fbpx

Kelemahan Tes Kepribadian MBTI yang Tidak Disadari Banyak Orang

Males Baca? Nonton Videonya Aja!

Setiap orang yang pernah mempelajari kepribadian, pasti mengetahui tes MBTI. Bahkan, sering kita temui orang yang mencantumkan tipe kepribadiannya di bio akun media sosialnya berdasarkan tes MBTI (misalnya, INTJ, ESFP, ESTJ, INFP, dll). Memang, deksripsi dari tipe-tipe kepribadian berdasarkan tes MBTI sangatlah menarik dan menghibur. Dengan melakukan tes MBTI dan mempublikasikan hasilnya di media sosial, seseorang akan merasa bahwa eksistensi dirinya di dunia ini “diakui” oleh ilmu pengetahuan (psikologi).

Namun demikian, maraknya penggunaan tes MBTI menyebabkan terjadinya miskonsepsi tentang makna dari kepribadian itu sendiri. Banyak orang yang berpikir bahwa kepribadian adalah hasil dari tes kepribadian. Tentu, pemahaman seperti ini sangatlah keliru. Banyak orang yang jika ditanya “Seperti apa kepribadianmu?”, mereka akan menjawab “INTJ”. Jika orang lain diberi pertanyaan yang sama, lalu menjawab “INTJ” juga, apakah itu berarti dua orang tersebut memiliki kepribadian yang sama? Tentu saja tidak mungkin!

Penjelasan Tentang Tes MBTI

Tentu, di luar website ini, ada banyak sekali artikel yang membahas tentang Tes MBTI dengan lebih lengkap (misalnya, Wikipedia). Namun, artikel ini akan memberikan penjelasan secara singkat tentang tes MBTI, khususnya yang berkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan oleh keseluruhan artikel ini.

Tes MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) adalah tes kepribadian yang disusun oleh dua orang ibu dan anak yang bernama Isabel Briggs Myers dan Katharine Cook Briggs berdasarkan teori tipologi kepribadian dari Carl Gustav Jung (Jadi, sesuai namanya, tes MBTI itu disusun oleh Myers dan Briggs lho ya! Bukan oleh Carl Gustav Jung!). Menurut Jung, berdasarkan attitudes (sikapnya), manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu introvert dan ekstrovert. Introvert adalah seseorang yang energi psikologisnya berorientasi ke dalam diri (subjektivitas, imajinasi, fantasi, mimpi, dll), sedangkan ekstrovert adalah seseorang yang energi psikologisnya berorientasi ke luar diri (objektivitas, terkait dengan dunia luar, kenyataan, dll). Jung juga menjelaskan bahwa dua jenis manusia berdasarkan attitudes ini bagaikan Yin & Yang, yang berarti bahwa tidak ada orang yang 100% introvert ataupun 100% ekstrovert. Dalam Yin & Yang, selalu ada hitam di dalam putih dan selalu ada putih di dalam hitam. Kondisi lingkungan yang dipersepsikan seseorang pun dapat memengaruhi munculnya sisi introvert/ekstrovert dalam diri orang tersebut.

Lalu, setiap attitudes memiliki 4 functions (fungsi), yaitu thinking, feeling, sensing, dan intuitingThinking adalah aktivitas intelektual dari pikiran untuk memproduksi suatu ide. Feeling adalah aktivitas mengevaluasi suatu ide atau kejadian. Sensing adalah kemampuan seseorang untuk mempersepsikan stimulus menggunakan pancaindera, lalu “menerjemahkannya” ke dalam pikiran sadar. Intuiting adalah kemampuan seseorang dalam mempersepsikan sesuatu di luar pancaindera dan kesadarannya. Kombinasi dari attitudes dan functions inilah yang disebut dengan tipologi kepribadian, sehingga menghasilkan 8 tipe kepribadian manusia (lihat Tabel di bawah)1Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.2Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of Personality (11th ed.). Belmont: Cengage Learning.

