fbpx

Apa itu Psikologi Islam? Apa Bedanya dengan Psikologi Barat?

Males Baca? Nonton Videonya Aja!

Psikologi merupakan ilmu yang sangat populer dan digemari banyak orang, bukankah begitu?

Saking populernya, ada banyak sekali akun publik di media sosial yang memiliki followers hingga ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Misalnya, akun @indo_psikologi di Instagram, @psikologid di Instagram, @psikologibisa di Twitter, @KampusPsikologi di Twitter, dan masih banyak lagi! (akun-akun yang disebut pada artikel ini murni contoh! Pikir Ulang sama sekali tidak menerima bayaran ataupun bekerja sama dengan akun-akun tersebut)

Di Facebook pun, ada banyak sekali grup tentang psikologi yang sangat aktif berdiskusi. Meskipun sebagian besar isinya hanyalah kesoktahuan tanpa ilmu. Saya tidak menyarankan kamu untuk bergabung dan ikut curhat di sana, apalagi kalau menyangkut masalah pribadi yang sangat berat.

Yang jelas, hal ini menggambarkan bahwa psikologi ialah ilmu yang sangat mampu menarik perhatian banyak orang.

Memang, membaca pikiran orang lain mempelajari dinamika psikologis manusia merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan karena akan membantu kita untuk lebih memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.

Namun, pernahkah kamu berpikir “apakah orang yang mempelajari psikologi dari internet mainstream (media sosial, media massa, blog, forum, dll) betul-betul memahami apa yang mereka pelajari?”

Dari Mana Asal Ilmu Psikologi yang Beredar di Internet Mainstream?

Kalau ilmu psikologi yang sumbernya ngaco (misalnya dari grup Facebook dan forum-forum diskusi yang isinya orang-orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan psikologi atau membaca buku psikologi ilmiah sama sekali), biasanya berasal dari kesoktahuan dari akal pikirannya sendiri. Kedangkalan ilmu, tetapi banyak bicara.

Kalau yang sumbernya “terpercaya” (misalnya media massa, akun media sosial/blog/forum yang kredibel), biasanya, konten yang dipaparkan berasal dari penelitian-penelitian ilmiah.

Ketika mengetahui bahwa informasi yang diperoleh berasal dari penelitian ilmiah, maka orang akan cenderung langsung 100% percaya, tanpa berpikir ulang tentang kebenarannya. Mindset seperti ini perlu kita waspadai

Jika dalam penelitian ilmu eksakta, mungkin tidaklah terlalu bermasalah apabila kamu percaya penuh terhadap hasil suatu penelitian.

Akan tetapi, dalam penelitian ilmu sosial (atau setidaknya dalam konteks ini, ilmu psikologi), tidaklah bijak apabila kamu percaya 100% terhadap hasil dari suatu penelitian.

Kritik terhadap Psikologi Barat

Psikologi modern yang beredar luas di masyarakat saat ini, atau disebut juga Psikologi Barat (karena berkembang dari Barat, yaitu Amerika Serikat dan Eropa) memeroleh banyak kritik dari beberapa ahli.

Kritik paling fundamental dari Psikologi Barat ialah paradigma filsafat yang digunakan dalam pendirian ilmu itu sendiri, yaitu positivisme dan materialisme.

Positivisme adalah paham bahwa kebenaran ialah sesuatu yang sudah diuji secara empirik

Jadi, kebenaran ialah sesuatu yang sudah diteliti dan pernah terjadi pada masa lalu. Misalnya jika suatu penelitian pada 1000 orang dengan usia 18-30 tahun menunjukkan bahwa “berolahraga setiap hari dapat meningkatkan kebahagiaan”, maka kesimpulan yang diambil ialah “berolahraga dapat membuat hidup kita menjadi bahagia! Yuk, berolahraga setiap hari!”. Benarkah demikian? Tentu ada benarnya, tetapi tidak mungkin berlaku pada semua manusia, meskipun sama-sama berusia 18-30 tahun!

Kita semua tahu bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari “1001”1Maksud “1001” di sini ialah kiasan dari kata “banyak”, bukan jumlah yang sebenarnya variabel yang bersifat dinamis dan saling berinteraksi.

