fbpx

Kitab Klasik Bukanlah Kitab Suci

Kitab Klasik

Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin, yang berarti rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam. Rahmat tersebut disampaikan melalui dua pintu utama, yaitu Alquran dan hadis. Alquran adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantaraan malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia1https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/alquran. Sedangkan hadis adalah sabda, perbuatan, takrir (ketetapan) Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam2https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hadis. Hadis juga berfungsi sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran. Jadi, pada dasarnya, sumber ajaran Islam ialah Alquran yang langsung diucapkan oleh Allah swt dan hadis yang merupakan aplikasi langsung dari ajaran Islam dalam bentuk ucapan dan perbuatan dari manusia, Rasulullah saw (Baca Juga: Kitab Tafsir Alquran: Haruskah Dipelajari?). Sejatinya, cukuplah bagi umat Islam untuk memahami Alquran dan hadis agar dapat mempelajari dan mengaplikasikan  ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan Kitab Klasik

Selain Alquran dan hadis, terdapat juga kitab yang banyak dipelajari oleh umat Islam, yaitu kitab klasik. Kitab klasik adalah buku yang berisi aplikasi dari ajaran Islam yang dituliskan oleh ulama pada beberapa abad yang lalu, misalnya imam empat mahzab (Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hambali), Al-Ghazali, Ibnu Sina (Di Barat, dikenal sebagai Avicenna), Al-Kindi, Al-Farabi, dll. Sejak abad ke-7 sampai abad ke-16, ada banyak sekali ulama klasik yang lahir pada zamannya. Jika disebutkan namanya satu persatu, maka artikel ini hanya akan berisi nama-nama ulama klasik tersebut. Setiap ulama menuliskan kitab klasik untuk membagikan ilmu yang dimilikinya. Ilmu tersebut tidak hanya sebatas pada ajaran Islam yang bersifat ritualistik, tetapi juga ilmu umum (sains [misalnya, Ibnu Sina/Avicenna yang menuliskan kitab klasik kedokteran dan dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern di Dunia3https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina])”. Tujuan utama para ulama menuliskan kitab klasik ialah untuk mengaplikasikan ilmu (agama dan sains) sesuai dengan zamannya, kepada masyarakat sekitar yang hidup pada zamannya4Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY. (Baca Juga: Agama dan Sains: Bisakah Keduanya Bersatu?). Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa kitab klasik tersebut hanya benar pada zamannya5Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY..

Kitab Klasik Ditulis oleh Manusia

Seringkali, kita mendapati orang Islam yang mempelajari kitab klasik layaknya Alquran dan hadis. Maksudnya, mereka mempelajari kitab klasik secara dogmatis6bersifat mengikuti atau menjabarkan suatu ajaran tanpa kritik sama sekali (Sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/dogmatis), yaitu diikuti, dipercaya, dan dihapal tanpa dikritisi kembali menggunakan akal sehat. Mereka lupa, bahwa yang menulis kitab klasik sejatinya hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan maupun Nabi.

Artikel ini tidak bermaksud menyalahkan kitab klasik dan menghina atau merendahkan ulama klasik. Artikel ini juga tidak bermaksud menghina atau menyalahkan pembelajar kitab klasik. Belajar memanglah boleh dari mana pun, bahkan lintas zaman sekali pun. Akan tetapi, kita semua harus sadar bahwa yang menulis kitab klasik hanyalah manusia biasa yang kebenarannya belum tentu 100% mutlak7Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY.. Bahkan, mungkin yang tertulis di kitab klasik hanya benar pada zamannya, karena konteksnya sudah tidak sesuai dengan kondisi kita saat ini. Kitab klasik sepatutnya hanya dipelajari, bukan “diamini”, dihapal, dan diikuti secara dogmatis tanpa menggunakan akal sehat8Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY..

Dipelajari Bukan Berarti Diikuti Secara Mutlak

Yang dimaksud dipelajari ialah mengambil ilmu dengan cara mengkritisi ajaran yang tertulis di kitab klasik menggunakan akal sehat, sesuai dengan konteks kita saat ini. Kita seringkali lupa bahwa adakalanya, suatu ilmu dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan konteksnya. Sejatinya, Islam merupakan progres, yang berarti bahwa ajarannya tidak terikat oleh waktu, bersifat fleksibel, dan terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman9Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY.. Perkembangan Islam terhambat karena cara berpikir umat Islam yang bersifat kolot, kaku, dogmatis, dan tidak terbuka terhadap perkembangan zaman10Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY.. Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno menganalogikan bahwa ilmu Islam bergerak turun-temurun ke anak-cucu kita hanyalah abu atau arangnya, bukan apinya yang berkobar dan menyala untuk menerangi dunia11Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY.. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu kritis dan menggunakan akal sehat yang telah diberikan Allah kepada kita ketika mengamalkan ajaran Islam.

Sebaiknya, Bagaimana Sikap Kita terhadap Kitab Klasik?

Ulama terus lahir, “kitab klasik” yang modern pun terus terproduksi dalam bentuk buku-buku Islam. Buku tersebut memanglah ditulis oleh orang yang berilmu, tetapi sejatinya, mereka hanyalah manusia biasa yang belum tentu 100% benar. Kita memiliki akal sehat yang juga berhak memahami ilmu-ilmu tersebut, bukan hanya sebagai pengikut yang menghapal dan mengikuti apa kata mereka secara dogmatis. Jika ingin mempelajari Islam, sebaiknya kita langsung belajar dari jantungnya, yaitu Alquran dan hadis. Bacalah langsung sumber utamanya, niscaya akal dan hatimu akan menuntunmu menuju kebenaran.

 

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published.


*