fbpx

Agama dan Sains: Bisakah Keduanya Bersatu?

agama dan sains

Dewasa ini, terkesan bahwa orang yang percaya agama berarti tidak percaya sains, dan sebaliknya. Banyak orang beranggapan bahwa agama tidak perlu dibuktikan lewat ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuan tidak ada kaitannya dengan agama. Anggapan ini sangatlah keliru karena sejatinya, agama dan sains merupakan dua hal yang berhubungan dan saling bekerja sama untuk mencari kebenaran.

Ajaran Agama Dibuktikan oleh Sains

Banyak ajaran agama yang dapat dibuktikan melalui sains. Misalnya, ajaran Islam menyarankan orang untuk duduk ketika marah1“Apabila seseorang dari kalian marah saat sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk. Hal itu dapat membuat amarah hilang, namun jika belum hilang juga, maka berbaringlah” (HR. Abu Dawud). Hal ini telah terbukti lewat sains karena apabila orang berdiri, maka tekanan darah meningkat (tidak relaks). Selain itu, posisi berdiri merupakan posisi ketika seseorang “siap untuk menyerang”, sehingga lebih mudah untuk merasa marah. Apabila seseorang duduk, maka tubuhnya akan lebih relaks dan perilaku marah pun lebih sulit dilakukan2Kalat, J. W. (2019). Biological Psychology (13th ed.). Boston: Cengage Learning.. Oleh karena itu, sering kita dapati bahwa orang yang sedang marah cenderung berposisi berdiri. Bahkan ketika duduk atau sedang berbaring, orang yang sedang marah cenderung akan bangkit dari tempat duduk/tidurnya.

Sains Membuktikan Kemuliaan Agama

Di sisi lain, sains telah membuktikan bahwa orang yang beragama terbukti lebih sehat mental (memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah) dibandingkan orang yang tidak beragama dan ateis3Baker, J. O., Stroope, S., & Walker, M. H. (2018). Secularity, religiosity, and health: Physical and mental health differences between atheists, agnostics, and nonaffiliated theists compared to religiously affiliated individuals. Social Science Research, 75, 44–57.. Pada penderita HIV/AIDS, orang religius dan merasa dekat dengan Tuhan (spiritual) terbukti lebih bahagia daripada orang yang kurang religius dan tidak merasa dekat dengan Tuhan4Chang, E. C., Yu, T., Lee, J., Kamble, S. V., Batterbee, C. N. H., Stam, K. R., … Wright, K. M. (2018). Understanding the Association Between Spirituality, Religiosity, and Feelings of Happiness and Sadness Among HIV-Positive Indian Adults: Examining Stress-Related Growth as a Mediator. Journal of Religion and Health, 57(3), 1052–1061. Selain itu, orang yang religius dan merasa dekat dengan Tuhan juga terbukti memiliki risiko yang lebih rendah untuk melukai diri sendiri (self-harm) dan bunuh diri5Sansone, R. A., & Wiederman, M. W. (2015). Religiosity/spirituality: Relationships with non-suicidal self-harm behaviors and attempted suicide. International Journal of Social Psychiatry, 61(8), 762–767. Artinya, sains dan agama saling mendukung dalam pencarian kebenaran. Bukankah ketika kita mempelajari ilmu dunia (sains), maka kita sedang mempelajari tanda-tanda dari kuasa-Nya?

Agama dan Sains ialah “Sahabat”

Dalam taraf tertentu, agama dan sains bisa saling memverifikasi untuk mencari kebenaran. Misalnya, apabila seseorang menyampaikan suatu ajaran atas nama agama, tetapi tidak masuk akal dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka ajaran tersebut patut dipertanyakan. Di sisi lain, hasil penelitian (sains) pun seharusnya sesuai dengan ajaran agama karena ketika ilmuwan menemukan sesuatu, berarti dia telah menemukan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Sejak Indonesia belum merdeka hingga saat ini, sering ditemui seorang saintis dan profesor yang mengakui adanya Tuhan dan memeluk agama tertentu karena “melihat Tuhan” setelah melakukan penelitian 6https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/07/196/1895513/4-ilmuwan-dunia-yang-masuk-islam-karena-riset-ilmiah-mereka7https://www.dream.co.id/jejak/takjub-dengan-alquran-profesor-amerika-peluk-islam-1503183.html8Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY..

Semakin Berilmu, Semakin dekat Kepada-Nya

Orang-orang berilmu telah “melihat Tuhan” melalui ilmu yang mereka miliki dan hasil temuannya. Mereka pun telah paham bahwa agama dan sains ialah “sahabat karib” yang saling mendukung. Lantas, mengapa kita mendikotomikan sains dengan agama, padahal sejatinya mereka ialah sahabat sejati yang menuntun akal dan hati manusia menuju kebenaran, menuju tanda-tanda kekuasaan-Nya?

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published.


*