Meskipun dua orang sama-sama berusia 23 tahun, tentu kondisi psikologisnya berbeda. Usia hanyalah salah satu dari “1001” variabel yang ada pada diri manusia. Masih banyak variabel lain seperti inteligensi (IQ), religiositas, tingkat depresi, jenis kepribadian, dll. Artikel ini tidak akan muat jika disebutkan semuanya. Saya pun tidak akan mampu menulisnya.

Di samping itu, kebahagiaan merupakan variabel psikologis yang sangat mungkin dipengaruhi oleh “1001” variabel lain, tidak hanya olahraga. Misalnya, keadaan ekonomi, kebersyukuran, tingkat depresi, dll.

Jadi, sangatlah mungkin jika orang kaya yang berolahraga, akan mengalami peningkatkan tingkat kebahagiaan yang lebih besar daripada orang miskin yang berolahraga.

Lebih jauh lagi, mungkin saja dua orang dengan tingkat kekayaan yang sama, lalu sama-sama berolahraga, akan mengalami peningkatkan kebahagiaan yang berbeda. Bahkan, bisa jadi juga tingkat kebahagiaan seseorang malah berkurang ketika diminta berolahraga, karena dia tidak suka berolahraga.

Paradigma positivisme terlalu memandang bahwa fenomena sosial yang terjadi pada manusia ialah sesuatu yang objektif. Padahal, manusia ialah makhluk yang penuh subjektivitas.

Paradigma positivisme mencoba untuk memisahkan antara objektivitas dengan subjektivitas pada mental manusia. Padahal, subjektivitas dan objektivitas pada mental manusia ialah satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan.

Dengan kata lain, positivisme tidak memandang bahwa setiap manusia itu unik (memiliki perbedaan, tidak ada dua manusia yang sama persis, meskipun saudara kembara identik). Oleh karena itu, penelitian Psikologi Barat cenderung dilakukan pada banyak responden, lalu mengambil kesimpulan rata-rata dari responden.

Apakah itu berarti penelitian psikologi Barat 100% buruk? Tidak! Penelitian Psikologi Barat sangat cocok untuk menghasilkan suatu kesimpulan pada suatu kelompok masyarakat. Kesimpulan tersebut akan sangat bermanfaat jika digunakan untuk membuat keputusan dalam skala makro, khususnya pada masyarakat yang diteliti.

Akan tetapi, kita harus waspada dalam memaknai penelitian psikologi Barat. Jangan sampai melakukan overgeneralisasi pada semua orang hanya berdasarkan satu penelitian

Berdasarkan paparan di atas, apakah kamu sudah memahami makna dari positivisme? Jika belum, kamu bisa membaca lagi dari atas, atau mencari sumber lain tentang positivisme, jika kamu merasa perlu.

Jika sudah, kita akan lanjut membahas paradigma filsafat Psikologi Barat yang kedua, yaitu materialisme.

Materialisme adalah paham bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang ada wujud fisiknya (materi). 

Dengan kata lain, sesuatu yang tidak memiliki wujud fisik, seperti mental (pikiran) dan emosi (perasaan) tidaklah dianggap sebagai kebenaran.

Kalaupun mental dan emosi dianggap sebagai sesuatu kebenaran, maka mental dan emosi hanyalah manifestasi dari suatu materi (dalam konteks psikologi Barat, materinya ialah fisiologi manusia [otak, saraf, neurotransmitter, hormon, dll]). Mental dan emosi tidak dianggap sebagai substansi yang berdiri sendiri.

Misalnya, Budi memberikan Ani sebatang coklat, maka Ani merasa senang. Secara biopsikologi, emosi senang terjadi karena otak memproduksi neurotransmitter dopamin.

Sekarang, saya ingin bertanya, “Ani bahagia karena apa?” Paradigma materialisme akan beranggapan bahwa Ani merasa senang karena otaknya memproduksi neurotransmitter dopamin, bukan karena Budi memberikan Ani sebatang coklat yang Ani sukai. Perasaan senang dalam benak Ani ketika Budi memberinya sebatang coklat dianggap hanyalah manifestasi dari adanya neurotransmitter dopamin dalam otak Ani.

