fbpx

Mengapa Cinta Segitiga Bisa Terjadi?

Cinta Segitiga

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta kepada dua orang, atau bahkan lebih? Misalnya, ketika kamu sedang jomblo dan sedang dekat dengan beberapa lawan jenis, setidaknya ada dua orang yang menarik hati dan membuatmu bingung untuk memilih salah satu. Selain itu, pernahkah kamu jatuh cinta kepada seseorang, tetapi ternyata orang tersebut juga mencintai orang lain? Jika iya, maka berarti kamu pernah mengalami cinta segitiga, yaitu hubungan romantis yang melibatkan tiga orang1https://id.wikipedia.org/wiki/Cinta_segitiga. Bahkan mungkin tidak hanya cinta segitiga, tetapi juga segiempat, segilima, dan seterusnya.

Bingung, merasa bersalah, kesal, dan kecewa merupakan emosi-emosi yang mungkin kamu rasakan ketika terlibat dalam cinta segitiga. Tidak jarang, hati akan bertanya “Bagaimana mungkin manusia bisa mencintai dua orang atau lebih? Bukankah cinta sejati hanya ada satu?”. Lalu, pikiran pun mungkin ikut bertanya “Apakah wajar apabila manusia mencintai dua orang atau lebih?”. Lantas, bagaimana penjelasannya secara ilmu pengetahuan?

Sebelum memahami fenomena cinta segitiga, kita perlu memahami mengapa manusia bisa memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain terlebih dahulu. Secara psikologis, manusia dekat dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow, membangun cinta atau hubungan yang dekat dengan orang lain merupakan kebutuhan tingkat ke-3 dari lima tingkat kebutuhan. Menurut Maslow, manusia harus memenuhi lima tingkat kebutuhan yang ada agar mampu mengeluarkan potensi diri secara maksimal (yang disebut dengan aktualisasi diri). Lebih lanjut, Maslow juga berkata bahwa secara alamiah, manusia akan bergerak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut secara bertingkat2Hutchison, E. D. (2019). Dimensions of Human Behavior: Person and Environment (6th ed.). Los Angeles: Sage Publications..

Teori Kebutuhan Maslow: (1) Kebutuhan Fisik (makan, minum, udara segar), (2) Kebutuhan Rasa Aman (rumah yang kokoh, lingkungan yang rukun dan bebas perang), (3) Kebutuhan Cinta (pertemanan, keluarga, dekat dengan orang lain), (4) Kebutuhan Menghargai (harga diri, status sosial, kebebasan), dan (5) Kebutuhan Aktualisasi Diri (memunculkan potensi maksimal dalam diri).

Jika ditelaah lebih lanjut, setidaknya terdapat lima kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia dengan cara menjalin hubungan dengan orang lain. Berdasarkan lima kebutuhan ini, maka tersusunlah lima jenis kedekatan yang menjadi alasan mengapa manusia dapat dekat dengan orang lain. Dengan memahami jenis-jenis kedekatan ini, maka kita akan mampu memahami mengapa fenomena cinta segitiga dapat terjadi. Berikut adalah 5 jenis kedekatan dalam hubungan interpersonal antar manusia3Kakabadse, A., & Kakabadse, N. K. (2004). Intimacy: An International Survey of the Sex Lives of People at Work. New York: Palgrave Macmillan.4Kouneski, E. F., & Olson, D. H. (2004). A Practical Look at Intimacy: ENRICH Couple Typology. In D. J. Mashek & A. Aron (Eds.), Handbook of Closeness and Intimacy (pp. 117–133). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates..

1. Kedekatan Fisik (Physical Intimacy)

Kedekatan fisik adalah kedekatan yang timbul berdasarkan kebutuhan fisik atau seksual dari lawan jenis. Berpegangan tangan, berpelukan, ciuman, tidur bersama, dan seks merupakan contoh dari perilaku yang muncul dari kedekatan fisik yang tinggi. Namun demikian, kedekatan fisik bukan berarti hanya terjadi karena ingin mengejar kenikmatan seksual. Sentuhan-sentuhan lain seperti menepuk pundak sebagai ekspresi “kasihan” juga merupakan ciri dari kedekatan fisik. Semakin sering dan bermakna kontak fisik yang dilakukan oleh dua orang, maka semakin dalam kedekatan fisik antara dua orang tersebut.

2. Kedekatan Emosional (Emotional Intimacy)

Kedekatan emosional adalah kedekatan yang timbul dari seberapa jauh dua orang saling memahami perasaan satu sama lain. Tingginya kedekatan ini membuat dua orang merasa nyaman dan betah apabila sedang berinteraksi, sehingga saling merasa ingin berinteraksi secara terus-menerus. Kedekatan ini timbul dari kebutuhan manusia yang ingin dipahami dan mendapatkan perhatian dari orang lain.

