fbpx

Kunci Menjinakkan Gairah Seks dalam Diri

gairah seks

Artikel sebelumnya yang berjudul Apakah Horny Cermin dari Hati Kotor dan Tidak Suci? telah menjelaskan bahwa normal bagi seseorang jika memiliki gairah seks. Gairah seks sama sekali tidak menggambarkan “kesucian” hati seseorang. Sebaliknya, gairah seks merupakan fitrah/naluri dasar yang keberadaannya harus diakui dan syukuri. Adanya gairah seks menandakan bahwa seseorang sehat baik secara fisik maupun psikologis. Sebaliknya, tidak ada atau kurangnya gairah seks mungkin mengindikasikan adanya gangguan mental tertentu, seperti depresi, kecemasan, fobia, dan disfungsi seksual1American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington: American Psychiatric Publishing2Barker, M.-J. (2018). The Psychology of Sex. New York: Routledge3Durand, V. M., & Barlow, D. H. (2013). Essentials of Abnormal Psychology (6th ed.). Belmont: Cengage Learning..

Merasa Dikendalikan Gairah Seks

Sebagian orang merasa terganggu karena menilai bahwa dirinya memiliki gairah seks yang tinggi. Tidak jarang, mereka merasa dikendalikan oleh gairah seks sehingga “tubuhnya seakan bergerak sendiri” untuk melakukan masturbasi atau menonton video porno. Fenomena ini saya ketahui dari curahan hati (curhat) teman-teman saya dan banyaknya artikel-artikel di internet tentang tanya jawab hingga tips-tips untuk mengatasi kecanduan masturbasi atau pornografi4https://www.klikdokter.com/tanya-dokter/read/3609294/kebiasaan-onani-dan-sulit-mimpi-basah5https://www.alodokter.com/komunitas/topic/kecanduan-26https://www.alodokter.com/komunitas/topic/bagaimana-cara-berhenti-onani. Bahkan di Indonesia, sering kita temui berita tentang pemerkosaan atau pencabulan di media massa, baik terhadap anak-anak7https://news.detik.com/berita/d-4443884/ironi-guru-agama-cabuli-anak-didiknya maupun orang dewasa8https://regional.kompas.com/read/2019/03/12/10024551/terapis-mitra-go-massage-diperkosa-pelanggan-di-bandung-ini-kata-go-jek. Padahal, Indonesia memiliki budaya yang mengecam adanya seks bebas.

Pelecehan Seksual Paling Banyak Terjadi di Timur Tengah

Fakta menarik ditemukan bahwa kasus pelecehan seksual lebih sering terjadi di negara-negara Timur Tengah (Afganitas, Syria, Saudi Arabia, Yaman, Somalia, dan Pakistan) daripada Barat (Amerika Serikat dan Eropa)9http://poll2018.trust.org/10https://tirto.id/gunung-es-pelecehan-seksual-di-arab-saudi-cjY6. Padahal, negara-negara Timur Tengah memiliki budaya di mana topik seks dianggap tabu untuk dibahas. Sebaliknya, negara-negara Barat cenderung memiliki budaya yang terbuka terhadap topik seks.

Cara Berpakaian: Timur Tengah vs Barat

Cara berpakaian masing-masing daerah merepresentasikan sikapnya (terbuka atau tertutup) terhadap seks. Masyarakat Timur Tengah mengenakan pakaian yang “tertutup” (pakaian longgar, gamis, jilbab, dan cadar), sedangkan Barat mengenakan pakaian yang “terbuka” (tanktop, celana pendek, bikini, dan baju ketat). Lantas, mengapa pelecehan seksual lebih sering terjadi di Timur Tengah? Bukankah wanita-wanita di sana sudah berpakaian tertutup sehingga tidak menggoda para lelaki yang relatif lebih mudah terangsang secara seksual melalui pandangan?11Lehmiller, J. J. (2018). The Psychology of Human Sexuality (2nd ed.). Hoboken: John Willey & Sons.