Padahal, jika dipikirkan dengan seksama, mana yang menjadi penyebab utama dari timbulnya rasa senang dalam benak Ani? Apakah karena Budi memberikan Ani sebatang coklat, ataukah karena dopaminterproduksi dalam otak Ani?

Jauh lebih masuk akal apabila rasa senang dalam benak Ani timbul karena Budi memberinya sebatang coklat. Setelah benak Ani merasakan emosi senang, barulah otak bereaksi dalam bentuk memproduksi dopamin.

Apakah masuk akal apabila setelah Budi memberi coklat kepada Ani, otak langsung memproduksi neurotransmitter dopamin, barulah Ani merasa senang?

Bukankah otak bisa memproduksi dopamin karena Ani merasa senang? Bagaimana otak bisa memproduksi dopamin apabila perasaan senang timbul setelah dopamin terproduksi? Tidak masuk akal, bukan?

Jadi, dalam konteks interaksi antara Ani dengan Budi, lebih tepat apabila produksi dopamin ialah manifestasi dari perasaaan senang dalam benak Ani. Bukan sebaliknya.

Secara umum (tidak mutlak), hal ini berlaku dalam ilmu psikologi, tetapi belum tentu berlaku dalam ilmu lain.

Faktanya, memang ada perubahan pikiran dan perasaan yang penyebab utamanya ialah materi, bukan fenomena psikologis seperti interaksi Ani dengan Budi.

Misalnya, Charlie menderita demam cukup berat, sehingga pikirannya sulit untuk berpikir jernih. Dalam konteks ini, maka demam (kejadian fisiologis, yang berarti materi), merupakan penyebab utama dari gangguan untuk berpikir jernih yang dialami oleh Charlie. Materialisme menjadi tepat dalam konteks ini.

Namun dalam konteks ilmu psikologi, seharusnya fisiologi manusia menjadi pendukung untuk mempelajari dinamika psikologis dalam diri manusia, bukan menjadi objek utama penelitian yang dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Keresahan terhadap Psikologi Barat pada paparan di atas bukan sekadar kata saya, lho!

Carl Gustav Jung (26 Juli 1875 – 6 Juni 1961), seorang tokoh psikologi klasik yang mencetuskan teori psikologi analitik dan konsep introvert-extrovert, juga merasakan keresahan yang serupa terhadap perkembangan Psikologi Barat.

Jung menilai bahwa budaya Barat yang terlalu menekankan bahwa kebenaran harus dibuktikan secara empirik (positivisme) dan materialisme akan mereduksi pemahaman kita terhadap ilmu psikologi itu sendiri, khususnya tentang ketidaksadaran jiwa manusia2Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of Personality (11th ed.). Belmont: Cengage Learning.3Jung, C. G. (2017). Psikologi dan Agama: Uraian Psikologis Perihal Dogma dan Simbol. Yogyakarta: IRCiSoD..

Dalam bukunya yang berjudul Psychology and Religion tahun 19384Saya mengutip versi terjemahannya: Jung, C. G. (2017). Psikologi dan Agama: Uraian Psikologis Perihal Dogma dan Simbol. Yogyakarta: IRCiSoD., Jung berkata bahwa dalam jiwa manusia, terdapat naluri dasar untuk menyembah “sesuatu”

“Sesuatu” yang dimaksud bisa berupa tuhan, dewa, ruh, iblis, ide, gagasan, atau apapun. Terserah manusia menyebutnya apa. Yang jelas, “sesuatu” tersebut memiliki sifat agung, menggetarkan hati, berkuasa, memberi pertolongan, dan bermakna untuk dipuja dan dicintai dengan tulus.

Tentu, naluri dasar untuk menyembah “sesuatu”, yang jauh berada dalam ketidaksadaran tidak mungkin diungkap dengan paradigma positivisme dan materialisme. Psikologi akan kehilangan banyak ruang ilmu apabila mengabaikan hal ini.