3. Kedekatan Spiritual (Spiritual Intimacy)

Kedekatan spiritual adalah kedekatan yang timbul dari kesamaan tentang keyakinan bagaimana Tuhan atau unsur transedental lainnya mengatur kehidupan dunia (sama agama belum tentu dapat memiliki kedekatan spiritual yang tinggi). Kedekatan spiritual berperan besar ketika dua orang saling berbagi dan berdiskusi tentang moral, nilai-nilai, prinsip dan tujuan hidup, agama, dan kepercayaan mereka terhadap Tuhan. Kedekatan ini timbul dari naluri dasar manusia yang membutuhkan unsur transedental (Tuhan, Dewa, dan Zat Yang Lebih Tinggi lainnya) untuk disembah5Subandi, M. A. (2015). Psikologi Agama dan Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka Belajar6Jung, C. G. (2017). Psikologi dan Agama: Uraian Psikologis Perihal Dogma dan Simbol (Penerjemah: Afthonul Afif). Yogyakarta: IRCiSoD. (Baca Juga: Agama dan Sains: Bisakah Keduanya Bersatu?).

4. Kedekatan Intelektual (Intellectual Intimacy)

Kedekatan intelektual adalah kedekatan yang timbul dari kenyamanan untuk berdiskusi dan bertukar pikiran melalui sudut pandang masing-masing dengan menggunakan akal sehat. Misalnya, dua orang mendiskusikan tentang suatu kasus yang sedang viral di media sosial atau pekerjaan apa yang akan dilakukan setelah lulus kuliah. Kebutuhan ini timbul dari kebutuhan manusia yang selalu ingin mengetahui tentang segala sesuatu dan tidak puas dengan pendapatnya sendiri.

5. Kedekatan Eksperiensial (Experiential Intimacy)

 

Kedekatan eksperiensial adalah kedekatan yang timbul dari lamanya waktu yang dihabiskan bersama. Tidak sekadar kuantitas waktu, kualitas waktu juga memengaruhi seberapa tingginya jenis kedekatan ini dalam suatu hubungan interpersonal. Banyaknya gangguan ketika menghabiskan waktu bersama seperti terlalu sering bermain gadget dapat memperburuk kualitas waktu yang dihabiskan bersama. Misalnya, dua orang memiliki hobi yang sama, yaitu bersepeda dan bermain catur, sehingga mereka sering bersepeda dan bermain catur bersama. Kebutuhan ini timbul dari kebutuhan manusia yang membutuhkan waktu untuk mencari hiburan atau berekreasi untuk menyegarkan pikiran (beberapa sumber menyebut kedekatan ini sebagai kedekatan rekreasional [recreational intimacy]).

Bagaimana Proses Terjadinya Cinta Segitiga?

Setelah mengetahui dan memahami lima jenis kedekatan dalam hubungan interpersonal, kita akan menggunakannya untuk memahami alasan terjadinya cinta segitiga. Kebutuhan-kebutuhan manusia yang bisa diperoleh dengan cara berhubungan dengan manusia lain turut berkontribusi dalam proses terbentuknya cinta segitiga. Layaknya fisik, bukankah mental juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi?

Pasangan Tidak Bisa Memenuhi Salah Satu dari Kelima Kebutuhannya

Dari lima kebutuhan yang ada, mungkin ada satu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh pasangan. Oleh karena itu, ada “lubang” dalam hubungan yang harus dipenuhi dari selain pasangan. Dengan demikian, sangat wajar apabila kita atau pasangan mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Mencari Orang Lain untuk Memenuhi Salah Satu Kebutuhannya

Dalam berkehidupan sosial, pernahkah kamu berpikir “Ah, Si Abdul orangnya enak diajak ngobrol serius (intelektual) dan bisa ngertiin perasaanku (emosional), tapi susah diajak ketemu (eksperiensial) dan ga nyambung kalo diajak ngomongin agama (spiritual)” “Tapi Si Budi asik kalo diajak jogging bareng dan nyambung kalo diajak ngomongin agama” “Tapi Si Coki juga enak kalo diajak ngomong serius dan nyambung kalo ngomongin agama, meskipun kurang bisa mengerti perasaan orang lain”? Akhirnya, kita pun memilih untuk berteman dengan ketiganya. Ketika hendak curhat masalah serius, kita akan mendatangi Abdul atau Coki. Akan tetapi ketika membutuhkan teman untuk bersenang-senang, kita akan mengajak Budi.

Contoh kasus di atas sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa kita sadari. Hal ini wajar terjadi karena dalam menjalani hidup, kita akan menghadapi berbagai permasalahan yang berbeda-beda. Mungkin pada suatu waktu kita mendapat masalah berupa bingung untuk menentukan karir, tetapi pada waktu yang lain kita merasa stres dan butuh refreshing karena sibuk bekerja. Oleh karena itu, kita memerlukan “jenis interaksi” (fisik, emosi, spiritual, intelektual, atau eksperiensial) yang berbeda untuk membantu kita memecahkan masalah kehidupan.