Tipe Kepribadian Sifat
Ekstrovert Thinking Logis, objektif, dogmatis
Ekstrovert Feeling Emosional, sensitif, suka bergaul
Ekstrovert Sensing Ramah, mencari kesenangan, adaptif
Ekstrovert Intuiting Kreatif, pandai memotivasi orang lain, jeli dalam melihat peluang
Introvert Thinking Lebih tertarik kepada suatu ide daripada orang lain
Introvert Feeling Pendiam, tidak menunjukan emosi, memiliki emosi yang mendalam
Introvert Sensing Tidak terikat oleh dunia luar, mengekspresikan diri menggunakan estetika
Introvert Intuiting Lebih berfokus pada ketidaksadaran dalam diri daripada kenyataan di dunia luar

Berdasarkan teori di atas, Myers dan Briggs menyusun tes MBTI dan menambahkan satu kategori kepribadian lagi, yaitu Judging dan Perceiving. Formulasi dari tipe kepribadiannya pun sedikit diubah, sehingga membuat tes MBTI dapat menghasilkan 16 jenis kepribadian yang berasal dari kombinasi Introvert(I)/Extrovert(E), Sensing(S)/Intuiting(N), Thinking(T)/Feeling(F), Judging(J)/Perceiving(P).

Kelemahan Tes MBTI

Secara popularitas, tes MBTI berada di peringkat 1. Jauh lebih populer daripada tes kepribadian lain seperti Big Five Personality, 16PF, EPPS, dll. Bahkan, diperkirakan bahwa lebih 2 juta orang melakukan tes kepribadian ini setiap tahun3https://www.newyorker.com/magazine/2018/09/10/what-personality-tests-really-deliver. Namun secara ilmiah, tes MBTI memiliki sangat banyak kelemahan, di antaranya:

1. Lemah Secara Psikometri

Secara psikometri, setidaknya ada dua indikator yang menunjukan apakah suatu alat tes psikologi (dalam hal ini, tes MBTI) layak untuk digunakan kepada banyak orang. Indikator yang pertama ialah validitas, yaitu seberapa jauh suatu alat tes dapat mengukur sesuatu yang hendak dia ukur. Indikator yang kedua ialah reliabilitas, yaitu seberapa konsisten skor yang dihasilkan oleh seseorang dalam mengerjakan suatu alat tes pada waktu, tempat, dan situasi yang berbeda.

Validitas

Validitas dari tes MBTI dapat dikatakan lemah karena tidak jelasnya dasar dari dibuatnya 16 jenis kepribadian (INTJ,ESTP, dst). Jenis kepribadian menurut tes MBTI berbeda dengan teori kepribadian yang dijelaskan oleh Carl Gustav Jung. Jung juga tidak pernah berkata bahwa introvert/ekstrovert, sensing/intuiting/, thinking/feeling, berlawanan secara mutlak. Selain itu, dasar dari kehadiran judging/perceiving pun tidak begitu jelas. Bahkan, penelitian pun menunjukan bahwa tes MBTI gagal membedakan bipolaritas pada aspek yang diungkap (misalnya, gagal membedakan antara introvert dengan ekstrovert, thinking dengan feeling, sensing dengan intuiting, dan judging dengan perceiving)4Girelli, S. A., & Stake, J. E. (1993). Bipolarity in Jungian Type Theory and the Myers-Briggs Type Indicator. Journal of Personality Assessment, 60(2), 290–3015Helmes, E., Schermer, J. A., & Fraboni, M. (2012). Item Format and Social Desirability: Implications for Interpretation of the MBTI, 2(6), 361–368. Tentu, ketidakmampuan tes MBTI dalam membedakan karakteristik orang yang mengisinya sangatlah fatal. Bukankah kita melakukan tes kepribadian karena ingin mengetahui tipe kepribadian apa yang dominan pada diri kita? (misalnya, apakah kita cenderung introvert atau ekstrovert, cenderung thinking atau feeling, dan seterusnya?)

Reliabilitas

Lagi-lagi, reliabilitas tes MBTI dapat dikatakan lemah karena banyak orang yang melakukan tes MBTI berkali-kali, tetapi hasilnya berbeda-beda (misalnya, sekarang INTJ, besok INFP, lusa ESTP, minggu depan ESFJ, dan seterusnya)6https://www.psychologytoday.com/us/blog/give-and-take/201309/goodbye-mbti-the-fad-won-t-die7https://www.usatoday.com/story/news/nation/2019/05/06/myers-briggs-type-indicator-does-not-matter/3635592002/8https://www.medicaldaily.com/personality-tests-are-not-accurate-myers-briggs-personality-test-not-reliable-416652. Memang, salah satu definisi kepribadian adalah serangkaian karakter yang ada dalam diri manusia, yang bersifat relatif permanen, bukan permanen mutlak. Jadi, secara teoritik, sangatlah wajar apabila kepribadian seseorang bisa berubah dalam jangka waktu tertentu. Akan tetapi, sangatlah tidak wajar apabila kepribadian seseorang berubah dalam waktu yang sangat singkat (harian atau mingguan) dan terjadi pada banyak orang. Tentu, hal ini mengindikasikan bahwa tes MBTI bermasalah.

