fbpx

Dasar Ilmu Bahasa Tubuh yang Harus Diketahui Semua Orang

Males Baca? Nonton Aja Videonya!

Banyak orang yang sangat ingin mempelajari bahasa tubuh. Mereka berharap bahwa dengan mempelajari bahasa tubuh, mereka bisa membaca pikiran lawan bicaranya hanya dengan melihat gerak-gerik tubuhnya. Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya benar karena dengan bahasa bahasa tubuh (saja), kita tidak bisa membaca seluruh isi pikiran lawan bicara kita. Di sisi lain, anggapan seperti ini juga tidak sepenuhnya salah karena sesungguhnya bahasa tubuh mengekspresikan sebagian dari isi pikiran seseorang, yang dia lakukan secara tidak sadar. Tentu ketika berinteraksi dengan orang lain, sangatlah penting bagi kita untuk menangkap “pesan-pesan tersembunyi” yang disampaikan oleh lawan bicara kita secara tidak sadar.

Namun demikian, dalam menggunakan ilmu bahasa tubuh, kita harus menyadari kelemahan dan keterbatasan dari ilmu bahasa tubuh itu sendiri. Banyak orang yang hafal banyak sekali bahasa tubuh dan artinya (misalnya, menyilangkan tangan di depan badan artinya sedang menutup diri atau mengevaluasi pesan yang disampaikan lawan bicaranya, mengerinyitkan dahi artinya tidak paham atau tidak setuju dengan pendapat yang disampaikan oleh lawan bicara, menggigit kuku artinya sedang gugup atau cemas, dst), tetapi tidak bisa menggunakannya dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi karena seseorang menggunakan ilmu bahasa tubuh secara membabi-buta, tanpa menggunakan hati dan tanpa memperhatikan konteks dari munculnya suatu bahasa tubuh pada lawan bicara.

Pentingnya Konteks sebagai Dasar dari Ilmu Bahasa Tubuh

Konteks merupakan kata kunci dari artikel ini. Konteks merupakan dasar yang harus kita pahami sebelum mengaplikasikan ilmu bahasa tubuh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks bahasa tubuh, konteks adalah situasi dan peristiwa lain yang terjadi ketika suatu bahasa tubuh muncul. Misalnya, ketika lawan bicara kita menunjukan bahasa tubuh menyilangkan tangan di depan badan, sebaiknya kita juga memperhatikan suhu ruangan tempat kita berbicara dengannya (situasi). Tidak perlu pakai termometer, cukup kita rasakan dengan kulit kita sendiri, apakah suhu ruangan di sini panas atau dingin? Jika dingin, ada kemungkinan bahwa lawan bicara kita sedang kedinginan, bukan sedang menutup diri atau mengevaluasi pesan yang kita sampaikan. Selain itu, sebaiknya kita juga memperhatikan topik yang sedang kita bicarakan dengan dia (peristiwa lain). Jika topiknya agak tabu, sensitif, dan tidak dia sukai, lalu dia menunjukan bahasa tubuh menyilangkan tangan di depan badan, ada kemungkinan bahwa dia betul-betul sedang menutup diri dan mengevaluasi pesan yang kita sampaikan.

Keterbatasan Bahasa Tubuh

Di balik “kerennya” ilmu bahasa tubuh, ada beberapa keterbatasan yang harus kita sadari. Ilmu bahasa tubuh bukanlah ilmu “sakti” yang bisa mengungkap segala-galanya dalam pikiran seseorang. Jika tidak menyadari keterbatasannya, kita tidak akan bisa menggunakan ilmu bahasa tubuh dengan tepat. Yang paling fatal, kita malah menerima informasi yang salah dari ilmu bahasa tubuh yang tidak digunakan dengan benar.

1. Tidak Bisa Digunakan secara Tunggal

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, bahasa tubuh sangat terikat dengan konteks. Bahasa tubuh yang sama, dalam konteks yang berbeda bisa menghasilkan arti yang berbeda pula. Di satu sisi, orang bisa menyilangkan tangan di badan karena sedang menutup diri atau mengevaluasi pesan yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Di sisi lain, orang bisa menyilangkan tangan di badan karena kedinginan.

2. Hanya Mengindikasikan Suatu Pesan, Bukan Pesan yang 100% Benar

Bahasa tubuh belum tentu menghasilkan suatu pesan yang 100% benar. Misalnya, jika lawan bicara kita menyilangkan tubuhnya di badan –yang berarti bahwa dia sedang menutup diri atau mengevaluasi pesan yang kita sampaikan– belum tentu dia 100% tidak menyukai kita atau tidak setuju kepada kita. Meskipun secara umum memang betul bahwa dia tidak tertarik atau tidak setuju kepada kita, mungkin saja ada sebagian sisi dalam dirinya yang tertarik dan setuju kepada kita.

3. Memiliki Lebih dari Satu Makna

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, bahasa tubuh memiliki banyak makna. Misalnya, jika lawan bicara kita menyilangkan tubuhnya di badan, belum tentu dia sedang menutup diri atau mengevaluasi pesan yang kita sampaikan. Bisa jadi dia menyilangkan tubuhnya karena kedinginan, perutnya gatal tapi malu kalau menggaruk di depan kita, dsb. Bisa jadi juga dia “menutup diri” bukan karena tidak tertarik kepada kita, tetapi karena pikirannya sedang sibuk memikirkan hal lain yang lebih penting bagi dirinya, sehingga tidak memiliki pikirannya tidak memiliki “ruang” untuk menerima informasi yang kita sampaikan.

4. Bisa Dipalsukan

Bahasa tubuh sangat bisa dipalsukan, khususnya oleh orang-orang yang sudah paham ilmu bahasa tubuh. Mereka bisa saja menunjukan bahasa tubuh positif di hadapan kita agar kita merasa bahwa mereka tertarik kepada kita, meskipun sebenarnya mereka tidak tertarik kepada kita. Namun, jika kita cermat, sesungguhnya hal ini bisa kita deteksi. Tentu, bahasa tubuh yang “natural” memiliki perbedaan dengan yang “buatan”, misalnya terlalu kaku dan tidak sinkron dengan bahasa tubuhnya yang lain (misalnya, kakinya mengindikasikan bahwa dia tertarik kepada kita, tetapi tubuh dan ekspresi wajahnya tidak). Selain itu, bahasa tubuh “buatan” juga biasanya berlangsung lebih cepat daripada bahasa tubuh yang “alami”.

Kesimpulan

Dengan demikian, kita telah menyadari bahwa ilmu bahasa tubuh memiliki banyak keterbatasan. Namun, banyaknya keterbasan tidaklah berarti bahwa suatu ilmu sama sekali tidak berguna. Terlepas dari segala keterbatasan yang ada, segala ilmu pasti berguna, asalkan bisa diterapkan pada konteks yang tepat.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*