fbpx

Pandangan Soekarno terhadap Islam di Indonesia

Pandangan Soekarno terhadap Islam

Banyak orang beranggapan bahwa maraknya isu agama di Indonesia baru terjadi beberapa tahun terakhir, tepatnya setelah fenomena Gerakan 212 yang mengakibatkan dipenjaranya mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang biasa disapa Ahok atau BTP. Namun, tahukah kamu bahwa isu agama telah hangat diperbincangkan sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka? Pandangan Presiden Pertama Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Soekarno1https://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno terhadap Islam yang terdokumentasikan di buku yang berjudul Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam2Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY. membuktikan bahwa isu agama merupakan topik yang ramai dibicarakan semenjak proklamasi belum dibacakan.

Umat Muslim Masih Kaku dalam Menggunakan Akal

Soekarno menilai bahwa masyarakat muslim di Indonesia memiliki pemahaman yang kolot terhadap Islam. Kolot dalam artian memiliki pemikiran yang kaku, dogmatis, dan masuk akal tentang ajaran-ajaran Islam. Padahal, ajaran Islam memiliki nilai-nilai kebaikan yang dapat dinalar menggunakan akal sehat. Penelitian sains pun menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat dibuktikan secara ilmiah, sehingga banyak profesor di Barat yang terkagum-kagum terhadap ajaran Islam (Baca Juga: Agama dan Sains: Bisakah Keduanya Bersatu?). Lantas, mengapa kita mengabaikan akal sehat dan mengamalkan agama secara kolot? Soekarno berkata: “Coba tanyakan profesor-profesor yang ada di Barat sana, mereka masuk Islam karena apa?”

Kitab Klasik dan Hadis sebagai Dalang Pembunuh Akal

Kitab Klasik

Soekarno menilai bahwa terdapat dua hal yang menyebabkan matinya akal sehat umat muslim, yaitu kitab klasik dan hadis. Yang dimaksud bukanlah isi dari kitab klasik sendiri, tetapi bagaimana umat muslim bersikap terhadap isi dari kitab klasik tersebut. Bagaikan kambing yang digembala, seringkali didapati bahwa terdapat umat muslim yang mengikuti ajaran dari kitab klasik tersebut tanpa dinalar terlebih dahulu menggunakan akal sehat. Padahal, ada kemungkinan bahwa isi dari kitab klasik tersebut sudah “basi” termakan zaman. Selain itu, perlu ditekankan bahwa yang menulis kitab klasik “hanyalah” manusia biasa yang berilmu, bukan Tuhan. Oleh karena itu, untuk mengamalkan ajaran kitab klasik, sebaiknya umat muslim perlu mengadaptasi (bukan ditiru secara mentah-mentah) ajaran dari sekian abad lalu agar sesuai diterapkan pada saat ini (Untuk penjelasan lebih lengkap, silakan baca: Kitab Klasik Bukanlah Kitab Suci).

Hadis

Soekarno juga menyarankan umat muslim untuk berhati-hati dalam mempelajari hadis, meskipun sanadnya bersifat sahih, yang pada umumnya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Baca Juga: Apakah Hadis 100% Benar?). Soekarno menilai bahwa Bukhari dan Muslim, ataupun perawi hadis lainnya bukanlah “dewa” karena sejatinya, hadis hanyalah hasil dari pengamatan manusia (human report) yang sangat mungkin terjadi kesalahan, khususnya dalam mengingat kejadian secara detail. Soekarno juga beranggapan bahwa tidaklah salah apabila umat muslim belajar dari hadis yang bersanad hasan (kuat) atau daif (lemah) sekalipun, selama ajaran tersebut bersifat baik dan dapat dinalar menggunakan akal sehat.

Alquran sebagai Inti dari Islam

Soekarno menilai bahwa hanya Alquran-lah satu-satunya kitab yang patut diikuti secara mutlak karena isinya langsung diturunkan oleh Allah swt (Baca Juga: Kitab Tafsir Alquran: Haruskah Dipelajari?). Inilah inti, jiwa, dan “api” dari Islam yang berkobar untuk menerangi dunia. Soekarno menyarankan selain belajar dari sumber sekunder (hadis, kitab klasik, ustaz, dll), umat muslim perlu belajar Islam dari sumber primernya secara langsung, tanpa perantara apapun. Dengan membaca Alquran, kita seakan berkomunikasi dengan Allah swt secara langsung. Tidak perlu terlalu khawatir akan adanya “kesalahan” tafsir karena sejatinya, setiap orang, termasuk ahli tafsir sekali pun “hanyalah” manusia biasa yang berpotensi memiliki pandangan yang berbeda-beda. Selama dibaca menggunakan hati dan akal sehat, niscaya Allah akan menuntut pembaca Alquran menuju kebenaran, karena hanya Allah swt satu-satunya Tuhan yang pantas dianggap sebagai sumber kebenaran.

Apakah Soekarno Bisa Membaca Masa Depan?

Demikianlah pandangan Soekarno terhadap Islam di Indonesia, yang sebenarnya masih relevan dengan zaman ini. Meskipun pandangan Soekarno terhadap Islam dapat dikatakan sudah kuno, kita tetap dapat mempelajarinya untuk memahami dinamika umat beragama (khususnya Islam) di Indonesia. Utamanya, beragama memanglah menggunakan hati, tetapi akal pun dapat digunakan sebagai sarana yang melunakkan hati. Sungguh, Allah sangat menyukai orang yang berakal. Bukankah semakin tajam akal kita, semakin hati kita dekat dengan-Nya karena dengan akal, “mata” kita akan semakin jeli dalam “melihat”-Nya

 

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published.


*