fbpx

Kunci Utama Menjadi Teman Curhat Terbaik di Dunia

Males Baca? Nonton Videonya Aja!

Setiap manusia pasti pernah memiliki masalah dalam hidupnya. Ketika sedang menghadapi suatu masalah, banyak orang yang memilih untuk curhat kepada orang terdekatnya, misalnya sahabat, pacar, orang tua, saudara, dsb –setiap orang punya orang terdekatnya masing-masing. Memang, curhat belum tentu bisa menyelesaikan masalah yang sedang seseorang hadapi. Namun, paling tidak, curhat bisa mengurangi tingkat stress dari seseorang yang sedang menghadapi masalah.

Setiap orang pasti memiliki orang terdekat yang bisa dicurhati. Kita mungkin adalah orang terdekat dari orang-orang yang kita cintai, sehingga adakalanya mereka datang kepada kita untuk curhat. Namun, sangat dekatnya hubungan kita dengan seseorang tidak begitu saja membuat kita menjadi teman curhat yang hebat. Menjadi teman curhat merupakan suatu keterampilan, yang perlu dipelajari dan dilatih agar orang yang curhat kepada kita mendapatkan kenyamanan maksimal.

Secara instingtif, seseorang cenderung memilih untuk curhat kepada orang terdekatnya. Padahal, orang terdekatnya, meskipun mereka sudah berteman selama 100 tahun, belum tentu memiliki kemampuan untuk menjadi teman curhat yang hebat. Dengan kata lain, kita perlu menyadari bahwa tingkat kedekatan hubungan dengan kemampuan untuk menjadi teman curhat merupakan dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan sama sekali.

Miskonsepsi Tentang Cara Menjadi Teman Curhat yang Baik

Banyak orang berpikir bahwa teman curhat yang baik adalah yang bisa memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan orang yang sedang curhat. Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi tidak juga sepenuhnya benar. Memang, solusi merupakan salah satu indikator apakah proses curhat yang berlangsung sukses atau tidak. Namun, sadarilah bahwa proses curhat bisa sukses tanpa hadirnya suatu solusi! Bahkan, proses curhat yang tanpa solusi bisa lebih sukses daripada proses curhat yang dengan solusi. Mengapa bisa demikian?

Seringkali, tujuan utama seseorang melakukan curhat ialah sekadar mengungkapkan apa yang dia pikirkan dan rasakan, bukan mencari solusi secara langsung! Artinya, respons terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orang yang dicurhati ialah mendengarkan. Dengan mendengarkan apa yang dia sampaikan, kita berperan sebagai reflektor dari permasalahan yang sedang dia hadapi. Sebelum kita memutuskan untuk memberikan solusi secara langsung, biarkanlah dia merefleksikan permasalahan yang dia hadapi, lalu mencari solusi terbaik bagi permasalahannya sendiri. Adakalanya, masalah yang dia hadapi akan selesai “dengan sendirinya”, tanpa perlu ada solusi dari kita! Tentu, kita ingin menjadi teman curhat yang terbaik, yang bisa membuat orang yang kita cintai mendapatkan kenyamanan maksimal, bukan?

Sebelum masuk ke inti artikel ini, perlu kita sadari bahwa menjadi teman curhat sangat jauh berbeda dengan konsultasi profesional! Jika Anda adalah konsultan profesional seperti psikolog, psikiater, dokter, konsultan bisnis, nutrisionis, dsb, Anda memang wajib untuk memberikan solusi karena klien memang membayar Anda untuk itu! Namun, dalam proses curhat di kehidupan sehari-hari, solusi memang cukup penting, tetapi bukan yang utama! Kunci utama yang menjadikan seseorang sebagai teman curhat terbaik di dunia bukanlah kemampuannya dalam memberikan solusi, tetapi kemampuannya dalam mendengarkan.

Mendengarkan vs Mendengar

“Mendengarkan” dan “mendengar” merupakan dua kata yang sangat mirip, tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. Kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris, mendengarkan artinya listening, sedangkan mendengar artinya hearing. Dalam bahasa Inggris pun, terkesan bahwa listening dan hearing merupakan sinonim, padahal sebenarnya tidak. Untuk mengetahui perbedaan keduanya dengan lebih detail, marilah kita bahas satu-persatu, dimulai dari mendengar.

Mendengar

Mendengar adalah aktivitas fisiologis ketika gelombang suara sampai ke gendang telinga. Definisi dari mendengar hanya cukup di situ, tidak ada kelanjutannya. Dengan kata lain, mendengar merupakan suatu proses yang pasif. Mendengar tidak memerlukan usaha aktif dari pikiran untuk memaknai pesan yang kita terima dari lawan bicara1Wood, J. T. (2018). Communication in Our Lives (8th ed.). Boston: Cengage Learning.

Mendengarkan

Jauh berbeda dari mendengar, mendengarkan adalah usaha aktif dalam menerima, menyaring, memaknai, merespons, dan mengingat pesan yang disampaikan oleh orang lain. Artinya, mendengarkan adalah suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dan memerlukan energi . Kita tidak akan lelah apabila terlalu banyak mendengar, tetapi pasti akan kelelahan apabila terlalu banyak mendengarkan. Selain itu, berbeda dengan mendengar yang hanya menggunakan telinga, mendengarkan melibatkan organ tubuh selain telinga (misalnya, mata untuk menangkap pesan nonverbal dari lawan bicara)2Wood, J. T. (2018). Communication in Our Lives (8th ed.). Boston: Cengage Learning.

Dari penjelasan di atas, tentu kita sudah sangat memahami perbedaan yang sangat jauh dari mendengar dan mendengarkan. Agar perbedaan tersebut lebih jelas, silakan lihat tabel di bawah!

