fbpx

Sisi Gelap sebagai Pelekat Hubungan dengan Orang Tercinta

Sisi Gelap

Setiap orang pasti memiliki sisi gelap dalam dirinya, yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan tidak ingin diketahui oleh banyak orang. Dalam psikologi, sisi gelap dalam kepribadian disebut¬†shadow, yang biasanya terdiri dari nafsu dan “naluri kebinatangan” yang menjadi insting dasar pada setiap manusia1Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.2Theories of Personality (10th ed.). Belmont: Cengage Learning.. Insting dasar tersebut berperan untuk “memberikan informasi” kepada pikiran mengenai kebutuhan yang diperlukan manusia untuk bertahan hidup. Sebaiknya, setiap orang mengakui bahwa dirinya memiliki shadow dalam dirinya. Jika tidak diakui,¬†shadow akan terus terpendam dan akan “meledak” sewaktu-waktu, lalu menguasai akal pikiran kita3Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.4Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2013). Theories of Personality (10th ed.). Belmont: Cengage Learning..

Manusia Merupakan Makhluk Emosional

Manusia tidak hanya makhluk berakal, tetapi juga makhluk emosional. Bahkan setiap hari, manusia mengambil keputusan lebih banyak menggunakan emosi daripada akal, khususnya pada kegiatan yang tidak memerlukan pemikiran panjang5Gazzaniga, M., Heatherton, T., & Halpern, D. (2016). Psychological Science (5th ed.). New York: W. W. Norton.. Misalnya, ketika memilih pakaian yang akan digunakan, mana yang kita gunakan? Secara tidak sadar, kita pasti menggunakan emosi. Namun, jika mengambil keputusan penting, tentu kita cenderung menggunakan akal. Misalnya, ketika mengambil keputusan dalam berbisnis.

Meskipun demikian, akal bukanlah “dewa” pada diri manusia. Dalam menjalin hubungan interpersonal dengan siapapun, misalnya orang tua, pasangan, sahabat, guru, dan siapapun, tentunya kita lebih banyak menggunakan emosi, bukan? Coba ingat orang yang paling kamu sayangi! Sudah? Sekarang, pertanyakan, mengapa kamu menyayanginya? Apakah dengan akal, atau dengan emosi? Tentunya dengan emosi karena dalam menjalin hubungan interpersonal, emosi lebih dominan daripada akal.

Manusia Senang Diterima Apa Adanya

Sebagai makhluk emosional, tentu semua orang senang diterima apa adanya. Apabila yang diterima ialah sisi baik dari kepribadian, tentu kita sudah terbiasa karena semua orang pasti menyukainya. Namun, bagaimana dengan sisi gelap? Tidak semua orang mengetahui. Bahkan, yang mengetahui pun belum tentu bisa menerimanya. Misalnya, tidak semua orang tua dapat menerima jika anaknya memiliki nilai jelek di sekolah. Ironis? Ya, tapi itulah kenyataan.

Sisi Gelap sebagai Pelekat Hubungan

Sisi gelap dapat berfungsi sebagai pelekat hubungan interpersonal dengan siapapun, tanpa kecuali. Tidak hanya dalam hubungan romantis, sisi gelap sebagai pelekat hubungan juga efektif dalam hubungan persahabatan. Coba bayangkan, betapa bahagianya dirimu apabila ada orang di dunia ini yang mau menerima sisi gelapmu? Pasti sangat bahagia, bukan? Namun, kita perlu mencari orang terdekat yang mau menerima kekurangan pada diri kita. Orang terdekat belum tentu berarti orang yang paling banyak menghabiskan waktu denganmu. Orang terdekat ialah orang yang apabila kamu bersama dengannya, maka waktu yang berjalan terasa sangat berharga. Jangan pernah ragu untuk membuka diri dengan orang terdekat dalam hidupmu. Jangan pernah ragu pula untuk mau menceritakan sisi buruk yang kamu miliki kepadanya.

Dia Menantimu Untuk Bercerita Sisi Gelap dalam Dirimu

Mungkin, ada rasa takut untuk menceritakan sisi gelapmu kepada orang yang kamu cintai. Alasan rasa takut tersebut dapat bermacam-macam, tergantung dari karakteristik setiap individu. Namun, alasan terbesar yang membuat rasa takut muncul ialah karena takut dia tidak mau menerima sisi gelapmu, sehingga menjauhi dirimu. Oleh karena itu, mari kita pikirkan dengan seksama, apakah rasa takut itu memanglah benar, atau hanya prasangka belaka?

Sekarang, coba kita balik posisinya. Bayangkan, orang yang kamu cintai menceritakan sisi gelapnya kepada dirimu. Sudah? Apa yang kamu rasakan? Tentu, kamu merasa senang karena merasa dipercaya oleh orang yang kamu cintai. Jika “dia” adalah orang yang benar-benar mencintaimu, bukankah dia juga akan merasa senang, karena merasa dipercaya olehmu?

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Readers Comments (2)

  1. Aren’t you too mean? By suggesting the idea of telling someone we loved about our shadows, doesn’t it mean we’re attaching ourselves to them so we can’t go anywhere else because they hold our top secret? Isn’t this like the hostage willingly create the Stockholm syndrome by themselves?

    Reply
    • Untuk Senorita,

      Bukan seperti itu maksudnya. Bukan berarti kita mencurahkan sisi gelap kita, lalu merasa ketergantungan dengannya. Yang perlu dilakukan ialah pengungkapan sisi gelap yang positif. Maksudnya, kita cari teman yang mampu berpikir progresif. Selalu menatap ke depan. Selalu tidak rela apabila dirimu berada di masa lalu.

      Kalau yang membuat ketergantungan, berarti berpikirnya masih kebelakang. Belum memikirkan perkembangan diri menuju kesuksesan dan potensi maksimal.

      Silakan dimaknai kembali. Senang berinteraksi dengan Anda.

      Reply

Leave a comment

Your email address will not be published.


*