fbpx

Kitab Tafsir Alquran: Haruskah Dipelajari?

Kitab Tafsir

Alquran adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Setelah itu, Rasulullah menyampaikan kepada seluruh umatnya. Hingga saat ini, dakwah akan kebenaran Alquran terus berlanjut, khususnya di Indonesia yang merupakan negara dengan umat muslim terbanyak di dunia1https://tirto.id/benarkah-ri-negara-dengan-penduduk-muslim-terbesar-dunia-cuGD. Tentunya, seluruh umat muslim mempercayai Alquran sebagai kebenaran sejati yang langsung berasal dari Allah.

Tafsir Harus Dilakukan untuk Memaknai Alquran

Untuk memperoleh makna sebenarnya dari Alquran, kita harus melakukan tafsir, yaitu upaya sungguh-sungguh untuk membuka atau menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat Alquran2Shihab, M. Q. (2019). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran. Tangerang: Lentera Hati.. Tafsir harus dilakukan karena tidak semua ayat Alquran memiliki sifat muhkam (jelas maknanya). Sesuai dengan definisi tafsir di atas yaitu “upaya sungguh-sungguh…“, untuk memahami kandungan ayat Alquran, seseorang harus berpikir dan bila perlu menggunakan perangkat lain yang dibutuhkan (ayat yang lain, hadis, atau ilmu lain) (Baca Juga: Pandangan Soekarno terhadap Islam di Indonesia). M. Quraish Shihab, salah satu ahli tafsir termahsyur di dunia memberikan analogi: “Sedekat apa pun jarak antara sesuatu dengan Anda, Anda tidak dapat menjangkaunya tanpa usaha atau gerak, lebih-lebih jika Anda tidak mengetahui bagaimana cara mengetahuinya atau mana jalan yang harus ditempuh”3Shihab, M. Q. (2019). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran. Tangerang: Lentera Hati.. Dengan kata lain, tanpa adanya usaha untuk berpikir, maka tafsir ayat Alquran mustahil untuk dilakukan.

Kitab Tafsir Bukanlah Kitab Suci

Untuk memperoleh makna Alquran, banyak muslim yang mempelajari kitab tafsir yang ditulis oleh ulama. Salah satu yang paling populer ialah kitab tafsir yang ditulis oleh Ibnu Katsir, yang bukunya telah beredar di berbagai toko buku di Indonesia. Padahal, Ibnu Katsir hidup pada abad ke-14, yang berarti sekitar 700 tahun lalu4https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Katsir. Sangat mungkin terjadi jika hasil tafsir yang dilakukan oleh Ibnu Katsir telah termakan oleh zaman sehingga perlu penyesuaian atau bahkan tidak bisa sama sekali untuk diterapkan pada zaman ini (Baca Juga: Kitab Klasik Bukanlah Kitab Suci).

Kitab Tafsir Bukanlah Makna Alquran yang Sesungguhnya

Dewasa ini, seringkali didapati anggapan berupa “Apabila belum membaca kitab tafsir dari ulama X, maka Anda belum membaca Alquran” (Baca Juga: Apakah Hadis 100% Benar?). Terkesan bahwa “isi sejati” dari Alquran terletak di kitab tafsir yang ditulis oleh ulama (manusia), bukan di Alquran yang langsung difirmankan oleh Allah. Padahal, setiap penafsir mungkin memiliki metode penafsiran yang sedikit berbeda dan hasil tafsir tidak akan pernah lepas dari kecenderungan si penafsir5Shihab, M. Q. (2019). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran. Tangerang: Lentera Hati.. Sampai kapanpun, manusia tidak akan bisa mencapai kebenaran yang absolut. Manusia hanya bisa terus berupaya untuk mendekati kebenaran yang diturunkan oleh Allah (Alquran). Perlu disadari bahwa sekeras apapun kita melakukan tafsir, kebenaran absolut hanya berasal dari Allah6https://www.youtube.com/watch?v=y0io_dTxzk0.

Kitab Tafsir Dibaca untuk Dipelajari, Bukan Dihapal

Kitab tafsir pastilah ditulis oleh orang yang berilmu. Namun, sepandai apapun manusia, pasti dia tidak mungkin sempurna. Oleh karena itu, tidaklah salah untuk mempelajari kitab tafsir dari ulama terdahulu karena pasti mengandung ilmu. Mempelajari yang dimaksud ialah dipikir dan dikritisi menggunakan akal sehat, lalu diadaptasi terlebih dahulu untuk diterapkan di kehidupan nyata pada zaman sekarang. Kitab tafsir bukanlah kitab yang 100% “disalin” untuk diterapkan pada saat ini, apalagi sampai dianggap bahwa itulah “isi Alquran” yang sesungguhnya.

Setiap Orang Adalah Penafsir Alquran

Setiap orang memiliki hak untuk berkomunikasi dengan Allah dengan cara membaca Alquran secara langsung, tanpa perantara apapun. Untuk memaknai Alquran, tafsir Alquran dapat dilakukan menggunakan beberapa cara, misalnya dengan belajar bahasa Arab, mempelajari metode tafsir tertentu, atau paling minimal mempelajari Alquran melalui terjemahan versi bahasa Indonesia. Jika ingin memahami metode tafsir Alquran, kamu bisa mempelajari buku berjudul Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, yang tertera di catatan kaki dan saya gunakan sebagai referensi untuk menulis artikel ini7Shihab, M. Q. (2019). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran. Tangerang: Lentera Hati.. Yang terpenting, kita harus sadar bahwa Alquran tidak bisa dipahami secara literal dan harus dipahami sesuai dengan konteksnya8Shihab, M. Q. (2019). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran. Tangerang: Lentera Hati.9Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY.. Bahkan, memahami bahasa Arab pun bukanlah jaminan 100% untuk bisa menafsirkan Alquran10Shihab, M. Q. (2019). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Quran. Tangerang: Lentera Hati.. Oleh karena itu, biarkan akal dan hati kita yang memaknai isi Alquran sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Ayo Membaca Alquran!

Banyak orang yang merasa “tidak pantas” untuk mempelajari (bukan sekadar membaca) Alquran karena tidak memiliki ilmu untuk memahami Alquran. Padahal, sesungguhnya ilmu akan bertambah apabila kita mau mempelajari Alquran, bukan menunggu berilmu terlebih dahulu untuk mempelajari Alquran. Jika profesor-profesor Barat yang bukan beraga Islam saja “berani” membaca Alquran untuk melakukan penelitian dan menemukan tanda-tanda kebesaran Allah11Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY. sehingga ilmunya bertambah, mengapa kamu yang beragama Islam harus “takut”?

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published.


*