. Menjadi guru yang mengajar di sekolah biasa pun, kamu juga bisa sukses sesuai dengan potensimu.

Yang penting, pahamilah potensimu lalu maksimalkanlah! Itulah sukses sesuai jati dirimu.

Dengan demikian, kamu menjadi diri yang sukses sesuai versimu, lalu dicintai oleh dirimu sendiri.

5. Memahami Bahwa Kamu Tidak Mungkin Bisa Menyenangkan Semua Orang

Kalau ada seseorang yang punya ideal-self berupa ingin membahagiakan semua orang, maka orang itu akan membenci dirinya seumur hidup.

Apakah Cristiano Ronaldo, persepakbola terbaik di dunia, tidak punya haters? Ada…

Apakah Quraish Shihab, agamawan Islam terpandai di Indonesia, tidak punya haters? Ada…

Siapa lagi? Coba pikirkan manusia terbaik menurutmu. Apakah ada haters-nya?

Nabi Muhammad ada haters-nya…

Bahkan Mahatma Gandhi dibunuh oleh haters-nya1https://en.wikipedia.org/wiki/Assassination_of_Mahatma_Gandhi

Jadi, ideal-self berupa ingin membahagiakan semua orang sangatlah mustahil terwujud. Namun kenyataannya, ada beberapa orang yang memiliki ideal-self seperti ini, sehingga sangat merasa terpukul apabila ada orang lain yang tidak menyukainya.

Bahkan lebih parahnya, sampai rela “merubah” dirinya agar bisa menyenangkan orang lain. Apakah itu yang dinamakan kebahagiaan? Apakah dia akan mencintai dirinya sendiri? Mustahil…

Sekarang, coba kita pikirkan dengan seksama, apakah tokoh-tokoh di atas terusik dengan orang yang membencinya? Tidak!

Kalau Crisitano Ronaldo terusik oleh haters-nya, mungkin dia akan stres sehingga performansi sepak bolanya menurun.

Kalau Quraish Shihab terusik oleh haters-nya, mungkin beliau akan stres berhenti menulis buku.

Kalau Nabi Muhammad terusik oleh haters-nya, mungkin beliau akan stres dan berhenti menyebarkan agama Islam.

Akan tetapi, itu semua tidak terjadi. Saat ini, mereka kita kenal seabgai tokoh-tokoh yang hebat.

Jadi, apabila kamu punya ideal-self berupa ingin membahagiakan semua orang, maka singkirkanlah, karena itu ideal-self yang bersifat mustahil.

Ideal-self yang serupa, tetapi lebih tepat dan rasional untuk dicapai ialah menebarkan manfaat bagi orang lain seluas-luasnyaAdakalanya, sesuatu yang bermanfaat belum tentu membahagiakan orang lain dalam jangka pendek, tetapi pasti akan membahagiakan dalam jangka panjang.

6. Beraktivitas Sesuai Caramu Sendiri

Untuk melakukan sesuatu dengan benar, maka kita harus belajar terlebih dahulu. Tidak ada cara lain. Inilah satu-satunya cara untuk meningkatkan real-self kita.

Namun dalam praktiknya di kehidupan nyata, kamu pasti punya keunikkan yang menandakan bahwa itu dilakukan oleh dirimu.

Misalnya jika dua orang belajar beladiri, maka mungkin tendangan dan pukulannya ialah teknik yang sama, belajar dari guru yang sama, aliran beladirinya (Taekwondo, Silat, Jiujitsu, dll) sama, tetapi bentuk tendangan dan pukulannya pasti berbeda (perbedaan karakter, bukan perbedaan tata cara dari pelaksanaan teknik. Kalau tekniknya salah, namanya perbedaan karena benar atau salah, bukan karakter). Perbedaan pasti terjadi karena setiap individu adalah makhluk yang unik, memiliki kepribadian yang pasti berbeda dengan orang lain, bahkan bayi kembar identik sekalipun.

Jadi, percaya dirilah untuk melakukan sesuatu sesuai dengan caramu sendiri. Orang lain tidak suka? Tidak masalah! Kamu tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang (ingat poin nomor 5).

Tidak perlu mendengarkan pendapat orang lain mentah-mentah. Jika orang lain mengkritikmu karena kekhasan karaktermumaka tidak perlu didengarkan! Katakan saja “Seperti inilah caraku. Tidak akan menganggu hasil akhir, kan?”. Namun jika orang lain mengkritikmu karena kesalahan (seperti contoh tata cara pelaksanaan teknik bela diri di atas), maka itulah yang perlu didengarkan!

Hargailah keunikan dirimu agar semakin mencintai diri sendiri. Kamu tidak perlu menyesuaikan diri dengan selera semua orang karena mustahil dilakukan dan membuatmu membenci dirimu sendiri.

7. Berpikir Positif

Jika semua cara di atas gagal, maka cara terakhir (namun bukan yang paling terakhir, kamu bisa saja mengembangkan cara mencintai diri sendiri versimu sendiri dengan tetap berpegang pada teori real-self dengan ideal-self) yang bisa kamu lakukan ialah berpikir positif.

Ingatlah bahwa real-self dan ideal-self merupakan persepsi subjektifmu sendiri.

Kalau seluruh upaya gagal, maka ada kemungkinan bahwa bukan interaksi antara real-self dengan ideal-self-mu yang kurang dekat, tetapi persepsimu terhadap real-self dan ideal-self yang kurang positif.

Untuk bisa berpikir positif, kamu bisa mempelajarinya pada artikel sebelumnya yang berjudul 7 Cara Berpikir Positif dan 3 Syaratnya untuk Memaksimalkan Potensi Diri. Artikel ini menjelaskan tata cara berpikir positif dengan detail dan lengkap. Penjelasannya pun bersifat praktis, sehingga bisa langsung kamu terapkan di kehidupan nyata.

Yang penting, kamu bisa mengubah persepsimu sendiri terhadap real-self dan ideal-self ada ada dalam pikiranmu sekarang.

Interaksi yang lebih baik akan terjadi apabila real-self dan ideal-self dipersepsikan secara positif.

Misalnya, mungkin kamu memandang real-selfmu lebih kecil daripada yang seharusnya karena lingkungan sosialmu tidak mendukungmu (lebih dari sekadar mencintaimu), atau kamu memandang kompetensimu (real-self) lebih kecil daripada yang seharusnya karena kamu belum memiliki rutinitas positif yang sesuai dengan hobimu.

Misalnya lagi, mungkin kamu kurang berterima kasih pada dirimu sendiri, sehingga membangun ideal-self yang terlalu besar dan memandang real-self-mu lebih kecil, atau kamu belum menyadari potensi dalam dirimu sehingga menyusun ideal-self yang terlalu jauh untuk dicapai oleh real-self-mu.

Silakan baca 7 Cara Berpikir Positif dan 3 Syaratnya untuk Memaksimalkan Potensi Diri untuk memahaminya lebih detail. Lalu, padukanlah kedua ilmu itu untuk membentuk dirimu yang sehat dan kuat secara psikologis.

Oke, cukup sampai di sini dulu.

Kalau ada yang ingin berdikusi atau ada yang ditanyakan bisa langsung ditulis di kolom komentar, atau kalau mau bertanya lewat jalur pribadi juga boleh.

Selamat Berpikir Ulang!

Versi Lain:

  1. Mencintai Diri Sendiri Tak Semudah Mencintai Orang Lain, Mengapa?
The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*