fbpx

Apakah Hadis 100% Benar?

Hadis

Seringkali, hadis diperlakukan sebagai dogma layaknya Alquran (Baca Juga: Kitab Tafsir Alquran: Haruskah Dipelajari?. Banyak umat Islam yang mengamini (mempercayai) hadis secara mutlak, tanpa dipikirkan dan dikritisi menggunakan akal sehat. Sebagian besar dari mereka percaya secara mutlak beranggapan bahwa hadis pasti langsung berasal dari Rasulullah tanpa ada kecacatan sama sekali. Benarkah demikian? sebelum menjawab pertanyaan tentang judul artikel ini, ada baiknya kita mencermati dengan seksama, apa yang dimaksud dengan hadis.

Pengertian Hadis

Hadis adalah perkataan, perbuatan, dan persetujuan dari seluruh kehidupan Rasulullah yang disampaikan oleh para sahabat (sahabat adalah orang-orang yang hidup ketika Rasulullah masih hidup). Hadis berperan sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Alquran. Hadis terdokumentasi dalam bentuk tulisan oleh para ulama periwayat hadis, seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, dll. Sanad atau tingkat kebenaran dari hadis terdiri dari empat macam, yaitu sahih (sempurna), hasan (kuat), daif (lemah), dan palsu. Namun, pernahkah kita –khususnya umat muslim– mempertanyakan apakah hadis 100% benar? Kebanyakan, umat Islam langsung penuh kepada hadis yang bersanad sahih (Baca Juga: Kitab Klasik Bukanlah Kitab Suci). Apakah sikap percaya penuh kepada hadis sahih merupakan hal yang tepat dan bijaksana bagi seorang muslim? Mari kita kritisi bersama.

Asal Mula Hadis yang Kita Pelajari

Sesuai definisi di atas, hadis berasal dari perkataan, perbuatan, dan persetujuan (diamnya [“mengiyakan”]) Rasulullah terhadap suatu perilaku sahabat) Rasulullah, yang disampaikan oleh para sahabat. Sebelum sahabat menyampaikan hadis, mereka berdiskusi dengan Rasulullah, mendengarkan ucapan Rasulullah, dan/atau mengamati perilaku Rasulullah terlebih dahulu. Setelah itu, sahabat memperoleh hadis dari Rasulullah secara langsung, menceritakan hadis tersebut kepada sahabat-sahabat lain. Beginilah dinamika persebaran hadis pada zaman Rasulullah.

Setelah itu, ulama periwayat hadis yang hidupnya ratusan tahun setelah Rasulullah hidup (misalnya, Imam Bukhari hidupnya hampir 200 tahun setelah Rasulullah wafat1https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Ismail_al-Bukhari) mencari dokumentasi tentang hadis-hadis dari para sahabat, lalu mendokumentasikan kembali secara sistematis dalam bentuk buku. Inilah hadis-hadis yang saat ini umat muslim baca, pelajari, dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sahabat dan Periwayat Hadis Hanya Manusia Biasa

Sahabat dan periwayat hadis hanyalah manusia biasa. Artinya, mereka bisa mengalami kesalahan alamiah dalam berpikir seperti lupa dan bias memori. Dengan kata lain, kesaksian mereka tentang perilaku, ucapan, dan persetujuan dari Rasulullah belum tentu benar2Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY.. Apakah saya menuduh? Tidak. Ini bukan tuduhan, tetapi kenyataan (Baca Juga: Pandangan Soekarno terhadap Islam di Indonesia). Saya memiliki beberapa bukti yang akan saya tunjukkan di bawah ini. Semua hadis yang tertulis di bawah dikutip dari buku berjudul Hadits Shahih Bukhari Muslim: Himpunan Hadits Tershahih yang Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim karya Muhammad Fu’ad bin Abdul Baqi3Baqi, M. F. bin A. (2016). Hadits Shahih Bukhari Muslim: Himpunan Hadits Tershahih yang Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. (Terjemahan: Abu Firly Bassam Taqiy). Depok: Fathan Prima Media..

Tangisan Kepada Orang yang Meninggal

Abu Musa ra berkata: “Ketika Umar ra tertikam, maka Shuhaib menjerit: ‘Aduhai saudaraku!’ Maka Umar berkata kepadanya: ‘Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya mayit itu tersiksa karena tangisan orang yang masih hidup.'”