Psikologi Islam sebagai Solusi bagi Kekurangan Psikologi Barat

Yang disampaikan Carl Gustav Jung sejalan dengan konsep dasar dari psikologi Islam

Sebagai bidang ilmu, psikologi Islam memiliki penjelasan yang komprehensif mengenai gagasan dari Carl Gustav Jung mengenai naluri dasar manusia untuk menyembah sesuatu.

Psikologi Islam tidak menganggap bahwa paradigma positivisme dan materialisme sepenuhnya keliru, tetapi juga sangat menyadari bahwa terdapat kebenaran lain selain dari dua paradigma tersebut.

Apa itu Psikologi Islam?

Secara terminologi, belum ada definisi baku dari psikologi Islam yang disepakati oleh para ahli.

Psikologi Islam sebagai cabang ilmu yang ilmiah dan universal masih tergolong baru (meskipun sejak zaman dahulu, ulama-ulama klasik Islam seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, dll telah menggagas suatu ilmu mengenai kejiwaan, tetapi belum bernama psikologi Islam)

Secara konsep, psikologi Islam merupakan gabungan dari dua cabang ilmu, yaitu psikologi dan Islam. Artinya, psikologi Islam merupakan irisan antara psikologi dan Islam. Ada beberapa bagian dari psikologi yang tidak masuk dalam Islam, namun ada juga bagian dari Islam yang tidak termasuk dalam psikologi.

Sulitnya mendefinisikan psikologi Islam terjadi karena terdapat perbedaan para ahli, yang secara umum terbagi menjadi dua golongan.

Golongan pertama disebut golongan dominan psikologi.

Golongan dominan psikologi cenderung berpendapat bahwa untuk mengonstruk teori psikologi Islam, ilmuwan psikologi Islam perlu mengambil teori-teori Barat yang sudah sesuai dengan syariat dan nilai-nilai Islam.

Jadi, teori-teori psikologi Barat yang sudah ada, “dikembalikan” kepada Alquran dan hadis. Apabila sesuai dengan syariat dan nilai-nilai Islam, maka teori psikologi Barat tersebut sudah dapat dikatakan sebagai teori yang Islami. Tugas lmuwan-ilmuwan psikologi Islam hanya perlu mencari teori psikologi Barat sebanyak mungkin yang sesuai dengan syariat dan nilai-nilai Islam.

Kelebihan ide golongan dominan psikologi ialah mempercepat proses konstruktsi teori psikologi Islam. Sebagai cabang ilmu psikologi ilmiah yang relatif baru, psikologi Islam sangat membutuhkan proses berkembangan yang lebih cepat agar tidak tertinggal dari aliran-aliran psikologi yang lain.

Namun, kekurangan ide golongan dominan psikologi ialah dipertanyakannya keislaman dari teori yang dihasilkan. Sebagian ahli berpendapat bahwa ide dari golongan dominan psikologi ini terlalu mensimplifikasikan syariat dan nilai-nilai Islam karena hanya “mencocok-cocokkan” kandungan Alquran dan hadis dengan psikologi Barat. Padahal sejak awal, sebagian besar teori psikologi Barat dikonstruk oleh ilmuwan non-muslim yang belum tentu mengerti ajaran-ajaran Islam.

Golongan kedua disebut golongan dominan Islam

Golongan dominan Islam berpendapat bahwa untuk mengonstruk teori psikologi Islam, ilmuwan psikologi Islam sebaiknya mengonstruk teori psikologi Islam dari awal berdasarkan Alquran, hadis, dan kitab-kitab dari ulama klasik yang membahas tentang ilmu jiwa.

Bahkan, sebagian mereka berpendapat bahwa ilmuwan psikologi Islam perlu mengabaikan teori-teori psikologi Barat, sehingga teori psikologi Islam yang dihasilkan berisi ajaran Islam yang murni tanpa bercampur dengan nilai-nilai Barat.

