fbpx

Berdaya Pangkal Kaya: Kunci Sukses yang Terlupakan

Di era digital ini, kita sering dipaparkan motivasi-motivasi dari para pembisnis yang sukses. Mereka sering bilang bahwa kesuksesan dapat diraih dengan kemauan yang tinggi, kerja keras, berani mencoba, tidak takut gagal, berani mengambil risiko, dll. Semua kunci kesuksesan di atas tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak sepenuhnya benar pula. Sebelum memiliki kemauan yang tinggi, sebelum berani bertindak, dan sebelum bekerja keras, ada satu hal yang sangat krusial agar perasaan semangat berbisnis dapat muncul, yaitu berdaya.

Apa itu Berdaya?

Berdaya adalah memiliki kekuatan, kemampuan, dan tenaga untuk melakukan sesuatu. Makna lain dari berdaya adalah mempunyai akal, cara, dan sebagainya untuk mengatasi sesuatu1https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/berdaya. Dengan kata lain, orang yang berdaya ialah orang yang mampu melihat sebuah peluang bisnis dan mampu melakukan sesuatu untuk merealisasikan peluang bisnis tersebut (Baca Juga: Bisnis: Apakah Sekadar Mencari Keuntungan?). Peluang bisnis bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya kebutuhan masyarakat; adanya ilmu baru yang berkembang, tetapi belum teraplikasikan dalam bentuk produk; dan adanya perubahan struktur sosial di masyarakat2Drucker, P. F. (2002). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Pricinples. New York: HarperCollins..

Fungsi Menjadi Manusia Berdaya

Untuk memanfaatkan peluang bisnis, tentunya kita harus menjadi berdaya, yaitu memiliki pengetahuan, kemampuan (aplikasi dari pengetahuan untuk menciptakan produk jasa), dan keterampilan (aplikasi dari pengetahuan untuk menciptakan produk barang) untuk melakukan sesuatu sesuai dengan peluang bisnis yang ada. Tanpa berdaya, sebesar apapun semangat, keberanian bertindak, dan kerja keras, maka kesuksesan tidak akan tercapai.

Bagaimana Cara Menjadi Berdaya?

Lantas, bagaimana caranya menjadi orang yang berdaya? Hanya ada satu cara, satu kata, yaitu: belajar. Di era digital, ilmu telah tersebar di manapun, seakan berserakan di internet. Ilmu di internet pun terkemas dalam berbagai bentuk, misalnya artikel blog, artikel ilmiah (jurnal penelitian), berita online, buku, video, gambar, audio, dll. Untuk memperoleh ilmu secara maksimal agar menjadi berdaya di dunia bisnis, tentunya kita perlu cerdas dalam berliterasi agar proses pembelajaran yang kita lakukan berjalan dengan efektif dan efisien (Baca Juga: Cerdas Berliterasi: Jangan Sampai Salah Belajar!). Artinya, kita belajar sesuai dengan ilmu yang dibutuhkan untuk melakukan sesuai tanpa membuang waktu untuk mempelajari ilmu yang kurang diperlukan (bukan berarti ilmu yang dipelajari tidak bermanfaat. Hanya saja, ilmu tersebut kurang relevan terhadap tindakan/bisnis yang akan kita lakukan).

Belajar Pangkal Karya Optimal

Tentunya, jika kita melakukan sesuatu tanpa berdaya (memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan), maka kegiatan apapun yang dilakukan akan memiliki hasil yang tidak maksimal. Siapapun tidak ingin jika kegiatan/bisnis yang dilakukan berujung pada kegagalan yang tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga waktu dan tenaga. Mungkin di antara kalian ada yang berpikir “ah, kita kan bisa learning by doing (belajar sambil mencoba), buat apa harus capek-capek duduk membaca buku atau belajar di internet?” Ya, Anda benar, tidak ada yang salah dari pernyataan berikut. Namun, sadarkah kalian, bahwa learning by doing memiliki kelemahan yang luar biasa? Yaitu memakan biaya, waktu, dan tenaga yang lebih mahal jika dibandingkan duduk di depan buku/handphone/laptop.

Membaca Merupakan Kegiatan Membosankan?

Mungkin pembaca berpikir “belajar di depan buku/laptop kan merupakan kegiatan yang membosankan?” Ya, sekali lagi, Anda benar. Belajar memanglah membosankan, kalau yang dipelajari tidak sesuai dengan renjana (bahasa Indonesia-nya, passion) 3https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/renjana. Selain itu, dengan belajar, kita bisa menambah pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan, sehingga peluang terjadinya kesalahan ketika bertindak pun dapat terminimalisasi secara drastis. Bukan berarti belajar dapat membuat kita menghindari kesalahan 100%. Bukan berarti pula kita mengabaikan learning by doing sama sekali. Namun, dengan belajar, kita bisa menghindari kesalahan semaksimal mungkin dan learning by doing seminimal mungkin. Dengan kata lain, kita hanya akan melakukan learning by doing mengenai ilmu yang sama sekali tidak tertera di buku/internet. Artinya, kita mungkin akan mempelajari ilmu khusus yang hanya dimiliki oleh kita atau belum banyak dibagikan ke dunia maya. Menarik bukan?

Penutup

Kesimpulannya, untuk sukses, kita harus berdaya. Untuk berdaya, kita harus belajar. Ingat artikel sebelumnya yang berjudul Uang Itu Berbentuk Kertas atau Nilai Guna Produk? menyatakan bahwa, uang bukanlah sekadar kertas yang tertulis nominal Rp100.000 bergambar Soekarno-Hatta. Kapasitas keberdayaan (pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan) merupakan uang yang sudah melekat dalam diri kita. Artinya, ketika ilmu masuk ke dalam pikiran selagi belajar, maka sesungguhnya kita sedang menambah uang dalam diri kita. Hanya saja, uang tersebut belum dikonversikan ke bentuk barang/jasa, sehingga kita masih perlu semangat, kerja keras, dan keberanian dalam bertindak untuk mencapai kesuksesan.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*