fbpx

Turki: Apakah Sekuler berarti Mengingkari Tuhan?

Turki

Saat ini, Turki dikenal sebagai salah satu negara Islam termaju di dunia, baik oleh media lokal1https://jatim.sindonews.com/read/10480/1/daftar-10-negara-islam-paling-makmur-di-dunia-15575727392https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/negara-islam-paling-maju3https://www.dream.co.id/dinar/7-negara-muslim-paling-kompetitif-di-dunia-dimana-indonesia-140523e.htmlmaupun media luar negeri4https://defence.pk/pdf/threads/10-richest-muslim-countries-in-the-world-by-yahoo-finance.254614/5https://www.weforum.org/agenda/2015/07/top-9-countries-islamic-finance/. Perekonomian negara Turki berkembang begitu pesat jika dibandingkan dengan negara lain, misalnya Mesir. Di media-media yang telah dikutip di atas, tidak ada nama Mesir dalam negara Islam termaju di dunia.

Khalifah Utsmaniyah

Sebelum Turki sebagai negara republik berdiri pada 1923, daerah Turki merupakan bekas kerajaan Khalifah Utsmaniyah. Ketika masih sebagai kerajaan Khalifah Utsmaniyah, sesuai namanya, Turki mengadopsi sistem pemerintahan Kesultanan (Khilafah). Pada saat itu, Turki dikenal sebagai negara Islam dengan sistem pemerintahan “Islam” pula. 6https://id.wikipedia.org/wiki/Turki7Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY..

Pertumbuhan Negara Khalifah Utsmaniyah yang Lambat

Namun demikian, selama sekitar 2 abad terakhir, perekonomian Khalifah Utsmaniyah mengalami kemunduran yang luar biasa. Penyebab utama dari lambatnya perkembangan Khalifah Utsmaniyah ialah beberapa ajaran Islam yang tersebar pada masanya (mohon membaca tulisan yang ditebalkan sebagai satu kesatuan, jangan dipisah karena maknanya akan berbeda) yang bersifat terlalu kolot, kaku, dan dogmatis (Baca Juga: Pandangan Soekarno terhadap Islam di Indonesia). Selain itu, Khalifah Utsmaniyah juga memiliki dua kepala pemerintah yang terdiri dari kepala negara (semacam presiden) dan khalifah (raja). Kepala negara berfungsi mengatur sistem politik sebagai negara, sedangkan khalifah berfungsi mengatur sistem politik secara Islam. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang hendak diambil oleh Khalifah Utsmaniyah harus melalui persetujuan dari keduanya (kepala negara dan khalifah). Akibatnya, kebijakan yang diambil oleh negara berjalan dengan lambat karena kedua pimpinan negara harus mempertimbangkannya terlebih dahulu. Belum lagi jika ada ketidaksepakatan antara salah salah satunya, sehingga negara mengambil keputusan dengan sangat lambat dan pertumbuhan negara pun berjalan dengan lambat pula8Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY..

“Islam” (yang tersebar di sana) sebagai Penghambat Kemajuan Negara

Hambatan seringkali berasal dari khalifah yang memimpin ke-Islam-an di Khalifah Utsmaniyah. Khalifah dan para petingginya dinilai lambat untuk mendiskusikan hukum Islam dari suatu kebijakan. Mereka terlalu lama untuk mendiskusikan dosa atau tidak, halal atau haram atau makruh atau mubah, dan mencari literatur kitab klasik yang mungkin ajarannya sudah terlalu “basi” (tidak sesuai dengan zaman) karena ditulis beberapa abad yang lalu (Baca Juga: Kitab Klasik Bukanlah Kitab Suci). Mustafa Kemal Atatürk melihat fenomena ini sebagai hambatan perkembangan negara. Oleh karena itu, Mustafa Kemal Atatürk berupaya untuk memisahkan antara agama dengan negara di sistem pemerintahan. Oleh karena itu pula, Mustafa Kemal Atatürk dikenal sebagai tokoh sekularisme9Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY..

Turki sebagai Negara Republik

29 Oktober 1923, Mustafa Kemal Atatürk berhasil menjalankan tujuannya untuk memisahkan agama dengan negara di sistem pemerintahan dan mendirikan Turki sebagai negara republik. Berdirinya Turki sebagai negara republik memicu kontroversi pada zamannya, bahkan hingga saat ini. Pada saat itu, terdapat dua kelompok ekstrem di masyarakat Turki. Kemalis, sebagai kelompok mendukung gerakan sekularisme dan Islamis, sebagai kelompok yang menentang gerakan sekularisme10https://id.wikipedia.org/wiki/Turki.