Kelebihan ide golongan dominan Islam ialah kualitas dari teori yang dihasilkan karena langsung merujuk pada sumber utama dari Islam (Alquran dan hadis). Bahkan, ada kemungkinan untuk memunculkan teori baru yang berkualitas dan belum pernah ada di psikologi Barat. Dari sini, karakter psikologi Islam akan terbentuk, tidak sekadar “ikut-ikutan” psikologi Barat

Namun, kekurangan ide golongan dominan Islam ialah memerlukan waktu yang lebih lama daripada ide golongan dominan psikologi. Sebagai cabang ilmu yang tergolong baru, psikologi Islam memiliki urgensi untuk berkembang dengan cepat agar tidak kalah bersaing dengan aliran psikologi lain. Sulit bagi psikologi Islam untuk muncul di khalayak masyarakat jika tidak segera memiliki konsep keilmuwan yang mapan, sedangkan masyarakat sudah terlanjur terkagum-kagum terhadap teori psikologi Barat.

Perdebatan antara dua golongan ini masih terus terjadi hingga sekarang. Perlu ditekankan bahwa dalam konteks keilmuwan, perdebatan merupakan hal yang positif. Bukankah dalam Islam sendiri, ada perbedaan mazhab yang tidak pernah saling menyalahkan? Perbedaan merupakan fitrahnya manusia yang Allah ciptakan.

Biarlah perdebatan itu terjadi di kalangan orang-orang berilmu. Saya pribadi hanya mencoba memaparkan perdebatan yang ada dan enggan memihak pada satu golongan dan menyalahkan yang lain, karena saya sadar bahwa kompetensi saya belum sampai ke sana. Ulama, dosen, peneliti, dan ilmuwan psikologi Islam lainnya lebih layak berdiskusi tentang definisi dan pola perkembangan psikologi Islam daripada saya.

Meskipun telah mengetahui bahwa secara ilmiah, keilmuwan dari psikologi Islam masih diperdebatkan, kita tetap tidak boleh lepas dari konsep fundamental yang ada dalam psikologi Islam. Konsep fundamental inilah yang menjadikan psikologi Islam berbeda dengan psikologi Barat dan aliran-aliran psikologi lainnya. Dengan memahami konsep fundamental ini, kita akan menyadari bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah dengan segala fitrahnya.

Konsep Fundamental Psikologi Islam

Dalam psikologi Islam, manusia terdiri dari 3 aspek, yaitu ruh, jiwa, dan jasad.

Jasad adalah tubuh fisik manusia beserta organ-organ dalamnya. Misalnya, kulit, mata, hidung, mulut, jantung, paru-paru, otak, neurotransmitter, hormon, saraf, dll

Ruh adalah suatu zat yang “ditiupkan” oleh Tuhan kepada setiap tubuh manusia. Berbeda dengan jasad yang bersifat lahir (bisa dilihat dengan mata telanjang), ruh bersifat gaib (tidak terlihat oleh mata telanjang). Meskipun tidak terlihat, keberadaan ruh telah secara eksplisit dijelaskan oleh Alquran (Lihat Q.S Shad [38]: 71-725Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” sumber: quran.kemenag.go.id). Keberadaan ruh dalam jasad manusia sangatlah sulit dibuktikan oleh psikologi Barat dengan paradigma positivisme dan materialisme. Ruh inilah yang menjadi pembeda yang khas antara psikologi Islam dengan psikologi Barat.

Jiwa adalah “sesuatu” yang digerakkan oleh manusia. Jiwa berada “di antara” ruh dan jasad. Ketika kita menggerakkan tangan kita untuk mengambil sebuah gelas, maka sesungguhnya jiwalah yang memutuskan untuk menggerakkan tangan kita. Ketika kita memikirkan kendaraan idaman kita, maka sesungguhnya jiwalah yang memutuskan untuk memikirkan hal tersebut. Jadi, bisa dibilang bahwa jiwa adalah manusia itu sendiri, atau hak prerogatif kita untuk memutuskan sesuatu. Dengan kata lain, jiwa merupakan pemimpin dari ruh dan jasad.