Abdullah bin Ubaidillah bin Abu Mulaikah ra berkata: “… Ketika Umar tertusuk karena upaya pembunuhan, tiba-tiba Shuhaib menangis dan berkata, ‘Wahai saudaraku… wahai kawanku!’ Maka Umar berkata: ‘Ya Shuhaib, apakah engkau menangisi aku sedang Rasulullah telah bersabda: ‘Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarga kepadanya’ Ibnu Abbas ra berkata: ‘Kemudian ketika Umar meninggal dunia, kuceritakan riwayat itu kepada ‘Aisyah ra, maka ‘Aisyah ra berkata: ‘Semoga Allah memberi rahmat kepada Umar! Demi Allah, Rasulullah saw tidak bersabda: ‘Sesungguhnya Allah akan menyiksa seorang mukmin karena tangisan keluarga kepadanya,’ tetapi Rasulullah saw bersabda: ‘Sesungguhnya Allah akan menambah siksa orang kafir karena tangisan keluarganya’ Lalu ‘Aisyah berdalil dengan ayat: ‘Waala taziru waa ziratun wizra ukhra (Dan tiada berdosa seorang karena dosa orang lain). Ibnu Abbas ra berkata: ‘Dan Allah-lah yang membuat orang menangis dan tertawa.'”

Dari hadis di atas, kita mendapati bahwa Umar bin Khaththab ra salah mengingat tentang ucapan Rasulullah ketika hendak meninggal, lalu istri Rasulullah, ‘Aisyah ra mengoreksi hadis yang disampaikan oleh Umar. Dari sini, kita bisa tahu bahwa kesalahan ingatan dapat terjadi dari sahabat dan itu merupakan hal yang wajar. Saya tidak bermaksud menyalahkan Umar bin Khaththab ra. Mungkin beliau berniat berbuat baik karena tidak ingin melihat sahabatnya (Shuhaib) bersedih.

Fenomena Isra Mi’raj

Sebagai umat muslim, kita semua tahu bahwa umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan salat lima waktu setelah Isra Mi’raj. Ketika Isra Mi’raj, Rasulullah pergi ke langit bersama malaikat Jibril untuk bertemu dengan Allah. Allah pun memerintahkan agar Rasulullah memerintahkan umatnya untuk salat lima puluh waktu. Lalu karena peringatan Nabi Musa as yang menyarankan Rasulullah untuk kembali bernegosiasi kepada Allah karena yakin umat Muhammad tidak akan sanggup salat lima puluh waktu dalam sehari, maka Rasulullah kembali ke langit. Akhirnya proses negosiasi pun sukses dan umat muslim hanya diwajibkan untuk salat lima waktu dalam sehari.

Terdapat dua hadis yang meriwayatkan fenomena ini secara sedikit berbeda. Perbedaanya terletak pada proses menurunnya jumlah salat dari lima puluh waktu menjadi lima waktu. Hadis yang dirawikan oleh Abu Dzar ra mengatakan bahwa berkurangnya salat lima puluh waktu menjadi lima waktu terjadi secara separuh-separuh, yaitu 50, 25, 12,5, hingga 5. Sedangkan hadis yang dirawikan oleh Malik bin Sha’sha’ah mengatakan bahwa berkurangnya salat lima puluh waktu menjadi lima waktu terjadi secara kelipatan sepuluh, yaitu 50, 40, 30, 20, 10, hingga 5 (hadis tidak saya kutip secara langsung karena terlalu panjang). Kedua hadis tersebut bersanad sahih, lantas apakah keduanya benar? Jika dipikirkan menggunakan akal sehat, tentunya hanya satu yang benar karena kedua hadis membahas fenomena yang sama. Kemungkinan, ada bias memori di ingatan sahabat. Kedua sahabat mengingat bahwa jumlah salat berkurang secara gradual, tetapi lupa berapa jumlah pastinya.

Saya tidak bermaksud “mengadu” hadis. Secara detail, pasti terdapat kekeliruan di antara salah satu hadis. Namun secara substansi, hadis tersebut menceritakan hal yang sama, yaitu Isra Mi’raj. Kedua perawi menyampaikan hadis tersebut dengan tujuan untuk menyampaikan kebaikan. Sebagai manusia biasa, bukankah kita pernah mengalami kesalahan mengingat ketika bercerita kepada teman? Maka, kesalahan mengingat yang sama juga dapat terjadi kepada sahabat.

Penutup (Mohon Dibaca dan Dipahami secara Menyeluruh)

Artikel ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyalahkan hadis, menyalahkan sahabat, apalagi menyalahkan agama Islam. Artikel ini bermaksud menyampaikan agar umat muslim mempelajari hadis dengan akal sehat, tidak sekadar mengikuti dogma tanpa berpikir sama sekali. Saya percaya bahwa keimanan umat muslim akan bertambah jika mampu memahami ajaran Islam dengan akal sehat (Baca juga: Agama dan Sains: Bisakah Keduanya Bersatu?). Saya juga percaya bahwa harmoni dan toleransi antar umat beragama dapat terjadi di Indonesia apabila akal kita mampu mengakomodasi ajaran agama yang dianut. Selain itu, bukankah dengan memahami agama dengan akal, berarti bahwa kita semakin dekat dengan-Nya? Bukankah Allah swt menyukai hamba-Nya yang berpikir tentang tanda-tanda kebesaran-Nya?

 

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published.


*