Bertemu Lawan Jenis yang Mampu Memenuhi Kebutuhannya

Ketika mentalnya secara naluriah ingin memenuhi kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh pasangannya, secara “kebetulan” kebutuhan mental tersebut dapat dipenuhi oleh orang lain yang berlawanan jenis. Kecocokan yang timbul karena saling terpenuhinya kebutuhan membuat mereka sulit untuk berpisah, meskipun sebenarnya mereka sama-sama telah memiliki pasangan (sehingga berpotensi untuk menimbulkan cinta segiempat). Akibatnya, rasa cinta pun dapat muncul akibat kenyamanan yang ditimbulkan dari terpenuhinya kebutuhan tersebut.

Bagaimana Caranya Agar Cinta Segitiga Tidak Terjadi?

Cinta segitiga sebaiknya dicegah karena dapat menimbulkan perasaan bingung dan bersalah pada orang pertama dan perasaan kecewa pada orang kedua dan ketiga. Kita pun telah paham bahwa fenomena cinta segitiga bisa terjadi karena adanya salah satu dari lima kebutuhan mental yang tidak terpenuhi. Lantas, kita pun akan bertanya tentang bagaimana cara mencegah terjadinya fenomena cinta segitiga. Berikut adalah cara mencegah terjadinya fenomena cinta segitiga yang sudah disusun secara sistematis:

Mengakui Bahwa Kita dan/atau Pasangan Memiliki Kebutuhan Mental yang Tidak Terpenuhi dalam Hubungan

Langkah pertama yang harus dilakukan ialah menyadari dan mengakui bahwa terdapat kebutuhan mental yang tidak terpenuhi dalam hubungan percintaan kita dengan pasangan. Dengan kesadaran ini, kita dapat berpikir dengan matang tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan mental tersebut dari sumber lain.

Berusaha (Tidak Harus) Memenuhi Kebutuhan Mental yang Tidak Terpenuhi dalam Hubungan

Sebagai orang yang mencintai pasangan, kita bisa belajar untuk memenuhi kebutuhan mental pasangan kita yang belum terpenuhi sekaligus meningkatkan kapasitas diri kita (tidak semata-mata “merubah diri” hanya untuk pasangan). Apabila benar-benar tidak bisa, maka sebagai pasangan, kita harus menghormati dan memberi waktu kepadanya untuk memenuhi kebutuhan mentalnya tanpa kita. Hal ini tidaklah masalah karena kita bukanlah “tuhan” yang mampu memberikan segalanya kepada pasangan kita.

Menghindari untuk Memenuhi Kebutuhan Mental dari Lawan Jenis

Jika telah sadar bahwa kebutuhan mental tersebut harus dipenuhi dari orang lain (selain pasangan), maka sebaiknya kita menghindari untuk memenui kebutuhan mental tersebut dari lawan jenis. Jika tidak bisa dihindari, maka sebaiknya kita “membatasi” interaksi dengan lawan jenis tersebut agar rasa cinta karena nyaman tidak muncul. Kuncinya ada pada diri sendiri yang mampu mengatur interaksi dengan lawan jenis.

Jika Cinta Segitiga Sudah Terjadi, Maka Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Satu-satunya cara untuk mengatasi fenomena cinta segitiga ialah mengambil keputusan dengan tegas. Di sisi orang pertama, kita bisa dengan tegas untuk memilih ingin bersama dengan orang kedua atau ketiga, atau bahkan tidak dengan keduanya. Di sisi orang kedua atau ketiga, kita bisa dengan tegas untuk memilih dengan orang pertama atau meninggalkannya. Namun, sebelum memutuskan untuk memilih, hal yang harus dilakukan ialah melakukan pertimbangan secara matang terlebih dahulu, khususnya mengikuti kata hati. Biarkan hati untuk memilih siapa yang menjadi cinta sejati kita. Namun demikian, faktor-faktor yang bersifat rasional seperti konflik seperti risiko apa yang akan terjadi di kemudian hari juga patut dipertimbangkan secara realistis.

Kesimpulan

Cinta segitiga adalah hubungan cinta yang melibatkan tiga orang, yang terjadi karena seseorang berusaha memenuhi kebutuhan mentalnya yang tidak terpenuhi dari satu orang pasangan saja. Setiap orang berpotensi untuk menjalin hubungan dengan banyak orang, karena mental setiap orang setidaknya memiliki lima kebutuhan yang belum tentu bisa dipenuhi melalui satu orang. Namun demikian, komitmen dalam hubungan percintaan bukanlah sesuatu yang dapat dilanggar begitu saja karena ingin memenuhi kebutuhan mental. Komunikasi antar pasangan dan saling menghargai kebutuhan mental merupakan kunci utama agar fenomena cinta segitiga tidak terjadi sehingga merusak hubungan yang telah ada. Bahkan dalam PDKT pun, perasaan orang lain haruslah dihargai dengan cara berusaha sedapat mungkin tidak melukai perasaan siapapun (meskipun pada kenyataannya, hal ini sangat sulit untuk dilakukan). Oleh karena itu, fenomena cinta segitiga sebaiknya dicegah dengan cara menghindari memenuhi kebutuhan mental dengan lawan jenis dan mengatur interaksi dalam berhubungan dengan lawan jenis.

 

Versi Lain: Mengapa Manusia Selingkuh? Sebuah Penjelasan Psikologis

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*