Ilustrasi di atas hanya visualisasi untuk mempermudah pemahaman

Sebagai pemimpin, jiwa akan memperoleh dorongan dari ruh dan jasad. Dorongan-dorongan ini akan masuk ke dalam pikiran manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar. Misalnya, ketika lapar, jiwa akan terdorong untuk mencari makanan. Ketika menghadapi cobaan hidup yang sangat berat, jiwa akan terdorong untuk mencari pertolongan kepada-Nya. Dorongan-dorongan ini berfungsi untuk “memengaruhi” jiwa agar segera memuaskan kebutuhan dari ruh dan jasad.

Ruh dan jasad memiliki kebutuhan yang berbeda.

Jasad memiliki kebutuhan untuk mempertahankan hidup di dunia. Berbeda dengan hewan yang relatif hanya membutuhkan makan, minum, dan seks, manusia juga memiliki kebutuhan-kebutuhan lain seperti kekayaan kekuasaan, status sosial, dll agar lebih mudah menjalankan hidup di dunia. Bahkan sebenarnya, kebutuhan akan kekuasaan dan status sosial pun ada pada hewan. Kucing melakukan kencing sembarangan untuk menandai wilayah kekuasaannya. Rusa berkelahi untuk mendapatkan status sosial “yang terkuat” di lingkungannya. Jadi pada dasarnya, semua makhluk memiliki kebutuhan jasad yang harus dipenuhi untuk tetap bertahan hidup.

Ruh memiliki kebutuhan untuk menyembah Sang Pencipta dan menjalankan segala perintah-Nya (menjadi khalifah di bumi, berbuat baik kepada sesama manusia, menciptakan perdamaian, dll). Hal ini dapat terjadi karena sebelum ruh kita menyatu dengan jasad, ruh kita telah disumpah oleh Allah untuk mengakui bahwa Dia adalah Tuhan kita (lihat Al-A’raf [7]: 1726Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini. Sumber: quran.kemenag.go.id). Memang, mustahil kita mengingatnya karena pada saat itu, kita belum memiliki otak (organ dalam kepala) yang bisa menampung informasi dalam memori. Akan tetapi, sumpah tersebut telah “diingat” oleh ruh kita, sehingga jiwa kita terdorong untuk menyembah Allah.

Pada kehidupan sehari-hari, secara tidak sadar, ruh dengan jasad selalu “berkonflik” dalam “memengaruhi” jiwa untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai pemimpin, jiwa harus mampu menjadi “penengah” di tengah “konflik” tersebut. Jika jiwa sukses memenuhi kebutuhan ruh dan jasad secara adil, maka seorang akan menjadi sehat secara psikologis (sehat mental). Jika jiwa mengabaikan salah satunya, maka seseorang akan menjadi tidak sehat secara psikologis.

Surat Al-A’raf[7]: 1797Artinya: Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. Sumber: quran.kemenag.go.id mengisyaratkan tentang orang yang hanya peduli pada kebutuhan jasad, tetapi abai pada kebutuhan ruh. Orang yang hanya berfokus pada kebutuhan jasad tidak pernah menggunakan hati, mata, dan telinganya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, Allah menganggapnya seperti hewan ternak, bahkan lebih dari hewan.

Sebaliknya, suatu hadis8Satu ketika, ada tiga kelompok orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi. Mereka menanyakan bagaimana ihwal ibadah yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Saat mereka dikasih tahu, seolah-olah mereka menganggap bahwa yang dilakukan Rasulullah itu sedikit. “Terus di antara kita ini, mana coba yang termasuk seperti Nabi? Padahal Nabi adalah orang yang diampuni segala kesalahannya baik masa silam maupun yang akan datang,” tanya salah seorang di antara mereka kepada komunitasnya. Ada yang menjawab, “Aku shalat sepanjang malam penuh.” “Aku puasa sepanjang tahun, tidak pernah bolong,” jawab yang lain. Yang satunya lagi mengatakan, “Kalau aku menghindari wanita. Aku tidak pernah menikah selamanya.” Setelah mereka mengutarakan usahanya untuk bisa mirip dengan Rasulullah, Nabi kemudian datang seraya menanyakan, “Hai, apakah kalian tadi yang mengatakan demikian, kamu menyebutkan begini, begini? Perlu aku jelaskan, aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah jika dibanding dengan kalian. Aku juga orang yang paling taat kepada Allah. Meski begitu, aku terkadang berpuasa, kadang juga tidak. Aku juga melaksanakan ibadah, shalat malam, namun aku tidur juga. Aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku,” tandas Rasulullah ﷺ. (HR Bukhari & Muslim) Lihat: https://islam.nu.or.id/post/read/99902/kisah-orang-yang-berlebihan-dalam-beribadah-i mengisyaratkan agar kita tidak berlebihan dalam beribadah, sehingga malah mengabaikan kebutuhan jasad. Ibadah, sebagai sarana mengekspresikan cinta kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan ruh memang sangatlah penting, tetapi memuaskan kebutuhan jasad juga tidak kalah penting. Kalau jasad kita lemah, bagaimana kita bisa beribadah kepada-Nya dengan optimal? Allah memang ada di langit di atas Arasy, tetapi kaki kita masih menginjak bumi.