Mendengarkan (Listening) Mendengar (Hearing)
Lebih dari sampainya gelombang suara ke gendang telinga Sekadar ketika gelombang suara sampai ke gendang telinga
Memerlukan perhatian penuh, di sini dan saat ini (here and now) Bisa dilakukan sambil memikirkan hal lain
Dilakukan dengan sengaja (aktif) Dilakukan tanpa sengaja (pasif)
Memerlukan energi dan usaha Tidak memerlukan energi dan usaha
Melibatkan organ selain telinga Hanya menggunakan telinga

Langkah-Langkah Mendengarkan

Setelah memahami makna dari mendengarkan, tentu sebaiknya kita mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kepada orang yang sedang curhat kepada kita. Memang, mendengarkan merupakan sesuatu yang kompleks dan abstrak, sehingga mungkin membuat sebagian orang bingung untuk memulai dari mana dalam mempraktikannya. Namun, ada langkah-langkah praktis yang bisa kita ikuti agar proses mendengarkan menjadi lebih mudah. Apabila sudah paham dan terbiasa, langkah-langkah mendengarkan ini akan kita lakukan secara “otomatis” ketika dia curhat kepada kita, tanpa perlu kita hapalkan.

1. Hearing

Bisa mendengar pesan yang disampaikan oleh dia merupakan tahap pertama dari mendengarkan. Jadi, sebelum proses curhat dimulai, pastikan organ telingamu dalam keadaan sehat. Proses curhat pun sebaiknya dilakukan di tempat yang bebas dari gangguan suara lain (misalnya, suara musik yang terlalu kencang, suara motor lewat, dll)

2. Attending

Attending adalah menghadirkan pikiran dan perasaan kita secara penuh. Jangan sampai telinga kita mendengar keluh-kesahnya, tetapi pikiran kita malah memikirkan hal lain. Pada kenyataan, seringkali kita berjumpa dengan orang-orang yang gagal pada tahap ini.

3. Understanding

Understanding adalah memahami pesan yang dia sampaikan secara utuh. Jadi, apabila ada pesan dari dia yang kurang jelas, atau kurang kita pahami, sehingga kita merasa membutuhkan penjelasannya lebih lanjut, jangan pernah ragu untuk bertanya! Sebagai pendengar dan teman curhat, sebaiknya kita juga jujur dan aktif untuk menjelaskan bagian mana dari penjelasan dia yang tidak kita pahami, sehingga proses mendengarkan pun bisa berlangsung lebih maksimal. Gagalnya kita dalam memahami pesan yang dia sampaikan agar berdampak fatal ke tahap berikutnya.

4. Responding

Responding adalah menanggapi pesan yang dia sampaikan dengan tepat. Tentu, kita mungkin bisa memberi tanggapan dengan tepat apabila kita tidak memahami pesan yang dia sampaikan secara utuh! (terkait tahap nomor 3). Yang dimaksud “tepat” pada tahap ini sangat tergantung pada situasi, kondisi, dan topik yang dibicarakan. Tidak ada jawaban pasti dari yang dimaksud dengan “tepat”. Misalnya, jika dia curhat kepadamu tentang sesuatu yang menyedihkan (katakanlah, karena habis ditinggal mati oleh orang yang dia cintai), maka respons yang tepat dari kita ialah menanggapinya dengan suara yang rendah dan lembut, mungkin bisa ditambah dengan ucapan “yang sabar ya…”, atau bila perlu bisa kita tambahkan dengan pelukan hangat.

Responding memang bisa, tetapi tidak harus berupa solusi! Apabila kita ingin merespons dengan solusi, pastikan situasi dan kondisinya sudah tepat! Sebaiknya, kita pastikan dahulu bahwa dia sudah menceritakan seluruh yang ingin dia ceritakan (tidak ada lagi yang ingin dia bicarakan), beban emosinya sudah berkurang, dan kita sudah betul-betul memahami isi pikiran dan perasaannya. Jangan sampai dia merasa tidak nyaman kepada kita, karena kita terkesan sok tahu dan tidak mau mendengarkan apa yang dia sampaikan.

Responding juga tidak harus berupa kata-kata panjang. Ucapan-ucapan pendek seperti “Hmmm…”, “Okay…”, “Oh iya?”. “Oh gitu…”, “Terus?”, dll juga termasuk responding. Responding dengan ucapan pendek berfungsi agar dia tetap merasa sedang kita dengarkan ketika dia sedang mencurahkan seluruh keluh-kesahnya.

5. Remembering

Tahap terakhir dari rangkaian proses mendengarkan ialah remembering, yaitu mengingat pesan yang dia sampaikan. Tahap ini juga sangat penting karena curhat tidak selalu selesai dalam sekali duduk. Bahkan apabila curhat hanya berlangsung dalam sekali duduk pun, sebaiknya kita mengingat pesan seluruh pesan yang dia sampaikan (dari awal hingga akhir) agar mendapat kesimpulan yang utuh. Tentu, kita tidak perlu mengingat kata demi kata. Yang perlu kita ingat cukup substansi dan hal-hal penting yang terjadi selama proses curhat berlangsung.

Mendengarkan Ialah Kunci Utama Menjadi Teman Curhat Terbaik di Dunia

Apabila kita dicurhati oleh dia, maka kehadiran kita untuk mau mendengarkan jauh lebih penting daripada solusi yang kita tawarkan. Tentu, hadir yang dimaksud bukan sekadar adanya tubuh fisik kita di samping dia. Lebih jauh, hadir yang dimaksud melibatkan pikiran dan perasaan kita yang siap menjadi tempat bagi dia untuk merefleksikan diri dan mencapai ketenangan.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*