2. Tidak Memiliki Skala Validasi

Tidak seperti tes kepribadian lain (EPPS, 16PF, dll), tes MBTI tidak memiliki skala validasi. Skala validasi adalah suatu cara yang ada dalam suatu tes psikologi untuk mendeteksi apakah seseorang mengisinya dengan serius atau tidak. Dalam tes kepribadian lain, hasil dari tes kepribadian seseorang tidak dapat diskoring apabila tidak memenuhi kriteria skala validasi, karena orang tersebut dianggap tidak serius dalam mengisi tes kepribadian tersebut. Dalam tes MBTI, kita tidak pernah tahu apakah seseorang serius mengisinya atau tidak.

3. Lemahnya Dasar Teori yang Digunakan

Teori dari Carl Gustav Jung bukanlah “dewa” yang mengandung kebenaran mutlak. Banyak ahli psikologi lain yang mengkritik teori dari Jung. Kritik utama dan sangat terkait dengan tes MBTI ialah dasar dari teori Jung, yang berasal dari pengamatan Jung pribadi dan terlalu menekankan pada ketidaksadaran, sehingga sulit untuk dibuktikan secara empirik. Selain itu, dalam menyusun berbagai teorinya, Jung dinilai terlalu banyak terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat mistis, sehingga keilmiahan dari teorinya patut dipertanyakan9Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.10Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of Personality (11th ed.). Belmont: Cengage Learning..

Fungsi Dasar Tes Psikologi

Pada dasarnya, tes psikologi (termasuk tes kepribadian) diciptakan untuk melakukan asesmen psikologi kepada banyak orang dalam waktu singkat, misalnya dalam seleksi karyawan yang terdiri dari 1000 pelamar. Tentu, rekruiter (misalnya, HRD) tidak mungkin mewawancarai 1000 pelamar tersebut hanya untuk mengetahui kepribadiannya saja bukan? Oleh karena itu, diperlukan suatu alat tes psikologi agar bisa “memotret” kondisi psikologis (kepribadian, inteligensi, dan variabel psikologis lainnya) seseorang secara praktis.

Jadi, agaknya kurang tepat apabila kita menggunakan satu alat tes saja (misalnya, tes MBTI saja) untuk menilai diri kita secara utuh. Tentu, tes MBTI –dan tes kepribadian lainnya– bukanlah “dewa” yang bisa mengungkapkan segalanya dalam diri seseorang. Dalam asesmen psikologi yang baik, tidak mungkin hanya menggunakan satu metode saja untuk melakukan diagnosis pada diri seseorang. Bukankah dalam rekruitmen karyawan, pasti memiliki lebih dari dua tahap? Bahkan bisa sampai 5 tahap? Tidak mungkin ada rekruitmen karyawan yang isinya hanya tes kepribadian saja, tes kecerdasan saja, atau wawancara saja, bukan?

Makna Sesungguhnya dari Kepribadian

Kepribadian kita yang sesungguhnya ialah karakter-karakter dan perilaku-perilaku kita yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita melihat suatu kejadian, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita merespons sesuatu yang kita alami, itulah kepribadian kita! Sesungguhnya setiap orang punya “kapasitas dasar” untuk menilai bagaimana kepribadian dirinya sendiri dan orang lain (meskipun pada kenyataannya, “kapasitas dasar” yang kita miliki sangat minimum, alangkah lebih baik apabila kita mempelajari ilmu psikologi kepribadian dan pengukuran kepribadian). Kepribadian manusia tidaklah sesimpel kombinasi 4 huruf seperti INFP, ESTJ, atau apapun itu. Kepribadian kita adalah kita. Tidak mungkin ada dua orang yang kepribadiannya sama persis, meskipun hasil tes MBTI-nya sama-sama ESTP.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*