Perbedaan Psikologi Islam dengan Psikologi Barat

Psikologi Barat hanya membahas manusia dari 3 aspek, yaitu mind (mental), brain/body (otak/tubuh fisik), dan behavior (perilaku tampak).

Psikologi Barat tidak memasukkan ruh sebagian objek kajiannya karena metode penelitiannya terlalu terpaku pada hal-hal yang bersifat empiris dan observable (bisa diamati dengan pancaindra). Padahal, ruh memiliki sangat banyak informasi yang bisa memperkaya khazanah ilmu psikologi.

Selain itu, definisi mental dalam perspektif psikologi Barat terlalu berfokus pada pikiran yang dihasilkan oleh otak. Padahal dalam jiwa manusia, ada hati (qolbu) yang juga bisa “berpikir” dan “merasakan” sesuatu, tidak hanya otak.

Psikologi Barat menganggap bahwa otak ialah pusat dari manusia. Padahal, otak hanyalah pusat dari tubuh fisik manusia, bukan manusia secara keseluruhan. Pusat dari manusia yang sesungguhnya ialah hati (qalbu) yang termanifestasikan pada organ jantung9“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR Bukhari dan Muslim) lihat: https://www.nu.or.id/post/read/105887/gus-mus-jelaskan-makna-qolbu-

Otak menerima dan mengelola informasi dari tubuh fisik beserta organ-organnya (pancaindra, perut, otot, sendi, dll), sedangkan hati menerima informasi dari ruh untuk membantu menentukan baik atau buruknya sesuatu yang ada di hadapan kita.

Lagi-lagi, keberadaan dari hati (qolbu, bukan liver) sangatlah sulit untuk dibuktikan oleh psikologi Barat.

Namun demikian, semua bisa merasakan bahwa hati berada dalam dada kita dan juga bisa “berpikir” dan “merasakan” sesuatu.

Penutup

Sebagai cabang ilmu ilmiah, psikologi Islam masih terbilang baru dan sangat memerlukan pengembangan lebih lanjut. Namun, konsep fundamental (khususnya tentang ruh, jasad, dan jiwa) tetap tidak boleh ditinggalkan agar selalu mendapatkan pemahaman yang utuh dan mendalam. Tanpa memahami konsep fundamental, pemahaman kita bisa jadi menyimpang dan kehilangan esensi dari psikologi Islam itu sendiri.

Sebelumnya, saya menyebutkan bahwa psikologi Islam belum memiliki definisi yang baku dan disepakati para ahli. Namun, agaknya artikel ini kurang sempurna apabila tidak menyantumkan definisi dan hanya menjelaskan saja. Berdasarkan konsep fundamentalnya, agaknya tidak keliru jika saya berkata bahwa psikologi Islam adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari jiwa manusia berdasarkan fitrahnya (ruh dan jasad). Saya tidak mencantumkan kata “sesuai Alquran dan hadis”, “sesuai syariat Islam”, “sesuai ajaran Islam” dan sebagainya karena saya percaya bahwa fitrah manusia sudah pasti ada dalam Alquran dan hadis.

Versi Lain:

  1. Apakah “Terbukti Secara Ilmiah” Sudah Pasti Benar?
The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*