Mustafa Kemal Atatürk Berupaya Menghancurkan Islam?

Sejak dahulu, bagaimana sikap Mustafa Kemal Atatürk terhadap Islam masih dipertanyakan, bahkan hingga saat ini. Ada yang bilang bahwa Mustafa Kemal Atatürk adalah muslim yang taat, ada yang mengkafirkan dan menuduhnya sebagai orang ateis, agnostik, dan anti-Islam11https://en.wikipedia.org/wiki/Mustafa_Kemal_Atatürk. Belum jelas mana yang benar. Belum jelas pula apakah keputusan Mustafa Kemal Atatürk dapat disebut “pro Islam” atau “kontra Islam” karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Pandangan Soekarno Atas Berdirinya Turki sebagai Negara Republik

Di tengah perbedaan yang ada. Presiden Pertama Republik Indonesia, Dr.(H.C.) Ir. Soekarno12Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY., memiliki pandangan yang menarik dan patut kita simak dengan seksama. Soekarno menilai bahwa keputusan untuk mendirikan Turki sebagai negara republik bukan berarti menghancurkan Islam. Soekarno menilai bahwa sekularisme di sistem pemerintahan Turki merupakan tindakan demi kebaikan Islam sendiri (Baca Juga: Apakah Hadis 100% Benar?).

Turki Akan Berkembang dengan Lebih Cepat

Dengan berdirinya Turki sebagai negara republik yang terdiri dari satu kepala pemerintah, keputusan yang dilakukan oleh negara akan berlangsung dengan cepat. Turki tidak perlu pertimbangan yang terlalu lama untuk memikirkan halal-haram atau dosa-tidak dosa suatu tindakan. Asalkan keputusan tersebut baik dan masuk akal untuk kepentingan negara, maka nilai-nilai Islam pasti terkandung di sana. Sesungguhnya Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kebaikan.

Islam Tidak Akan Hancur Begitu Saja

Sekularisme di sistem pemerintahan tidak akan membuat Islam hancur di Turki. Masyarakat akan tetap beragama Islam. Faktanya, pada 2016 tercatat bahwa 83% masyarakat Turki beragama Islam13https://id.wikipedia.org/wiki/Turki. Soekarno14Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY. menilai bahwa dengan dilepaskan Islam dari sistem pemerintahan, maka Islam akan tumbuh secara bebas, luas, dan terbuka terhadap zaman tanpa perlu ada intervensi dari negara. Dengan kata lain, Islam akan berkembang di mayarakat dan masyarakatlah yang akan mengembangkan Islam itu sendiri.

Turki vs Mesir

Ketika berdiri sebagai negara republik, Turki sering dibandingkan dengan Mesir karena sama-sama negara Islam, tetapi memiliki nuansa ke-Islam-an yang berbeda dan sistem pemerintahan yang berebeda pula. Turki sudah melepas tradisi lama dan mengikuti zaman modern, sedangkan Mesir masih berpegang teguh pada tradisi lamanya. Pada saat itu (sekitar tahun 1940-an), banyak ahli yang memberikan pendapat-pendapatnya. Di satu sisi, terdapat ahli yang menyebutkan bahwa Turki akan lebih berkembang. Di sisi lain, terdapat ahli yang menyebutkan bahwa Mesir akan lebih berkembang. Menyikapi kejadian tersebut, Soekarno15Soekarno. (2015). Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam. Bandung: SEGA ARSY. berkata: “Setiap orang boleh berpendapat, tetapi sejarah yang akan menjadi buktinya”

Turki Saat Ini

Saat ini, Turki dikenal sebagai negara Islam yang maju, lebih maju dibandingkan dengan Mesir. Zaman terus berkembang, teknologi baru terus lahir. Jika ingin maju dan mendominasi zaman, maka Islam haruslah mengikuti perkembangan zaman. Sejatinya, ajaran Islam sangatlah fleksibel karena Alquran memiliki sifat selalu mengikuti perkembangan zaman (Baca Juga: Kitab Tafsir Alquran: Haruskah Dipelajari?). Saat ini, ajaran Islam yang beredar hanyalah “abu” atau “arang”-nya, bukan “api”-nya yang menyala-nyala dan menerangi dunia. Indonesia (baik pemerintah maupun masyarakat) perlu mempelajari (bukan menjiplak) Turki sebagai negara Islam yang sukses dari sejarahnya.

The following two tabs change content below.
Henri Satria Anugrah
Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*