Tabu Membahas Seks: Gairah Seks Dianggap “Kotor”

Secara tidak langsung, budaya tentang tabunya membahas seks menyebabkan seks dipersepsikan sebagai topik atau kegiatan yang jorok, kotor, dan penuh dosa. Akibatnya, orang-orang enggan mengakui gairah seks dalam dirinya. Padahal, meskipun pikiran kita tidak mau mengakui, gairah seks tetap ada di dalam diri, dan tertekan ke alam tidak sadar. Ingat, selama tubuh masih terus memproduksi hormon testosteron, estrogen, dan oksitoksin, maka gairah seks pasti ada dalam diri seseorang12Lehmiller, J. J. (2018). The Psychology of Human Sexuality (2nd ed.). Hoboken: John Willey & Sons..

Bagaimana Sikap Masyarakat Indonesia terhadap Seks?

Pada era digital ini, tentu informasi tentang seks dapat diakses dengan sangat mudah. Banyaknya advokasi tentang edukasi seks dan kesehatan reproduksi telah membuat masyarakat Indonesia memiliki pikiran yang terbuka terhadap seks. Namun, advokasi tersebut belum tersebar merata ke seluruh masyarakat Indonesia karena hampir seluruh advokasi ilmu seks dilakukan di dunia maya (media sosial, blog, dan Youtube). Dengan kata lain, hanya generasi milenial (kelahiran tahun 1980 atau lebih13Çelikdemir, D. Z., & Tukel, I. (2015). Incorporating Ethics into Strategic Management with Regards to Generation Y’s view of Ethics. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 207, 528-535.) dan masyarakat di kota besar, yang telah memperoleh edukasi seks karena memiliki keahlian dan kemudahan untuk mengakses internet.

Edukasi Seks Membuka Pikiran Tentang Seks

Dengan adanya edukasi seks, masyarakat akan terbuka pikirannya untuk menerima ilmu tentang seks, sehingga seks tidak dianggap sebagai topik yang tabu. Sebaliknya, ilmu seks akan dianggap menyenangkan dan berfungsi sebagai bekal untuk membangun keharmonisan rumah tangga. Selain itu, pembelajar ilmu seks akan senang untuk menerima bahwa dirinya memiliki gairah seks yang juga memiliki hak untuk dipuaskan layaknya makan dan minum (dengan tetap menjalankan norma yang berlaku atau ajaran agama masing-masing).

Kunci Menjinakkan Gairah Seks: Mengakui Keberadaannya di Dalam Diri

Ilmu psikologi menjelaskan bahwa setiap manusia pasti memiliki shadow, yaitu “sisi gelap” atau sisi tersembunyi dalam diri yang tidak ingin diceritakan ke orang lain (mungkin hanya diceritakan kepada orang terdekat) (Baca Juga: Sisi Gelap sebagai Pelekat Hubungan dengan Orang Tercinta). Shadow terdiri dari nafsu dan “naluri kebinatangan” yang menjadi insting dasar pada setiap manusia untuk bertahan hidup, termasuk seks14Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.15Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of Personality (11th ed.). Belmont: Cengage Learning.. Untuk mengendalikannya, pikiran kita harus mengakui keberadaan shadow dalam diri. Jika tidak, shadow akan “meledak” sewaktu-waktu dan menguasai akal pikiran kita, sehingga “mengendalikan” tubuh kita untuk mencari dan memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengakui keberadaan gairah seks dalam diri. Dengan diakui, gairah seks akan terasa lebih jinak, dalam artian lebih mengasyikkan untuk dipikirkan dan dirasakan, serta lebih mudah untuk dikontrol. Bukankah seharusnya, seks merupakan kenikmatan dunia yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa?

Catatan: Saya tidak berniat menghina agama apapun. Saya juga tidak bilang bahwa satu budaya lebih baik dari budaya yang lain. Yang dibahas pada artikel ini ialah proses mental dari gairah seks pada manusia. Mohon membaca artikel ini secara menyeluruh agar tidak terjadi kesalahpahaman.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*